INBERITA.COM, Sidang pleno IV Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) berubah ricuh akibat perdebatan sengit soal syarat calon ketua umum PBNU.
Kerusuhan pecah ketika massa aksi yang menuntut perubahan aturan jeda tunggu eks pejabat politik menerobos barikade keamanan di depan ruang sidang, pukul 13.40 WIB.
Spanduk robek, saling dorong terjadi, pintu ruang muktamar tertahan massa. Peristiwa ini bermula dari perdebatan dalam sidang penetapan tata tertib yang tak kunjung menemui titik temu.
Aspirasi untuk menghapus atau mengurangi masa jeda enam bulan bagi eks pejabat politik ditentang keras.
Aturan saat ini mewajibkan jeda satu tahun sejak berhenti dari jabatan politik untuk mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU.
Aturan ini dianggap menghambat calon potensial, termasuk Gus Yusuf yang baru saja mundur dari Ketua DPW PKB Jawa Tengah pada Februari 2026.
Sidang akhirnya diskors pukul 13.15 WIB. Hingga waktu tersebut, belum ada tanda-tanda akan dilanjutkan karena massa pendukung Gus Yusuf masih melakukan aksi demo di luar.
Rais Syuriah PCNU Kabupaten Tegal, Nawawi Ashari, menyatakan optimistis massa tidak akan berbuat anarkis. Ia menilai para demonstran adalah santri yang sadar akan batasan.
“Mereka tahu tidak akan bersikap anarkis seperti demo-demo yang kita lihat di sana,” ujar Nawawi, Minggu.
Ia menambahkan, aksi yang dilakukan merupakan bentuk kepedulian terhadap jalannya muktamar tertinggi NU.
Nawawi yakin seluruh peserta muktamar memiliki harapan sama. Mereka menginginkan muktamar berjalan lancar dan menghasilkan keputusan sesuai harapan.
“Kami berharap pemimpin yang mampu mengendalikan jamiyah besar di Indonesia ini,” tuturnya.
Meskipun situasi terkendali, Nawawi mendesak panitia segera mengurai kebuntuan.
“Kami minta dipertemukan dengan ketua panitia, Gus Ipul,” katanya. Ia menekankan, waktu muktamar sudah molor dan perlu kejelasan segera.
“Jatah waktu sudah sangat panjang. Harapannya ada solusi,” pungkas Nawawi.
Perdebatan syarat calon ketua umum PBNU menjadi sorotan utama Muktamar ke-35 NU. Massa aksi menuntut perubahan aturan jeda tunggu eks pejabat politik. Mereka menerobos barikade keamanan hingga terjadi kerusuhan di depan ruang sidang.
Sidang pleno IV yang semula berjalan tertib akhirnya diskors akibat kebuntuan. Peraturan saat ini menetapkan jeda satu tahun bagi eks pejabat politik untuk mencalonkan diri. Aturan ini dianggap menghambat calon potensial seperti Gus Yusuf.
Massa pendukung Gus Yusuf masih melakukan aksi demo hingga pukul 13.15 WIB. Nawawi Ashari, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Tegal, optimistis massa tidak akan berbuat anarkis.
Ia menilai para demonstran adalah santri yang sadar akan batasan. Aksi yang dilakukan merupakan bentuk kepedulian terhadap jalannya muktamar tertinggi NU.
Nawawi yakin seluruh peserta memiliki harapan sama. Mereka menginginkan muktamar berjalan lancar dan menghasilkan keputusan sesuai harapan.
“Kami berharap pemimpin yang mampu mengendalikan jamiyah besar di Indonesia ini,” ujarnya.
Meskipun situasi terkendali, Nawawi mendesak panitia segera mengurai kebuntuan.
“Kami minta dipertemukan dengan ketua panitia, Gus Ipul,” tegasnya.
Ia menekankan, waktu muktamar sudah molor dan perlu kejelasan segera.
“Jatah waktu sudah sangat panjang. Harapannya ada solusi,” pungkas Nawawi.
Kerusuhan di Muktamar ke-35 NU berawal dari perdebatan syarat calon ketua umum PBNU. Massa aksi menuntut perubahan aturan jeda tunggu eks pejabat politik.
Mereka menerobos barikade keamanan hingga terjadi saling dorong di depan ruang sidang.
Sidang pleno IV yang semula berjalan tertib akhirnya diskors pukul 13.15 WIB. Peraturan saat ini menetapkan jeda satu tahun bagi eks pejabat politik untuk mencalonkan diri. Aturan ini dianggap menghambat calon potensial seperti Gus Yusuf.
Massa pendukung Gus Yusuf masih melakukan aksi demo di luar ruang sidang. Nawawi Ashari, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Tegal, optimistis massa tidak akan berbuat anarkis.
Ia menilai para demonstran adalah santri yang sadar akan batasan. Aksi yang dilakukan merupakan bentuk kepedulian terhadap jalannya muktamar tertinggi NU.
Nawawi yakin seluruh peserta memiliki harapan sama. Mereka menginginkan muktamar berjalan lancar dan menghasilkan keputusan sesuai harapan.
“Kami berharap pemimpin yang mampu mengendalikan jamiyah besar di Indonesia ini,” ucapnya. Meskipun situasi terkendali, Nawawi mendesak panitia segera mengurai kebuntuan.
“Kami minta dipertemukan dengan ketua panitia, Gus Ipul,” katanya. Ia menekankan, waktu muktamar sudah molor dan perlu kejelasan segera.
“Jatah waktu sudah sangat panjang. Harapannya ada solusi,” tuturnya.
Muktamar ke-35 NU memasuki hari kritis dengan sidang pleno IV yang ricuh. Perdebatan sengit soal syarat calon ketua umum PBNU memicu massa aksi menerobos barikade keamanan. Kerusuhan pecah di depan ruang sidang pukul 13.40 WIB.
Spanduk robek, saling dorong terjadi, pintu ruang muktamar tertahan massa. Sidang akhirnya diskors pukul 13.15 WIB karena kebuntuan. Peraturan saat ini menetapkan jeda satu tahun bagi eks pejabat politik untuk mencalonkan diri.
Aturan ini dianggap menghambat calon potensial seperti Gus Yusuf. Massa pendukung Gus Yusuf masih melakukan aksi demo hingga waktu diskors. Nawawi Ashari optimistis massa tidak akan berbuat anarkis.
Ia menilai para demonstran adalah santri yang sadar akan batasan. Aksi yang dilakukan merupakan bentuk kepedulian terhadap jalannya muktamar tertinggi NU.
Nawawi yakin seluruh peserta memiliki harapan sama. Mereka menginginkan muktamar berjalan lancar dan menghasilkan keputusan sesuai harapan.
“Kami berharap pemimpin yang mampu mengendalikan jamiyah besar di Indonesia ini,” ujarnya. Meskipun situasi terkendali, Nawawi mendesak panitia segera mengurai kebuntuan.
“Kami minta dipertemukan dengan ketua panitia, Gus Ipul,” tegasnya. Ia menekankan, waktu muktamar sudah molor dan perlu kejelasan segera.
“Jatah waktu sudah sangat panjang. Harapannya ada solusi,” pungkasnya.
Sidang pleno IV Muktamar ke-35 NU berubah ricuh akibat perdebatan syarat calon ketua umum PBNU.
Massa aksi menuntut perubahan aturan jeda tunggu eks pejabat politik. Mereka menerobos barikade keamanan hingga terjadi kerusuhan di depan ruang sidang.
Sidang akhirnya diskors pukul 13.15 WIB karena kebuntuan. Peraturan saat ini menetapkan jeda satu tahun bagi eks pejabat politik untuk mencalonkan diri. Aturan ini dianggap menghambat calon potensial seperti Gus Yusuf.
Massa pendukung Gus Yusuf masih melakukan aksi demo di luar ruang sidang. Nawawi Ashari, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Tegal, optimistis massa tidak akan berbuat anarkis.
Ia menilai para demonstran adalah santri yang sadar akan batasan. Aksi yang dilakukan merupakan bentuk kepedulian terhadap jalannya muktamar tertinggi NU.
Nawawi yakin seluruh peserta memiliki harapan sama. Mereka menginginkan muktamar berjalan lancar dan menghasilkan keputusan sesuai harapan.
“Kami berharap pemimpin yang mampu mengendalikan jamiyah besar di Indonesia ini,” ucapnya.
Meskipun situasi terkendali, Nawawi mendesak panitia segera mengurai kebuntuan.
“Kami minta dipertemukan dengan ketua panitia, Gus Ipul,” katanya. Ia menekankan, waktu muktamar sudah molor dan perlu kejelasan segera.
“Jatah waktu sudah sangat panjang. Harapannya ada solusi,” tuturnya.