INBERITA.COM, Sebuah video yang menampilkan seorang wanita memamerkan kartu anggota Bhayangkari saat razia lalu lintas viral di media sosial.
Aksi ini memicu kontroversi dan menjadi perbincangan netizen karena dianggap menunjukkan adanya perlakuan istimewa bagi istri polisi di jalan raya.
Dalam video yang tersebar luas, terlihat momen canggung saat pengendara lain sibuk mencari SIM dan STNK mereka ketika kendaraan mereka diperiksa.
Sementara itu, wanita tersebut justru mengeluarkan Kartu Anggota Bhayangkari, seolah memiliki “kartu sakti” yang bisa melewati prosedur tilang.
Situasi yang sempat membuat jantung penonton berdegup kencang ini terjadi saat razia kendaraan bermotor. Alih-alih menunjukkan surat kendaraan resmi seperti SIM dan STNK, ia memilih memperlihatkan kartu organisasi istri polisi tersebut.
Beberapa netizen menanggapi perbuatan ini dengan sindiran, menyamakan kartu itu dengan “Fast Track di Dufan” atau “Member Card diskon belanja” yang bisa digunakan untuk melewati antrean tilang.
Reaksi publik pun keras. Ribuan komentar pedas bermunculan di media sosial, menyoroti ketimpangan perlakuan hukum.
Sejumlah netizen menulis, “Hukum tajam ke bawah, tumpul ke kartu pink,” menggambarkan frustrasi masyarakat terhadap perlakuan istimewa oknum tertentu.
Aksi ini pun sempat mencoreng citra Polri yang tengah berupaya membangun kepercayaan publik dan citra profesionalisme di jalan raya.
Menanggapi viralnya video tersebut, sang ibu akhirnya membuat video klarifikasi. Dalam pernyataannya, ia tampil dengan wajah lebih tenang dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
“Saya meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi. Saya tidak bermaksud menyalahgunakan atribut Bhayangkari atau meminta perlakuan khusus,” katanya.
Meskipun demikian, publik masih mempertanyakan logika di balik aksi tersebut.
Netizen menyoroti, jika tidak meminta perlakuan istimewa, mengapa kartu tersebut dipamerkan saat razia, sementara SIM dan STNK yang sah bisa digunakan untuk mematuhi aturan?
Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi semua pengendara. Di jalan raya, kartu yang paling “sakti” tetaplah SIM dan STNK yang pajaknya hidup.
Menjadi istri polisi seharusnya juga menjadi contoh ketertiban dan kepatuhan hukum, bukan cara untuk mencari privilege atau bebas hambatan saat razia.
Aksi viral ini mengingatkan masyarakat bahwa aturan lalu lintas berlaku sama untuk semua orang, tanpa memandang status sosial atau hubungan keluarga dengan aparat penegak hukum.
Semoga ini menjadi pengalaman terakhir kartu Bhayangkari dipamerkan di tengah razia, kecuali untuk keperluan resmi seperti kartu e-Toll saat memasuki gerbang tol.
Dengan viralnya kasus ini, Polri pun diingatkan kembali pentingnya menjaga integritas dan citra di mata publik, sekaligus menekankan bahwa hukum di jalan raya tidak boleh diabaikan, bahkan oleh mereka yang dekat dengan institusi kepolisian.