Megahnya Monumen Reog Ponorogo, Ikon Baru yang Kalahkan GWK dan Siap Angkat Wisata Budaya Dunia

INBERITA.COM, PONOROGO – Kabupaten Ponorogo segera memiliki ikon baru yang siap menorehkan sejarah di dunia pariwisata Indonesia.

Monumen dan Museum Reog Ponorogo yang kini hampir rampung pembangunannya tampil megah dengan ketinggian mencapai 126 meter, menjadikannya lebih tinggi dari patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali yang setinggi 121 meter.

Kehadiran monumen raksasa ini bukan sekadar simbol kebanggaan daerah, tetapi juga menjadi penanda penting dari pengakuan dunia terhadap Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO.

Pengakuan tersebut ditetapkan pada 3 Desember 2024 di Asunción, Paraguay, dan menjadi momentum besar bagi masyarakat Ponorogo untuk memperkuat identitas budaya mereka sekaligus memperluas daya tarik wisata.

Monumen ini dibangun dengan skema pembiayaan Kerja Sama Pemerintah Daerah dan Badan Usaha (KPDBU).

Diharapkan, proyek monumental ini tidak hanya menjadi landmark baru Jawa Timur, tetapi juga pusat atraksi wisata budaya yang mampu menarik wisatawan dari seluruh penjuru tanah air hingga mancanegara.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan optimismenya terhadap pembangunan tersebut. Ia menilai kehadiran Monumen Reog Ponorogo akan menjadi poros baru kebangkitan ekonomi berbasis budaya.

“Saya berharap kita semua—kementerian, lembaga, pemerintah daerah, provinsi, kabupaten, dan masyarakat—bisa menghidupkan tempat ini menjadi ekosistem budaya, kantong budaya yang akan hidup dinamis, termasuk menghidupkan perekonomian budaya di sekitar museum. Saya kira ini menjadi ikon yang penting tidak hanya bagi Ponorogo tapi juga bagi dunia,” ujar Fadli Zon beberapa waktu lalu.

Fadli juga memberikan apresiasi khusus kepada Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko atas inisiatif berani membangun monumen yang begitu megah.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan terobosan besar dalam pelestarian budaya nasional di era modern, terlebih setelah Reog Ponorogo resmi mendapatkan pengakuan dunia.

“Kehadiran monumen yang megah ini bahkan tingginya 126 meter, lebih tinggi dari Garuda Wisnu Kencana. Ini akan menjadi ekosistem yang baik sehingga di lingkungan sekitar monumen, bahkan Ponorogo dan kabupaten/kota sekitarnya di Jawa Timur bisa menjadi destinasi wisata dan kuliner, tentu menghidupkan ekonomi budaya di Ponorogo,” kata Fadli.

Lebih dari sekadar monumen, proyek ini diharapkan menjadi pusat aktivitas budaya dan ekonomi kreatif masyarakat.

Dengan berdirinya Monumen dan Museum Reog Ponorogo, pemerintah menargetkan lahirnya kawasan wisata terpadu yang menggabungkan unsur edukasi, budaya, dan ekonomi lokal.

“Ini menjadi gotong royong semua pihak. Kalau sudah jadi semua, akan tumbuh menjadi wilayah yang banyak didatangi masyarakat luar Ponorogo maupun internasional yang ingin melihat Reog,” imbuh Fadli.

Kehadiran Monumen Reog Ponorogo juga menjadi simbol kebangkitan budaya nusantara di tengah arus globalisasi.

Dengan tinggi menjulang 126 meter, monumen ini tidak hanya menandingi skala kemegahan GWK, tetapi juga mengusung nilai filosofis yang kuat—menggambarkan kebanggaan, kekuatan, dan keindahan seni tradisional yang telah melewati lintas generasi.

Pembangunan yang hampir selesai ini langsung menarik perhatian publik. Dari kejauhan, struktur monumen sudah tampak megah dan mencolok, menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang melintas di kawasan Ponorogo.

Banyak warga dan pelancong mulai mengabadikan momen dengan latar pembangunan monumen yang kini menjadi simbol kebanggaan warga Bumi Reog.

Monumen Reog Ponorogo diharapkan mampu mendorong sektor pariwisata daerah tumbuh signifikan, menciptakan lapangan kerja baru, serta memperkuat posisi Ponorogo sebagai destinasi unggulan budaya Jawa Timur.

Selain itu, keberadaan museum di area monumen akan menjadi ruang edukasi bagi generasi muda tentang nilai-nilai filosofis Reog, sejarahnya, serta peran penting masyarakat Ponorogo dalam menjaga warisan budaya tersebut.

Langkah ini juga menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dapat menghasilkan karya monumental yang berdampak luas.

Bukan hanya meningkatkan pariwisata, tetapi juga memperkuat identitas budaya bangsa di mata dunia.

Dengan semakin dekatnya peresmian, harapan besar tumbuh di tengah masyarakat Ponorogo. Monumen ini diharapkan menjadi ikon global kebudayaan Indonesia, setara dengan landmark dunia lain seperti GWK di Bali atau Patung Liberty di Amerika Serikat.

Ketika tirai peresmian nanti dibuka, Monumen Reog Ponorogo tidak sekadar berdiri megah sebagai bangunan tertinggi di Jawa Timur, tetapi juga sebagai simbol kejayaan budaya lokal yang menembus batas global. (mms)