Muhammad Hilmi, Pelaku Tendangan Brutal di Liga 4 Jatim, Dipecat PS Putra Jaya Pasuruan dan Terancam Larangan Main Seumur Hidup

INBERITA.COM, Insiden kekerasan kembali mencoreng wajah sepak bola nasional level bawah. Kali ini, pemain Perseta Tulungagung, Firman Nugraha, menjadi korban tendangan brutal dalam pertandingan Babak 32 Besar Liga 4 Zona Jawa Timur.

Aksi keras tersebut terjadi saat Perseta Tulungagung menghadapi PS Putra Jaya Pasuruan di Stadion Gelora Bangkalan, Madura, Jawa Timur, pada Senin (5/1/2026). Akibat insiden itu, Firman mengalami luka serius di bagian dada yang hingga kini masih menyisakan rasa nyeri.

Firman Nugraha harus menerima tendangan keras tepat di dada dari pemain PS Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar. Tendangan tersebut meninggalkan bekas sol sepatu yang tampak jelas di tubuh pemain Perseta Tulungagung itu.

Insiden ini terjadi saat pertandingan masih berlangsung dan langsung membuat Firman tersungkur di atas lapangan. Tim medis kemudian masuk ke lapangan untuk memberikan pertolongan pertama sebelum akhirnya Firman ditandu keluar guna mendapatkan perawatan lanjutan.

Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, kondisi Firman kini dilaporkan stabil dan dalam keadaan sadar. Ia tidak sampai harus dilarikan ke rumah sakit, namun tetap mendapatkan perawatan intensif di dalam ambulans yang disiagakan di area stadion.

Pelatih Perseta Tulungagung, Medi Radondo, memastikan anak asuhnya tersebut berada dalam kondisi aman setelah insiden tersebut.

“Alhamdulillah aman, sudah sehat kembali, tidak sampai dibawa ke rumah sakit, tapi dirawat di dalam ambulans,” kata Medi Radondo.

Namun demikian, Firman Nugraha mengakui bahwa dampak dari tendangan brutal tersebut masih ia rasakan hingga sekarang. Meski secara fisik terlihat cukup bugar, rasa sakit di bagian dada belum sepenuhnya hilang.

Ia juga menyinggung sikap pemain lawan yang dinilainya kurang menunjukkan itikad baik setelah kejadian tersebut.

“Sampai sekarang dada saya masih sakit, nyeri, sudah (meminta maaf), Tapi, agak tidak ada itikadnya,” ujar Firman, dikutip dari akun Emosi Jiwaku di Instagram.

Aksi Muhammad Hilmi Gimnastiar tersebut dengan cepat menyita perhatian publik sepak bola nasional. Insiden ini kembali membuka diskusi panjang mengenai maraknya tindakan tidak sportif dan kekerasan di kompetisi sepak bola Indonesia, khususnya pada level amatir dan semi-profesional.

Banyak pihak menilai bahwa insiden semacam ini berpotensi merusak citra kompetisi dan mengancam keselamatan para pemain.

Sorotan tajam juga datang dari PSSI. Ketua Komite Disiplin (Komdis) PSSI, Umar Husin, secara tegas menginstruksikan Panitia Disiplin (Pandis) Jawa Timur untuk tidak ragu menjatuhkan sanksi berat kepada pelaku pelanggaran keras dan brutal.

Menurutnya, hukuman tegas diperlukan sebagai bentuk efek jera serta upaya melindungi atlet dan keberlangsungan kompetisi.

“Kami mengimbau kepada teman-teman yang menjadi Panitia Disiplin atau berperan sebagai Komite Disiplin di semua tingkatan liga untuk tidak ragu-ragu menghukum pihak-pihak yang melakukan pelanggaran-pelanggaran yang keras, brutal, sehingga tidak mengganggu jalannya kompetisi,” tutur Umar Husin.

Lebih lanjut, Umar menegaskan bahwa Komite Disiplin di tingkat daerah maupun Panitia Disiplin harus berani mengambil keputusan tegas tanpa keraguan. Ia bahkan membuka kemungkinan sanksi terberat berupa larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup bagi pelaku kekerasan ekstrem.

“Jadi itu penegasannya, agar Komdis di tingkat daerah ataupun Pandis (Panitia Disiplin) itu bisa bertindak tegas tanpa ragu-ragu begitu,” ucapnya.

“demi melindungi olahraga, khususnya sepak bola dan atlet, terkait kejadian tersebut kami rasa harus dihukum seberat-beratnya, seperti larangan beraktivitas sepakbola seumur hidup,” tegasnya.

Sikap tegas juga ditunjukkan oleh manajemen PS Putra Jaya Pasuruan. Klub asal Pasuruan itu memutuskan untuk memecat Muhammad Hilmi Gimnastiar dari skuad tim.

Manajemen menilai tindakan Hilmi sudah melampaui batas dan tidak bisa ditoleransi, terlebih karena telah mencederai nilai-nilai fair play yang dijunjung tinggi dalam sepak bola.

Hilmi dinilai melakukan tendangan agresif yang membahayakan keselamatan pemain lawan. Insiden tersebut tidak hanya berdampak pada Firman Nugraha secara fisik, tetapi juga mencoreng nama baik klub PS Putra Jaya Pasuruan di mata publik sepak bola Jawa Timur dan nasional.

“Karena tindakannya yang tidak sesuai dengan dengan asas sepak bola, yaitu fair play dan menyalahi aturan koridor aturan sepak bola dengan melakukan tindakan kasar kepada lawan,” tulis pernyataan manajemen PS Putra Jaya Pasuruan.

Dalam pernyataan resminya, manajemen klub juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang dirugikan, terutama kepada Perseta Tulungagung sebagai tim lawan yang pemainnya menjadi korban.

“Kami selaku pengurus PS Putra Jaya juga meminta maaf kepada semua pihak atas perbuatan pemain kami terutama khususnya kepada tim Perseta 1970.”

Meski telah mendapatkan sanksi internal berupa pemecatan dari klub, Muhammad Hilmi Gimnastiar masih berpotensi menerima hukuman tambahan dari otoritas sepak bola. Komite Disiplin PSSI membuka peluang untuk menjatuhkan sanksi berat, termasuk larangan beraktivitas di lingkungan sepak bola dalam jangka waktu yang sangat panjang, bahkan seumur hidup.

Kasus tendangan brutal terhadap pemain Perseta Tulungagung ini diharapkan menjadi pelajaran penting bagi seluruh pelaku sepak bola di Indonesia. Penegakan disiplin yang konsisten dan tegas dinilai menjadi kunci untuk menekan aksi kekerasan di lapangan hijau serta menjaga keselamatan pemain di semua level kompetisi, termasuk Liga 4 Zona Jawa Timur.