INBERITA.COM, Pengakuan mengejutkan datang dari asisten masinis KA Argo Bromo Anggrek yang terlibat dalam kecelakaan dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.
Dalam kondisi masih syok, petugas tersebut mengungkap adanya kejanggalan pada sistem persinyalan sesaat sebelum tabrakan terjadi.
Insiden yang terjadi pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.55 WIB itu masih menyisakan tanda tanya besar terkait penyebab pasti kecelakaan.
Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat seorang pria berpakaian masinis berada di luar rangkaian kereta, mencoba menjelaskan kronologi kejadian kepada warga dengan suara bergetar.
Ia menyebut bahwa dirinya sempat kebingungan dengan perubahan sinyal di jalur yang dilalui. Menurutnya, lampu sinyal tiba-tiba menunjukkan warna merah, kondisi yang dinilai tidak wajar dalam sistem operasional kereta api.
Petugas tersebut juga menegaskan bahwa tidak ada masalah komunikasi selama perjalanan menuju Surabaya Pasarturi. Ia membantah adanya kelalaian koordinasi antara petugas di lapangan dengan pusat kendali.
Menurut penuturannya, pihaknya memang sempat menerima informasi dari Pusat Kendali (PK) atau Operational Control Center (OCC) terkait insiden awal yang melibatkan KRL dengan sebuah kendaraan di perlintasan. Namun informasi tersebut belum sepenuhnya diterima ketika tabrakan terjadi.
“Tadi memang sempat infoin PK-nya tapi belum terima info sepenuhnya tiba-tiba saja sudah menabrak itu,” jelasnya seperti dimuat awak media dari unggahan X @txttransportasi.
Dalam kondisi masih terguncang, ia juga sempat terdiam saat menjelaskan kejadian tersebut. Ia mengungkapkan bahwa saat insiden terjadi, kereta melaju dengan kecepatan tinggi, mencapai sekitar 110 kilometer per jam.
Sementara itu, pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberikan keterangan resmi terkait kondisi penumpang. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa terdapat 240 penumpang di dalam KA Argo Bromo Anggrek saat kecelakaan terjadi.
Anne memastikan seluruh penumpang dalam kondisi selamat meskipun mengalami insiden serius tersebut.
“240 orang penumpang anggrek semua selamat,” jelasnya dalam keterangan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi Timur, Jawa Barat.
KAI juga langsung mengambil langkah cepat untuk menangani penumpang yang terdampak. Penumpang yang tertahan di lokasi kejadian akan dievakuasi dan diangkut menggunakan bus menuju Stasiun Gambir sebagai titik awal keberangkatan.
Keputusan ini diambil karena seluruh operasional kereta api antarkota dari Jakarta dihentikan sementara pascakecelakaan untuk alasan keselamatan dan penanganan darurat.
“Dan kami sudah menyiapkan bus untuk antarkan penumpang kembali ke Gambir karena hingga pada saat ini untuk semua operasi kereta api dari Jakarta Kami stop baik dari Pasar Senen ataupun Gambir,” jelasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kecelakaan bermula dari insiden di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur. Sebuah KRL dilaporkan menabrak taksi listrik sehingga terpaksa berhenti mendadak di jalur.
Situasi tersebut menyebabkan rangkaian KRL lain tertahan di area stasiun. Dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek yang melintas tidak dapat menghindari tabrakan dengan rangkaian KRL yang berada di depannya.
Benturan keras pun tak terelakkan, memicu kerusakan pada rangkaian kereta serta kepanikan di antara penumpang. Meski tidak menimbulkan korban jiwa dari penumpang KA jarak jauh, proses evakuasi tetap dilakukan secara intensif untuk memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan yang tepat.
Pihak KAI menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden tersebut. Mereka juga menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah penanganan korban serta pemulihan operasional kereta api.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh penumpang dan petugas mendapatkan penanganan secepat mungkin dan sebaik mungkin. Kami juga terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait di lapangan,” ujarnya.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan yang melibatkan dua rangkaian kereta tersebut masih dalam proses investigasi. Dugaan awal terkait gangguan persinyalan maupun dampak dari kecelakaan di perlintasan masih terus didalami oleh pihak berwenang.
KAI memastikan akan memberikan pembaruan informasi secara berkala seiring perkembangan penanganan dan hasil investigasi di lapangan.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya sistem keselamatan dan keandalan infrastruktur perkeretaapian, termasuk sistem persinyalan dan koordinasi operasional di jalur padat seperti Bekasi.
Insiden ini menjadi perhatian luas publik karena melibatkan moda transportasi vital yang digunakan jutaan orang setiap hari. Transparansi dalam investigasi serta langkah perbaikan ke depan menjadi hal yang dinantikan untuk mencegah kejadian serupa terulang.