INBERITA.COM, Saham Apple Inc. melonjak tajam dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Senin (20/10), memperkuat posisinya sebagai salah satu raksasa teknologi dunia yang paling bernilai.
Valuasi perusahaan teknologi asal Cupertino itu kini mendekati angka US$4 triliun, menjadikannya kandidat kuat untuk menjadi perusahaan ketiga di dunia yang menembus tonggak historis tersebut.
Kenaikan saham Apple didorong oleh kinerja penjualan iPhone 17 yang mencatatkan hasil jauh di atas ekspektasi pasar, terutama di dua pasar kunci: Amerika Serikat dan China.
Berdasarkan data yang dirilis Counterpoint Research, penjualan iPhone 17 mengalami lonjakan sebesar 14 persen lebih tinggi dibandingkan pendahulunya, iPhone 16, dalam sepuluh hari pertama peluncurannya.
Capaian ini mencerminkan antusiasme konsumen yang masih sangat tinggi terhadap lini produk unggulan Apple, di tengah persaingan ketat industri smartphone global.
“Mereka meluncurkan versi terbaru dan hasilnya jauh lebih baik dari yang diperkirakan, tren permintaan kini bergerak positif,” ujar Art Hogan, Kepala Strategi Pasar B Riley Wealth, seperti dikutip Senin (20/10/2025).
Penjualan iPhone yang kuat ini menjadi katalis utama pergerakan saham Apple yang terus menguat di lantai bursa. Sentimen positif pasar terhadap performa produk anyar ini turut membalikkan tren negatif yang sempat membayangi Apple di awal tahun.
Tantangan Awal Tahun dan Titik Balik di Agustus
Pada paruh pertama 2025, saham Apple sempat mengalami tekanan akibat beberapa faktor eksternal. Salah satunya adalah ketatnya persaingan di pasar China, yang merupakan salah satu wilayah strategis bagi penjualan iPhone.
Selain itu, kekhawatiran atas potensi tarif tinggi dari pemerintah Amerika Serikat turut membebani prospek bisnis Apple secara global. Namun, Agustus 2025 menjadi momen penting bagi kebangkitan Apple.
Perusahaan mengumumkan komitmennya untuk melakukan investasi tambahan sebesar US$100 miliar di dalam negeri, sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat rantai pasokan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Langkah strategis ini dinilai mampu meredam kekhawatiran pasar terhadap dampak tarif tinggi yang diberlakukan oleh pemerintahan AS, sekaligus memperkuat posisi Apple sebagai perusahaan teknologi yang proaktif terhadap dinamika geopolitik dan ekonomi global.
Apple dijadwalkan akan mengumumkan laporan kinerja kuartalan pada 30 Oktober mendatang.
Analis memperkirakan, laporan tersebut akan mengonfirmasi tren positif yang sudah terlihat dari penjualan iPhone 17 dan memberikan gambaran lebih jelas tentang pertumbuhan pendapatan dan laba bersih perusahaan.
Kinerja kuartalan ini juga akan menjadi penentu penting bagi langkah Apple dalam mempertahankan momentumnya di tengah perlambatan global dan tantangan kompetitif dari merek-merek seperti Samsung, Huawei, dan Xiaomi.
Selain iPhone, pasar juga menantikan data pertumbuhan dari lini produk lain seperti Mac, iPad, layanan digital (Apple Music, Apple TV+, iCloud), dan wearable seperti Apple Watch. Dalam beberapa tahun terakhir, Apple memang terus melakukan diversifikasi portofolio produknya untuk mengurangi ketergantungan terhadap iPhone.
Dengan nilai kapitalisasi pasar yang kini nyaris menembus US$4 triliun, Apple semakin mendekati tonggak baru dalam sejarah pasar modal global. Sebelumnya, perusahaan pertama yang menembus valuasi US$3 triliun adalah Apple sendiri, disusul oleh Microsoft.
Valuasi Apple saat ini mencerminkan optimisme investor terhadap masa depan perusahaan, baik dari sisi inovasi teknologi, kekuatan merek, hingga daya tahan fundamental bisnisnya dalam menghadapi tantangan makroekonomi.
Kinerja cemerlang saham Apple juga menjadi sorotan pelaku pasar global karena mencerminkan kepercayaan tinggi terhadap sektor teknologi secara umum.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan gejolak geopolitik, saham-saham teknologi dengan basis konsumen kuat dan brand yang loyal tetap menjadi favorit investor.