INBERITA.COM, Lebih dari satu juta warga Iran telah dimobilisasi untuk menghadapi kemungkinan serangan darat yang direncanakan oleh pasukan Amerika Serikat (AS), demikian laporan kantor berita Mehr pada Kamis (26/3), mengutip beberapa sumber yang terlibat dalam perkembangan ini.
Angka mobilisasi yang besar ini mencerminkan kesiapan Iran menghadapi eskalasi konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.
Pada Rabu, 25 Maret 2026, harian The Wall Street Journal, mengutip sejumlah anggota Kongres AS, melaporkan bahwa operasi darat yang melibatkan pasukan AS di Iran sudah direncanakan dan bisa segera dilaksanakan.
Informasi ini semakin memperburuk ketegangan yang sudah terjadi antara Iran dan aliansi AS-Israel, yang telah berlangsung sejak Februari lalu.
Menanggapi laporan tersebut, media militer Iran yang dikelola oleh Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyampaikan pernyataan yang cukup tegas melalui platform media sosial X pada Kamis (26/3).
Mereka menyatakan bahwa Iran siap menghadapi konfrontasi darat dengan pasukan AS.
“Kepada semua prajurit Amerika! Kami harap kalian telah diberi tahu bahwa #IRAN adalah tempat di mana para pejuang Palestina, Lebanon, Irak, dan Yaman melatih kemampuan tempur darat secara sangat profesional!” ujar pernyataan itu.
“Selamat datang di Iran, kawan!”
Pernyataan tersebut jelas menunjukkan bahwa Iran mempersiapkan diri untuk menghadapi potensi serangan darat yang dapat melibatkan tentara AS.
Iran tampaknya ingin menegaskan kepada dunia bahwa negara tersebut memiliki kekuatan militer yang signifikan dan siap bertempur di berbagai medan perang.
Ketegangan ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Serangan ini menimbulkan kerusakan signifikan dan merenggut nyawa sejumlah warga sipil.
Serangan tersebut awalnya diklaim oleh AS dan Israel sebagai “serangan pendahuluan” yang diperlukan untuk mencegah ancaman dari program nuklir Iran.
Namun, kemudian klaim tersebut berkembang, dengan tujuan yang lebih besar yaitu menggulingkan rezim yang berkuasa di Iran.
Pada hari pertama operasi militer AS-Israel, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut.
Kematian Khamenei menjadi pukulan telak bagi pemerintah Iran dan menambah eskalasi ketegangan antara Iran dengan AS serta sekutunya.
Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Iran kemudian mengumumkan masa berkabung selama 40 hari, menunjukkan betapa dalamnya dampak kematian sang pemimpin terhadap bangsa dan negara.
Kematian Khamenei tidak hanya mengundang kecaman dari dalam negeri Iran, tetapi juga memicu reaksi internasional.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengecam pembunuhan Khamenei dan menyebutnya sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Menurut laporan RIA Novosti yang dikutip oleh Sputnik, Rusia menilai bahwa serangan yang menewaskan pemimpin Iran tersebut adalah sebuah tindakan yang bertentangan dengan norma-norma hukum internasional yang berlaku.
Selain itu, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer gabungan AS-Israel dan menyerukan deeskalasi segera untuk menghentikan permusuhan yang terus berkobar.
Kondisi ini jelas semakin mengkhawatirkan banyak pihak, baik di kawasan Timur Tengah maupun di dunia internasional.
Potensi perang darat yang melibatkan pasukan AS di Iran berisiko menambah panjang konflik yang sudah menyebabkan banyak korban jiwa.
Tindak lanjut dari serangan ini, terutama setelah kematian Khamenei, akan menentukan arah perkembangan situasi di Timur Tengah.
Iran dengan jelas menunjukkan bahwa mereka tidak akan menyerah begitu saja dan siap menghadapi segala bentuk konfrontasi, termasuk serangan darat.
Di sisi lain, ketegangan ini juga membuka peluang bagi negara-negara besar lainnya, seperti Rusia, untuk terlibat dalam diplomasi guna mencari jalan keluar dari konflik yang semakin memburuk.







