Kesulitan Akses Darat di Aceh Tengah dan Bener Meriah, BNPB Andalkan Helikopter untuk Distribusi Bantuan

Akses Darat ke Aceh Tengah & Bener Meriah Masih SulitAkses Darat ke Aceh Tengah & Bener Meriah Masih Sulit
Progres Pemulihan Akses Jalan Aceh Tengah dan Bener Meriah, BNPB Beri Update Terbaru

INBERITA.COM, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa akses logistik ke wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, Provinsi Aceh, masih sangat terbatas. Hal ini diungkapkan oleh Abdul dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, pada Senin (22/12/2025).

Menurut Abdul, kesulitan akses ini berdampak pada distribusi bantuan yang memerlukan jalur udara untuk sampai ke daerah-daerah yang terisolasi.

“Untuk warga di daerah khususnya Aceh Tengah dan Bener Meriah saat ini akses daratnya masih sulit,” ujar Abdul.

Kondisi ini menyebabkan pemerintah dan pihak terkait harus mengandalkan jalur udara, yakni menggunakan helikopter, untuk mendistribusikan bantuan ke sejumlah titik pengungsian serta kawasan pegunungan yang sangat sulit dijangkau lewat darat.

Distribusi Bantuan Lewat Jalur Udara

Abdul menjelaskan bahwa setiap hari, koordinasi dengan pemerintah daerah setempat seperti camat, kepala desa, hingga Babinsa (Bintara Pembina Desa) dan Babinkamtibnas (Badan Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) sangat krusial dalam menentukan lokasi-lokasi yang membutuhkan bantuan logistik segera.

“Setiap hari, baik itu pemda, camat, kepala desa, Babinsa, Babinkamtibnas mengirimkan koordinat titik-titik pengungsian yang akan kita dropping melalui heli, melalui jalur udara,” katanya.

Proses distribusi bantuan melalui jalur udara dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Abdul juga menambahkan bahwa distribusi bantuan tidak hanya dilakukan sekali, namun dilakukan secara berkala.

“Setiap hari, sortie heli kita datang dan kita catat di satu titik. Kemudian akan kita dropping lagi satu atau dua hari berikutnya untuk me-refill cadangan makanan yang sudah didistribusikan pada hari sebelumnya,” jelasnya.

Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa bantuan logistik selalu tersedia bagi warga yang terdampak bencana dan sedang mengungsi di lokasi yang sulit dijangkau.

Distribusi logistik dengan helikopter ini dilakukan tidak hanya ke titik-titik pengungsian di kawasan yang akses daratnya terputus, tetapi juga ke daerah pegunungan yang jauh dari akses utama.

Bantuan yang dikirim meliputi berbagai kebutuhan dasar seperti makanan dan peralatan penting untuk keperluan sehari-hari.

Pemulihan Akses Jalan ke Aceh Tengah

Meski distribusi bantuan lewat udara menjadi alternatif utama, Abdul mengungkapkan bahwa pemulihan akses jalan terus dilakukan. Salah satu jalur penting yang sudah mulai menunjukkan perkembangan positif adalah jalur dari Nagan Raya menuju Aceh Tengah.

Menurut Abdul, akses jalan ini kini sudah dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat, sebuah perkembangan yang sangat berarti mengingat sebelumnya jalur ini hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja.

“Akses jalan dari Nagan Raya ke Aceh Tengah sudah mulai bisa dilewati oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Sebelumnya masih terbatas kendaraan roda dua,” ungkap Abdul.

Keberhasilan pembukaan jalur ini menjadi sangat penting karena selain memperlancar distribusi bantuan, jalur ini juga berfungsi sebagai alternatif lain menuju Aceh Tengah selain dari jalur Lintas Timur.

Selain jalur dari Nagan Raya, Abdul juga menyoroti progres pemulihan jalur transportasi utama yang menghubungkan Aceh Timur dan Aceh Barat.

Ada beberapa titik yang saat ini sedang dalam perbaikan, termasuk lima jembatan yang ada di wilayah Timur. Abdul menjelaskan bahwa target penyelesaian perbaikan jembatan-jembatan tersebut adalah sekitar 30 Desember 2025.

“Timur saat ini dua jembatan sudah dipulihkan dan masih terus dioptimalkan. Untuk dari Timur, ini masih dalam perbaikan jembatan. Ada 5 jembatan lagi yang sedang berjalan. Target (Kementerian) PUPR itu sekitar tanggal 30 Desember,” jelasnya.

Sementara itu, jalur Barat yang melintas melalui Celala dan jembatan Krueng Beutong juga mengalami perbaikan yang cukup signifikan.

Abdul menyebutkan bahwa progres pembangunan jembatan Krueng Beutong di wilayah Barat telah mencapai sekitar 75 persen dan diperkirakan akan selesai dalam waktu dekat.

“Kemudian Barat, ini juga sebagian besar sudah pulih. Untuk jalur dari Barat, salah satunya melalui Celala, ini akan melewati jembatan Krueng Beutong yang saat ini dalam proses sudah 75 persen,” ujarnya.

Proses pemulihan akses jalan dan infrastruktur lainnya di Aceh Tengah dan Bener Meriah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Namun, Abdul menekankan bahwa pemulihan jalan dan jembatan di wilayah tersebut masih akan terus dilakukan dalam beberapa waktu ke depan.

Upaya pemulihan ini merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk memastikan distribusi bantuan yang lebih lancar dan mengurangi kesulitan yang dialami oleh masyarakat yang terdampak bencana.

“Semua upaya pemulihan jalan terus dilakukan, agar masyarakat yang terdampak bisa lebih mudah mengakses bantuan logistik dan mobilitas masyarakat juga semakin lancar,” tambah Abdul.

Dengan adanya upaya-upaya tersebut, diharapkan distribusi bantuan logistik akan semakin efektif dan masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat segera mendapatkannya, baik melalui jalur udara maupun darat.

Pemerintah terus bekerja keras untuk memastikan bahwa semua daerah yang terisolasi akibat bencana dapat segera mendapatkan akses yang memadai. (*)