Serangan Terbaru Amerika ke Wilayah Iran Selatan Picu Kemarahan Teheran, Bukti Kemunafikan Washington

INBERITA.COM, Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangan militer di wilayah selatan Iran.

Pemerintah Iran bahkan menyebut operasi militer terbaru AS sebagai bukti “kemunafikan” Washington di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung.

Kementerian Luar Negeri Iran pada Selasa (26/5/2026) secara resmi mengecam serangan yang terjadi di Bandar Abbas, Provinsi Hormozgan, dalam dua hari terakhir.

Dalam pernyataannya, Teheran menilai langkah militer AS bertentangan dengan semangat penghentian konflik yang sebelumnya dibicarakan kedua negara.

“AS melakukan pelanggaran serius terhadap gencatan senjata di wilayah Hormozgan dalam 48 jam terakhir,” demikian pernyataan resmi Kemlu Iran yang dikutip laporan media internasional.

Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa seluruh dampak dari operasi tersebut menjadi tanggung jawab Amerika Serikat. Teheran menyebut tindakan Washington sebagai agresi yang tidak berdasar dan memperburuk situasi keamanan di kawasan Teluk.

“Iran memegang rezim AS bertanggung jawab atas seluruh konsekuensi yang timbul dari tindakan agresif dan tidak berdasar ini,” lanjut pernyataan tersebut.

Kecaman itu muncul setelah militer AS mengonfirmasi telah melakukan serangan terhadap sejumlah target militer di Iran selatan.

Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai langkah pertahanan diri untuk melindungi personel dan kepentingan Amerika di kawasan Timur Tengah.

Menurut penjelasan pihak AS, target operasi meliputi kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang diduga hendak memasang ranjau laut, serta lokasi peluncur rudal di wilayah pesisir selatan Iran.

Meski tidak menjelaskan detail lokasi dan skala kerusakan, AS menyebut operasi tersebut bersifat terbatas dan dilakukan di tengah situasi gencatan senjata yang masih berlangsung.

“Pasukan AS melakukan serangan bela diri di Iran Selatan hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran,” ujar juru bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins.

Pernyataan Washington justru memicu kemarahan lebih besar dari Teheran. Media pemerintah Iran, IRIB, menilai serangan itu memperlihatkan “itikad buruk dan kemunafikan” Amerika Serikat terhadap proses diplomasi yang sedang berjalan.

Pemerintah Iran menegaskan tidak akan tinggal diam apabila aksi serupa kembali dilakukan. Teheran menyebut hak membela diri merupakan bagian dari kedaulatan nasional yang tidak bisa ditawar.

“Iran tidak akan ragu untuk mempertahankan dirinya,” demikian pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran.

Situasi di lapangan sendiri dilaporkan sempat memanas setelah sejumlah ledakan terdengar di kawasan Bandar Abbas serta beberapa wilayah di sekitar Selat Hormuz pada Selasa dini hari.

Media lokal Iran melaporkan suara dentuman terdengar hampir bersamaan di beberapa titik strategis dekat jalur pelayaran internasional tersebut.

Bandar Abbas merupakan salah satu kota pelabuhan terpenting Iran sekaligus pintu utama aktivitas militer dan perdagangan di kawasan Teluk Persia.

Wilayah ini juga memiliki posisi strategis karena berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur distribusi energi dunia yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz selalu menjadi perhatian internasional karena berpotensi memicu gangguan besar terhadap pasokan energi dunia dan stabilitas ekonomi global.

Serangan terbaru ini terjadi ketika Washington dan Teheran sebenarnya tengah membuka ruang negosiasi baru terkait penghentian konflik serta pembahasan mengenai keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Sejumlah pengamat menilai operasi militer tersebut berisiko memperumit proses diplomasi yang sebelumnya mulai menunjukkan sinyal positif. Ketidakpercayaan antara kedua negara diperkirakan akan semakin dalam apabila eskalasi militer terus berlanjut.

Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan AS dan Iran memang berada dalam fase paling sensitif sejak konflik terbaru pecah pada awal tahun.

Bentrokan tidak langsung antara kedua pihak melibatkan kepentingan militer, keamanan energi, hingga pengaruh geopolitik di Timur Tengah.

Iran selama ini menuduh Amerika Serikat memperkuat kehadiran militer di kawasan dengan dalih menjaga stabilitas regional, sementara Washington menuding Teheran mendukung aktivitas milisi bersenjata yang mengancam kepentingan sekutu Barat di Timur Tengah.

Krisis terbaru juga memicu kekhawatiran baru di pasar global. Investor mulai mencermati kemungkinan terganggunya distribusi minyak apabila situasi di Selat Hormuz memburuk.

Selain berdampak pada keamanan regional, meningkatnya ketegangan AS-Iran juga dikhawatirkan memengaruhi harga energi dunia, jalur logistik internasional, hingga stabilitas perdagangan global yang saat ini masih dibayangi ketidakpastian ekonomi.

Hingga kini belum ada tanda-tanda kedua pihak akan menurunkan tensi dalam waktu dekat. Iran tetap bersikeras bahwa serangan AS merupakan pelanggaran nyata terhadap komitmen gencatan senjata, sementara Washington menilai operasi militer dilakukan demi melindungi pasukan dan asetnya di kawasan.