INBERITA.COM, Polisi tengah menyelidiki empat tersangka yang terlibat dalam aksi kontroversial menantang pengunjung untuk menghafal surah Alquran demi mendapatkan hadiah minuman keras di tengah festival musik.
Salah satu tersangka bahkan mengenakan kostum dengan penutup kepala bertanduk, menambah dramatisasi dalam insiden yang kini viral di media sosial. Laporan media menyebutkan bahwa aksi tersebut terjadi di booth Newport dalam acara The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara, pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Ketiga tersangka utama diketahui berada dalam kondisi mabuk akibat konsumsi minuman keras sebelum melakukan tantangan tersebut.
Mereka tidak hanya menawarkan hadiah berupa satu botol miras kepada pengunjung yang mampu menghafal surah Al-Ikhlas, tetapi juga melontarkan tantangan serupa untuk surah Ad-Duha dan doa Bapa Kami.
Polisi kini mendalami peran masing-masing tersangka, termasuk MC yang bertindak sebagai pendukung dalam aksi tersebut.
Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin, mengungkapkan bahwa para pelaku melakukan tantangan tersebut semata-mata untuk menguji keberanian pengunjung. Ia menegaskan bahwa tidak ditemukan bukti adanya perencanaan atau skenario yang disiapkan sebelumnya.
“Dari keterangan saksi maupun tersangka, seluruhnya menyatakan aksi yang sifatnya spontan dan menguji keberanian,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang diunggah di platform media sosial.
Keempat tersangka yang telah ditetapkan oleh polisi adalah RES (Revnaldo Ega Siahaan) sebagai MC, I sebagai pengunjung yang memberi tantangan, AK sebagai pengunjung lain yang turut memberi tantangan, serta M yang menerima tantangan untuk membaca surah Ad-Duha.
Kombes Pol Iman menambahkan bahwa ketiga orang tersebut berada di bawah pengaruh alkohol, yang diduga menjadi pemicu tindakan mereka.
“Sebagian terpengaruh oleh minuman keras akibat konsumsi miras,” jelasnya.
Polisi juga tengah mendalami respons psikologis para tersangka melalui bantuan ahli. Mereka berupaya mengukur sejauh mana pengaruh alkohol dan keadaan emosional saat tindakan dilakukan.
“Kami sedang melakukan pendalaman dengan mendatangkan psikolog untuk mengukur respon tersangka saat melakukan tantangan tersebut,” ungkap Kombes Pol Iman.
Langkah ini diambil untuk memahami motif di balik aksi yang dinilai tidak hanya melanggar norma agama, tetapi juga melibatkan unsur pameran kekerasan simbolik.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat seorang pria berbaju hitam dengan penutup kepala bertanduk menawarkan hadiah miras kepada siapa pun yang mampu membaca surah Al-Ikhlas.
Ia terdengar berkata, “Yang bisa Al-Ikhlas maju, gua bayarin satu botol, ayo maju.”
Tak lama setelah itu, seorang wanita berbaju putih turut menantang pengunjung untuk membaca surah Ad-Duha dengan iming-iming hadiah serupa. Ia berkali-kali mengulangi kata-katanya,
“Yang penting balance. Yang bisa Ad Duha, bang, bang, gua bayarin satu botol.”
MC yang terlibat, RES, juga ikut serta dalam memberikan tantangan dengan menawarkan hadiah miras kepada siapa pun yang mampu menghafal doa Bapa Kami.
Ia terlihat berkata, “Siapa yang bisa hafalan doa Bapa Kami dapat 1 botol free.”
Aksi ini semakin mencoreng citra festival musik yang seharusnya menjadi ajang hiburan positif.
Polisi kini fokus pada upaya mengungkap motif di balik tindakan yang dinilai tidak hanya tidak bertanggung jawab, tetapi juga merendahkan nilai-nilai agama.
Kasus ini memunculkan pertanyaan serius mengenai pengawasan dalam acara publik, terutama yang melibatkan konsumsi alkohol. Festival musik dengan ribuan pengunjung seharusnya memiliki protokol ketat untuk mencegah perilaku yang dapat menyinggung masyarakat.
Selain itu, insiden ini juga menyoroti pentingnya edukasi mengenai dampak konsumsi minuman keras terhadap perilaku dan pengambilan keputusan.
Polisi berjanji untuk terus mendalami kasus ini hingga tuntas, termasuk mengevaluasi peran masing-masing pihak yang terlibat. Mereka juga berencana untuk menindaklanjuti temuan-temuan baru yang mungkin muncul selama proses penyidikan.
“Kami akan memastikan bahwa keadilan ditegakkan sesuai dengan hukum yang berlaku,” tegas Kombes Pol Iman.
Sementara itu, masyarakat menantikan klarifikasi lebih lanjut dari pihak penyelenggara acara mengenai langkah-langkah yang akan diambil untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi tidak boleh melampaui batas-batas norma sosial dan agama yang berlaku.