Nasib Putra Musisi Legendaris Berubah Drastis, Calvin Dores Depresi karena Ekonomi, Ingin Jual Bola Mata Demi Anak

INBERITA.COM, Nama Calvin Dores mendadak ramai diperbincangkan publik setelah unggahannya di media sosial memicu keprihatinan banyak orang.

Putra mendiang musisi legendaris Deddy Dores itu secara terbuka mengaku berniat menjual salah satu bola matanya demi memenuhi kebutuhan masa depan keluarga, terutama anak-anaknya.

Pernyataan tersebut bukan sekadar luapan emosi sesaat. Saat dikonfirmasi awak media, Calvin membenarkan bahwa dirinya memang berada dalam tekanan ekonomi yang berat hingga memikirkan langkah ekstrem tersebut.

Ia menegaskan keputusan itu bukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari semata, melainkan demi menyiapkan masa depan anak-anaknya agar tidak mengalami kehidupan sulit seperti yang kini ia rasakan.

“Ya saya bukan buat kehidupan sehari-hari, tapi lebih uang buat masa depan anak. Makanya saya mau jual mata saya ini,” ujar Calvin saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (17/5/2026).

Pengakuan Calvin langsung menyedot perhatian publik karena latar belakang keluarganya. Deddy Dores semasa hidup dikenal sebagai salah satu musisi besar Indonesia yang punya pengaruh kuat di industri musik Tanah Air.

Nama almarhum melejit sebagai pencipta lagu, produser, sekaligus sosok di balik kesuksesan sejumlah penyanyi populer era 1990-an, termasuk Nike Ardilla dan Nafa Urbach.

Namun kehidupan yang dijalani Calvin saat ini jauh dari bayangan publik tentang keluarga musisi ternama. Ia mengaku tidak menerima warisan harta berlimpah dari sang ayah. Sebaliknya, ia harus berjuang sendiri menghadapi kerasnya biaya hidup di Jakarta.

Menurut Calvin, kondisi itu membuatnya kerap merasa gagal sebagai kepala keluarga. Ia mengaku sedih ketika membandingkan masa kecilnya yang berkecukupan dengan kehidupan anak-anaknya sekarang.

“Udah bulat Mas, karena saya gak mau melihat istri dan anak saya kesusahan,” ucapnya.

Calvin mengatakan selama ini dirinya tetap bekerja dan berusaha bertahan lewat berbagai cara. Ia masih menjual lagu dan mencoba mencari pemasukan dari dunia kreatif yang ditekuninya sejak lama. Namun pendapatan yang tidak stabil disebut tak mampu mengejar kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Di tengah tekanan tersebut, Calvin memilih tidak menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain.

Ia mengaku beberapa rekan sesama musisi dan pencipta lagu sempat mencoba menenangkan dirinya agar tidak mengambil langkah nekat. Bahkan sejumlah tokoh disebut turut menghubunginya setelah unggahan itu viral.

Meski begitu, Calvin bersikeras tidak ingin meminta bantuan secara terbuka.

“Saya bukan tipikal orang yang minta-minta. Saya enggak mau merepotkan banyak orang, enggak mau dikasihani,” katanya.

Pernyataan itu memunculkan diskusi luas di media sosial mengenai tekanan ekonomi yang dialami sebagian masyarakat perkotaan.

Banyak warganet menilai kisah Calvin memperlihatkan bahwa status sebagai anak figur publik tidak selalu menjamin kehidupan yang mapan.

Selain dikenal sebagai putra Deddy Dores, Calvin memang cukup aktif di dunia digital dan bisnis kecil-kecilan.

Ia pernah menjalankan usaha otomotif berbasis online serta aktif di kanal YouTube pribadinya. Namun berbagai usaha tersebut disebut belum mampu memberikan kestabilan finansial bagi keluarganya.

Sebelumnya, Calvin juga pernah bercerita mengenai kondisi ekonomi keluarga setelah sang ayah meninggal dunia pada 2016 akibat penyakit jantung.

Dalam beberapa kesempatan, ia mengaku harus menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup, mulai dari menjadi pengemudi ojek online hingga pekerjaan kasar lainnya.

Situasi itu disebut membuat tekanan mental yang ia alami semakin berat. Calvin bahkan secara jujur mengaku berada di titik depresi dan kehilangan semangat menjalani hidup.

“Jujur, kondisi saya sekarang sudah depresi banget lah. Makanya saya mau jual mata. Saya sudah tahu seisi dunia seperti apa,” ungkapnya.

Ucapan tersebut menuai simpati sekaligus kekhawatiran dari publik. Banyak yang berharap Calvin mendapatkan bantuan psikologis maupun dukungan ekonomi agar tidak benar-benar mengambil langkah yang membahayakan kesehatannya.

Di sisi lain, kisah Calvin kembali mengingatkan bahwa persoalan kesehatan mental akibat tekanan ekonomi menjadi isu yang makin nyata di tengah masyarakat.

Beban kebutuhan hidup, tanggung jawab keluarga, dan ketidakpastian pekerjaan kerap mendorong seseorang pada keputusan impulsif.

Hingga kini, belum ada kepastian apakah niat Calvin tersebut benar-benar akan diwujudkan. Namun pengakuannya sudah lebih dulu memantik perhatian luas dan menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Calvin sendiri tampak masih berpegang pada prinsip untuk berjuang dengan caranya sendiri. Ia memilih mempertaruhkan kondisi fisiknya demi memastikan anak-anaknya memiliki masa depan yang menurutnya lebih layak.

“Kalau memang mata saya laku dan berguna biar orang bisa melihat, hubungi saya aja mau bayar berapa,” tuturnya pasrah.