INBERITA.COM, Di tengah meningkatnya kritik publik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, cara Presiden Prabowo Subianto berkomunikasi dengan masyarakat kembali menjadi sorotan.
Bukan hanya substansi kebijakan yang diperdebatkan, tetapi juga gaya penyampaian pesan yang dinilai sebagian kalangan berpengaruh terhadap persepsi publik dan dinamika politik nasional.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi serius terhadap pola komunikasi politik yang selama ini dibangun.
Menurutnya, ketegangan sosial yang muncul belakangan ini tidak sepenuhnya dipicu oleh kebijakan yang dianggap kontroversial, tetapi juga oleh cara pemerintah menjelaskan dan merespons kritik masyarakat.
Dalam pandangannya, Presiden Prabowo bahkan disarankan untuk mengurangi intensitas pidato publik dalam beberapa waktu ke depan. Langkah tersebut, menurut Pangi, dapat membantu meredakan ketegangan yang berkembang di tengah masyarakat.
“Menurut saya, enggak usah Prabowo pidato dulu, 1-2 bulan ini pasti mereda negara ini. Yakin sama saya, berhenti Pak Prabowo itu pidato dua bulan ini,” kata Pangi saat dihubungi wartawan.
Ia bahkan berpendapat bahwa penghentian sementara aktivitas pidato presiden selama sepekan saja dapat memberikan dampak signifikan terhadap suasana politik nasional.
“Jangankan dua bulan, seminggu ini berhenti pidato, enggak ada orang demo lagi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya gelombang kritik terhadap pemerintah yang belakangan disuarakan berbagai kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa.
Sejumlah demonstrasi terjadi di beberapa daerah dengan tuntutan yang beragam, mulai dari persoalan ekonomi hingga evaluasi terhadap sejumlah program prioritas pemerintah.
Menurut Pangi, pemerintah seharusnya lebih fokus menghadirkan kebijakan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dibanding terus terjebak dalam polemik komunikasi politik.
Ia mencontohkan sejumlah langkah yang menurutnya dapat memberikan efek psikologis positif bagi publik, seperti menurunkan harga bahan bakar tertentu, memberikan keringanan biaya kesehatan, menurunkan tarif listrik, hingga merealisasikan janji pemotongan komisi aplikasi transportasi daring.
Dalam konteks tersebut, ia menilai masyarakat saat ini membutuhkan solusi konkret yang menyentuh kebutuhan sehari-hari. Karena itu, komunikasi yang berpotensi menimbulkan kontroversi justru sebaiknya diminimalkan.
“Presiden Prabowo berhenti untuk ngotot. Jangan maksa gitu aja. Jangan ngeyel,” kata Pangi.
Ia bahkan berpendapat bahwa sejumlah capaian pemerintah berpotensi tidak mendapatkan apresiasi yang layak apabila tertutupi oleh kontroversi komunikasi yang muncul berulang kali.
“Jangan-jangan Presiden Prabowo ini lebih banyak prestasi daripada Jokowi. Cuma ketika dia pidato, justru menghilangkan semua prestasi itu,” lanjutnya.
Kritik tersebut salah satunya merujuk pada pidato Presiden Prabowo dalam Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Bandar Lampung. Dalam kesempatan itu, Presiden menyinggung pihak-pihak yang kerap melontarkan kritik dan komentar negatif terhadap pemerintah.
Prabowo mengajak para pengusaha untuk tidak terpengaruh oleh suara-suara yang dianggap pesimistis terhadap masa depan Indonesia.
Ia menggunakan perumpamaan yang cukup populer dalam budaya politik Indonesia, yakni “anjing menggonggong, kafilah berlalu”, untuk menggambarkan pentingnya tetap fokus pada tujuan meski menghadapi kritik.
“Yang nyinyir-nyinyir, ingat ya, ajaran dari guru-guru kita, biar anjing menggonggong, kafilah tetap terus,” kata Prabowo dalam pidatonya.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menegaskan bahwa Indonesia berada di jalur yang benar menuju kemajuan. Ia mengingatkan bahwa sejak masa perjuangan kemerdekaan, selalu ada pihak yang meragukan kemampuan bangsa Indonesia untuk berkembang.
“Kita berada di jalan yang bener. Kita akan menuju kemenangan dan kehebatan saudara sekalian,” ujar Prabowo.
Namun, menurut Pangi, substansi pidato tersebut justru kalah menonjol dibanding ekspresi dan gaya penyampaiannya yang kemudian ramai diperbincangkan publik.
Ia menilai sejumlah pidato Presiden sering kali berkembang ke berbagai arah sehingga pesan utama yang ingin disampaikan menjadi kurang efektif diterima masyarakat.
“Saya ingatkan dari dulu, presiden kenapa pidatonya kok begini terus. Nggak terarah, liar, di luar kendali,” katanya.
Di sisi lain, Pangi membandingkan pendekatan komunikasi politik Prabowo dengan Presiden ketujuh RI, Joko Widodo.
Menurutnya, salah satu kekuatan utama Jokowi selama memimpin adalah kemampuannya menjaga hubungan emosional dengan masyarakat melalui komunikasi yang lebih sederhana dan mudah diterima publik.
Ia menilai keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari pembangunan fisik atau capaian program pemerintah, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan rasa tenang dan optimisme di tengah masyarakat.
“Prestasi negara itu adalah sejauh mana mereka punya kemampuan untuk menggembirakan hati rakyat. Menggembirakan hati rakyat itu bagian dari prestasi. Menjaga perasaan rakyat itu bagian dari kinerja,” ujarnya.
Meski demikian, pandangan tersebut tentu merupakan bagian dari analisis politik yang terbuka untuk diperdebatkan.
Dalam sistem demokrasi, gaya komunikasi setiap pemimpin memiliki karakteristik yang berbeda dan sering kali dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman, serta pendekatan kepemimpinan yang dianut.
Yang jelas, meningkatnya perhatian publik terhadap cara pemerintah berkomunikasi menunjukkan bahwa aspek komunikasi politik kini menjadi faktor yang semakin menentukan dalam membentuk persepsi masyarakat.
Di era media sosial dan arus informasi yang sangat cepat, setiap pernyataan pejabat publik dapat dengan mudah menjadi bahan diskusi, kritik, bahkan kontroversi.
Karena itu, selain menghadirkan kebijakan yang efektif, tantangan pemerintah saat ini juga terletak pada kemampuan menjelaskan arah kebijakan tersebut secara tepat kepada masyarakat.
Komunikasi yang jelas, terukur, dan mampu merangkul berbagai kelompok dinilai menjadi salah satu kunci untuk menjaga stabilitas sosial sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Perdebatan mengenai gaya komunikasi Presiden Prabowo kemungkinan masih akan terus berlangsung.
Namun satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa persepsi publik terhadap pemerintah tidak hanya dibentuk oleh apa yang dikerjakan, melainkan juga oleh bagaimana pekerjaan itu dikomunikasikan kepada rakyat.