Prabowo Sempat Tegur Perry Warjiyo Terkait Kurs Rupiah, Kini Beredar Kabar Purbaya Bakal Digeser Pimpin Bank Indonesia

INBERITA.COM, Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus berlanjut hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat tidak hanya menjadi persoalan ekonomi.

Di tengah gejolak pasar tersebut, muncul spekulasi politik dan kebijakan yang menyeret nama sejumlah pejabat penting di sektor keuangan nasional.

Perbincangan mengenai kemungkinan perubahan kepemimpinan di Bank Indonesia semakin ramai setelah beredar kabar bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut-sebut masuk dalam radar calon pengganti Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Isu itu berkembang seiring meningkatnya sorotan terhadap efektivitas langkah-langkah stabilisasi yang selama ini ditempuh otoritas moneter.

Situasi menjadi semakin sensitif karena pelemahan rupiah terjadi di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik.

Kenaikan dolar AS, ketidakpastian pasar keuangan internasional, serta tekanan terhadap arus modal negara berkembang membuat pergerakan mata uang nasional berada dalam kondisi yang tidak mudah.

Sebelum rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, Presiden Prabowo Subianto diketahui telah melakukan evaluasi langsung terhadap kondisi ekonomi nasional dalam rapat yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta pada awal Mei 2026.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu setengah jam tersebut, Presiden disebut mempertanyakan efektivitas kebijakan moneter yang dijalankan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar dan mengendalikan tekanan terhadap rupiah.

Saat itu, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp17.400 per dolar AS. Namun dalam beberapa pekan berikutnya, tekanan terhadap mata uang Garuda terus berlanjut hingga menembus level yang selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting bagi pasar.

Bank Indonesia sebenarnya telah menggelontorkan berbagai instrumen untuk menahan laju pelemahan. Mulai dari intervensi di pasar valuta asing, penguatan likuiditas dolar, hingga pengetatan pembelian valuta asing tanpa transaksi pendukung atau underlying transaction.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ketika itu menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia berada dalam posisi yang cukup kuat untuk mendukung stabilitas nilai tukar.

“Cadangan devisa kami lebih, cukup untuk melakukan stabilisasi rupiah,” ujar Perry dalam kesempatan tersebut.

Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga memperketat aturan pembelian dolar AS dengan menetapkan batas maksimal pembelian sebesar 25 ribu dolar AS per individu setiap bulan.

Langkah itu diambil untuk mengurangi tekanan permintaan valas yang dinilai berpotensi mempercepat pelemahan rupiah.

Meski demikian, pasar tampaknya belum sepenuhnya merespons positif kebijakan tersebut. Rupiah tetap bergerak melemah dan akhirnya menembus level Rp18.000 per dolar AS, memunculkan pertanyaan baru mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Di tengah kondisi itu, beredar informasi yang menyebut adanya pembahasan mengenai regenerasi kepemimpinan di Bank Indonesia. Nama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi salah satu figur yang dikaitkan dengan isu tersebut.

Menurut informasi yang beredar di kalangan pasar, pelemahan rupiah dianggap meningkatkan kerentanan terhadap stabilitas ekonomi dan berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Sumber yang disebut dekat dengan lingkungan pengambil kebijakan bahkan mengklaim terdapat perbedaan pandangan mengenai strategi intervensi pasar.

Perry disebut dinilai terlalu konservatif dalam merespons tekanan terhadap nilai tukar, sementara sebagian pihak menginginkan langkah yang lebih agresif untuk menjaga stabilitas rupiah.

Selain nama Purbaya, muncul pula informasi bahwa Thomas Djiwandono sempat disebut dalam sejumlah diskusi terkait kepemimpinan Bank Indonesia. Namun wacana tersebut dikabarkan tidak berlanjut karena pertimbangan persepsi pasar dan independensi bank sentral.

Terlepas dari berbagai spekulasi yang berkembang, hingga saat ini belum ada sinyal resmi dari pemerintah mengenai rencana pergantian Gubernur Bank Indonesia.

Baik Istana maupun otoritas terkait belum mengeluarkan pernyataan yang mengarah pada perubahan kepemimpinan lembaga moneter tersebut.

Purbaya sendiri langsung membantah kabar yang menyebut dirinya akan meninggalkan posisi Menteri Keuangan ataupun berpindah ke Bank Indonesia.

Saat dikonfirmasi wartawan mengenai rumor yang beredar, ia memberikan jawaban singkat namun tegas.

“Enggak benar lah,” kata Purbaya melalui pesan singkat, Kamis (4/6/2026).

Pernyataan itu menjadi respons pertama dari pihak yang namanya paling banyak disebut dalam spekulasi pergantian pimpinan BI. Bantahan tersebut sekaligus meredam berbagai rumor yang sempat memicu diskusi luas di kalangan pelaku pasar dan investor.

Meski isu pergantian jabatan belum terbukti, perkembangan ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan kurs.

Kondisi tersebut telah berkembang menjadi indikator yang turut memengaruhi persepsi publik terhadap efektivitas kebijakan ekonomi nasional.

Bagi pelaku pasar, stabilitas nilai tukar bukan hanya soal angka di layar perdagangan.

Rupiah yang terus melemah dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dunia usaha, hingga sentimen investasi. Karena itu, setiap sinyal yang berkaitan dengan arah kebijakan moneter dan kepemimpinan Bank Indonesia akan terus menjadi perhatian.

Dalam jangka pendek, fokus utama pasar kemungkinan tetap tertuju pada langkah Bank Indonesia dan pemerintah dalam mengembalikan kepercayaan investor serta menjaga stabilitas sektor keuangan. Sementara itu, isu pergantian pucuk pimpinan BI masih berada pada level spekulasi yang belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pihak berwenang.