Pasca-Bencana Besar, Netizen Nepal Marah China Diduga Gagal Berikan Peringatan Dini Banjir Mematikan

INBERITA.COM, Ribuan warga Nepal menjadi korban akibat banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah selatan negara itu.

Laporan terakhir menyebutkan 675 orang tewas, 2.498 hilang, dan 219 lainnya terluka. Bencana ini berawal dari wilayah otonomi Tibet, China, sebelum menerjang Nepal dengan dampak yang sangat parah.

Kerusakan parah terjadi di sepanjang jalur banjir. Lebih dari 18.700 relawan dikerahkan untuk operasi pencarian dan penyelamatan.

Jumlah korban terus meningkat sejak Rabu (26/8/2026) hingga Sabtu (29/8/2026), saat banjir melanda dua negara secara bersamaan.

Netizen Nepal marah karena China dianggap gagal memberikan peringatan dini. Tudingan ini muncul karena banjir bandang terjadi tanpa peringatan yang memadai. Media massa lokal dan warganet menyalahkan pemerintah China atas kelalaian tersebut.

China membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataan resmi, Kedutaan Besar China di Kathmandu menyebutkan telah terjadi komunikasi erat antara kedua negara.

Mereka juga menyebut pertemuan antar-lembaga pemerintah pada Mei 2026 sebagai bukti kerja sama yang telah berjalan.

Namun, pejabat senior Nepal mengungkapkan kerumitan dalam memperoleh informasi dari China.

Mereka menilai mekanisme pertukaran data bencana lintas negara seharusnya sudah dibentuk sejak lama. Meningkatnya frekuensi bencana di wilayah Himalaya menjadi alasan utama.

Setelah bencana terjadi, Nepal mulai menerima pembaruan rutin dari China. Informasi tersebut meliputi citra drone dan satelit yang membantu pemantauan wilayah terdampak. Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, mengakui kerja sama semakin intensif pascabencana.

“Sejak bencana ini terjadi, kami menjalin koordinasi, kerja sama, dan komunikasi yang sangat erat dengan pihak berwenang China,” ujar Khanal.

Ia juga menegaskan keterbukaan China dalam berbagi data dan informasi sejak kejadian.

Khanal menambahkan bahwa sifat banjir yang mendadak membuat tidak ada pihak yang memiliki gambaran utuh sebelumnya. Ia menyebutkan wilayah perbatasan di kedua sisi mengalami kerusakan parah akibat bencana tersebut.

China menyatakan bahwa runtuhnya gunung es di Himalaya memicu banjir bandang. Namun, pemerintah setempat mengaku tidak dapat memperkirakan kejadian tersebut. Pernyataan ini dikeluarkan untuk menepis tuduhan kelalaian.

Mekanisme pertukaran informasi lintas negara disebut-sebut sebagai solusi. Kedua negara sepakat untuk memperkuat kerja sama dalam pengelolaan bencana. Namun, implementasi nyata masih menjadi perdebatan.

Korban jiwa terus bertambah sejak hari pertama bencana. Laporan resmi menyebutkan 675 orang meninggal, sementara 2.498 lainnya masih dinyatakan hilang.

Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan berlanjutnya operasi pencarian.

Pemerintah Nepal mengerahkan ribuan relawan untuk membantu korban. Upaya ini melibatkan berbagai lembaga, termasuk otoritas pengurangan risiko bencana nasional. Mereka berharap dapat menemukan lebih banyak korban yang selamat.

Bencana ini juga menimbulkan kerugian material yang sangat besar. Infrastruktur di wilayah terdampak mengalami kerusakan parah. Jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya tak luput dari terjangan banjir.

Wilayah otonomi Tibet menjadi titik awal banjir bandang. China mengakui bahwa wilayah mereka juga terdampak, meski tidak separah Nepal. Kerusakan di perbatasan kedua negara menjadi bukti betapa luasnya bencana ini.

Pertemuan antar-lembaga pada Mei 2026 disebut sebagai langkah awal kerja sama. Hasil pertemuan tersebut melahirkan rencana pertukaran informasi bencana. Namun, implementasi nyata baru terlihat setelah bencana terjadi.

Khanal menekankan pentingnya transparansi dalam penanganan bencana. Ia berharap kerja sama dengan China dapat terus ditingkatkan. Tujuannya, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Sementara itu, warga Nepal masih berjuang untuk bangkit dari dampak bencana. Bantuan internasional mulai mengalir, namun kebutuhan masih sangat besar. Mereka membutuhkan dukungan dalam bentuk logistik, medis, dan pemulihan ekonomi.

Pemerintah setempat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Ancaman banjir susulan masih mungkin terjadi. Mereka juga meminta warga untuk tidak memasuki wilayah yang berisiko tinggi.

Bencana ini meninggalkan pelajaran berharga bagi kedua negara. Kerja sama lintas batas menjadi kunci dalam menghadapi bencana alam. Tanpa koordinasi yang baik, dampaknya bisa semakin meluas.

Kini, fokus utama adalah penyelamatan korban dan pemulihan pascabencana. Upaya ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik lokal maupun internasional. Semua berharap tragedi ini tidak terulang di masa depan.