Ketua Umum PBNU Baru: KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dari Jombang, Keponakan Gus Dur

INBERITA.COM, Ketika suara terakhir dihitung dalam Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, nama KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031.

Dengan dukungan 472 suara dari 552 pemilik suara, Gus Kikin mengungguli empat kandidat lain yang juga memiliki jejak panjang dalam organisasi terbesar di Indonesia itu.

Proses panjang yang dimulai dari tahap penjaringan hingga penetapan oleh Rais Aam dan Ahlul Halli wal Aqdi akhirnya berujung pada satu keputusan yang tak terbantahkan.

Empat nama lain yang bersaing dalam pemilihan itu adalah KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shohib alias Gus Salam, KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya, serta KH Abdul Ghofar Rozin alias Gus Rozin.

Mereka semua telah melalui serangkaian tahapan yang menjadi kewenangan Rais Aam dan AHWA sebelum akhirnya Gus Kikin ditetapkan sebagai pemimpin baru organisasi tersebut.

Sebelum memimpin PBNU, Gus Kikin dikenal luas sebagai Ketua PWNU Jawa Timur dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Ia juga tercatat sebagai putra KH Mahfudz Anwar, pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang, sekaligus cucu dari Nyai Hj Abidah Ma’shum.

Melalui garis ibunya, Gus Kikin merupakan keturunan langsung KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang meletakkan dasar-dasar organisasi ini lebih dari satu abad lalu.

Lingkungan pesantren sejak kecil membentuk Gus Kikin, mulai dari belajar kepada ayahnya di Pondok Pesantren Sunan Ampel hingga menimba ilmu di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak.

Pendidikan formalnya dimulai di Madrasah Ibtidaiyah Parimono, Jombang, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 2 di kota yang sama.

Setelah pendidikan menengah, ia memilih jalur yang tak biasa dengan menempuh pendidikan di bidang pelayaran sebelum akhirnya meraih gelar sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Terbuka.

Kiprahnya di Pesantren Tebuireng dimulai ketika ia dipercaya sebagai Wakil Pengasuh, mendampingi KH Salahuddin Wahid alias Gus Sholah.

Setelah Gus Sholah wafat pada 2020, Gus Kikin resmi menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng sebagai penerus generasi kedelapan sejak didirikan.

Di bawah kepemimpinannya, ia melanjutkan berbagai program pengembangan yang telah dirintis pendahulunya, termasuk perluasan fasilitas dan peningkatan kualitas pendidikan.

Keterlibatannya dalam organisasi NU semakin intens ketika pada 2024 ia terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur untuk masa khidmat 2024-2029.

Pemilihannya berlangsung dalam Konferwil NU Jawa Timur di Universitas Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, menegaskan dukungan luas terhadap kepemimpinannya.

Selama menjabat Ketua PWNU Jawa Timur, Gus Kikin aktif melakukan konsolidasi dengan pengurus NU di berbagai daerah, memperkuat jaringan organisasi.

Salah satu gagasan yang kerap disampaikannya adalah pentingnya kembali menjadikan Qanun Asasi sebagai pedoman perjalanan NU.

Menurutnya, Qanun Asasi yang dirumuskan KH Hasyim Asy’ari memiliki nilai strategis untuk menjadi rujukan organisasi dalam menghadapi perubahan zaman.

Gagasan ini juga menjadi salah satu alasan utama yang disebut dalam proses pengusungan Gus Kikin sebagai kandidat Ketua Umum PBNU. Perjalanan Gus Kikin menunjukkan perpaduan antara tradisi pesantren, pendidikan formal, dan kiprah organisasi yang membentuk karakternya.

Dari lingkungan pesantren di Jombang, ia kini memimpin organisasi terbesar di Indonesia dengan warisan sejarah yang tak ternilai.

Terpilihnya Gus Kikin menandai dimulainya era baru kepemimpinan PBNU yang akan membawa organisasi ini ke tahap berikutnya. Kini, seluruh mata tertuju pada bagaimana ia akan menerjemahkan visi dan misi organisasi ke dalam aksi nyata selama lima tahun ke depan.