INBERITA.COM, Krisis geopolitik di Timur Tengah kembali memunculkan ancaman serius bagi perekonomian global. Salah satu negara yang diperkirakan akan menerima dampak paling besar adalah Inggris apabila penutupan Selat Hormuz berlangsung hingga awal atau pertengahan 2027.
Lembaga konsultan EY dalam laporan prospek ekonomi terbarunya memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi menyeret ekonomi Inggris ke dalam resesi.
Risiko tersebut muncul akibat terganggunya pasokan energi dunia yang dapat memicu lonjakan harga minyak, gas, serta inflasi secara signifikan.
Dalam skenario terburuk, EY memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Inggris hanya mampu tumbuh 0,5 persen sepanjang 2026 sebelum berbalik terkontraksi 0,2 persen pada 2027.
Perlambatan itu diperkirakan terjadi karena tekanan biaya energi yang semakin berat bagi pelaku usaha maupun rumah tangga.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global dikirim melalui kawasan tersebut.
Gangguan pada jalur itu tidak hanya memengaruhi negara-negara penghasil energi, tetapi juga negara pengimpor seperti Inggris yang masih bergantung pada stabilitas harga energi internasional.
EY menilai dampak ekonomi akan jauh lebih berat apabila penutupan berlangsung dalam jangka panjang. Inflasi Inggris diperkirakan dapat melonjak hingga 6,4 persen pada akhir 2026, jauh di atas target Bank of England (BoE).
Kenaikan harga energi diprediksi akan merembet ke berbagai sektor, mulai dari industri, transportasi, hingga kebutuhan pokok masyarakat.
Tekanan tersebut berpotensi mengurangi daya beli rumah tangga sekaligus meningkatkan biaya produksi perusahaan. Dalam situasi seperti itu, dunia usaha cenderung menunda ekspansi, sementara masyarakat memilih menekan konsumsi karena pengeluaran untuk kebutuhan dasar semakin besar.
Namun, EY juga menyampaikan skenario yang lebih optimistis apabila Selat Hormuz kembali dibuka pada kuartal III 2026.
Dalam kondisi tersebut, ekonomi Inggris diperkirakan masih mampu bertahan dengan pertumbuhan mencapai 0,9 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 1,2 persen pada 2027.
Skenario tersebut memberikan ruang bagi stabilisasi harga energi sehingga tekanan inflasi tidak sebesar perkiraan sebelumnya. EY memperkirakan inflasi hanya mencapai sekitar 3,5 persen sebelum kembali bergerak menuju sasaran bank sentral.
Kepala Ekonom EY Inggris Peter Arnold mengatakan ketahanan ekonomi Inggris sejauh ini masih lebih baik dibandingkan yang diperkirakan banyak pihak.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah tetap menjadi ancaman utama yang dapat mengubah arah pemulihan ekonomi.
“Jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam beberapa bulan mendatang, kami memperkirakan Inggris dapat menghindari penurunan ekonomi yang lebih tajam.
Namun, penutupan yang berlanjut hingga 2027 akan meningkatkan inflasi dan dapat mendorong ekonomi mengalami kontraksi pada tahun depan,” ujar Arnold.
Ketidakpastian tersebut juga memengaruhi kebijakan moneter. Bank of England saat ini mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen sambil terus memantau perkembangan inflasi dan pasar energi global.
Bank sentral bahkan memberi sinyal siap menaikkan suku bunga apabila konflik berkepanjangan memicu lonjakan harga yang lebih tinggi dari perkiraan.
Pada Juni 2026, inflasi indeks harga konsumen (CPI) Inggris tercatat sebesar 2,6 persen.
Sebelumnya, BoE memperkirakan inflasi akan mencapai puncak sekitar 3,2 persen pada akhir tahun sebelum kembali menuju target dua persen. Namun, proyeksi tersebut dapat berubah drastis apabila pasokan energi global terus terganggu.
Dampak lain yang diperkirakan muncul adalah melemahnya investasi dunia usaha. EY memangkas proyeksi investasi bisnis Inggris yang kini diperkirakan turun 0,7 persen sepanjang 2026.
Penurunan investasi mencerminkan meningkatnya kehati-hatian perusahaan dalam mengambil keputusan ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih bergerak terbatas. Belanja masyarakat hanya diproyeksikan tumbuh 0,3 persen pada 2026 sebelum meningkat menjadi 0,9 persen pada 2027.
Tingginya harga energi dan tertundanya penurunan suku bunga diperkirakan menjadi faktor utama yang menahan pemulihan daya beli.
Laporan EY menunjukkan bahwa dampak konflik geopolitik tidak lagi terbatas pada kawasan Timur Tengah.
Gangguan terhadap jalur distribusi energi dunia dapat memengaruhi stabilitas ekonomi negara-negara lain, termasuk Inggris, yang harus menghadapi risiko perlambatan pertumbuhan, inflasi tinggi, dan tekanan terhadap kesejahteraan masyarakat apabila krisis berlangsung lebih lama.