Kapal Tongkang dan Muatan Batubaranya Terbakar di Perairan Sambelia Lombok Timur

INBERITA.COM, Sebuah insiden kebakaran melanda kapal tongkang yang mengangkut muatan batubara di wilayah perairan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Peristiwa darurat ini terjadi pada Jumat malam tanggal empat September tahun 2026.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Lombok Timur, Widayat, memberikan konfirmasi resmi kepada awak media pada hari Sabtu tanggal 5 September tahun 2026.

Pihaknya menyatakan telah menerima laporan darurat mengenai musibah kebakaran kapal tongkang di wilayah perairan Sambelia tersebut.

Respons cepat langsung diberikan oleh instansi berwenang dengan mengerahkan armada darat ke lokasi kejadian.

“Kami sudah menurunkan tiga mobil pemadam untuk bantu memadamkan api,” katanya.

Proses pemadaman menghadapi tantangan berat akibat kondisi geografis dan keterbatasan teknis di lapangan. Kendala utama yang dihadapi petugas adalah panjang selang pemadam yang tidak mampu menjangkau titik api.

Posisi kapal saat itu berada di area operasional perusahaan terkait untuk penanganan lebih lanjut.

“Lokasinya berada di PT LED saat ini dan tim berusaha untuk melakukan pemadaman,” katanya.

Asal-usul insiden bermula ketika kapal pengangkut tersebut memasuki jalur perairan Selat Jawa. Armada laut itu diketahui sedang melakukan perjalanan pengiriman logistik batubara dari Samarinda menuju Pulau Lombok.

Situasi pelayaran semakin memburuk akibat faktor alam yang tidak bersahabat selama di tengah lautan. Titik api pertama kali terdeteksi muncul pada bagian gundukan muatan batubara di atas kapal.

Kondisi cuaca saat itu sangat panas disertai gelombang laut yang cukup buruk bagi pelayaran. Menghadapi situasi berbahaya tersebut, nakhoda kapal mengambil keputusan strategis demi keselamatan pelayaran.

Pihak nakhoda berkoordinasi secara intensif dengan General Manager dan agen kapal untuk mencari daratan terdekat. Keputusan diambil agar kapal segera bersandar menuju Dermaga PT LED.

Langkah sandar darurat ini bertujuan mempercepat proses penanggulangan api dengan bantuan peralatan dari darat.

“Tujuannya agar proses pemadaman bisa dilakukan lebih cepat dengan dukungan dari darat. Namun, dalam musibah ini tidak ada korban jiwa melainkan korban material saja,” katanya.

Kepemilikan armada tongkang yang terbakar tersebut tercatat berasal dari PT Samarinda. Rangkaian perjalanan laut dari Samarinda menuju Lombok berujung pada insiden darurat di perairan NTB.

Konfirmasi lanjutan kembali disampaikan oleh Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Lombok Timur terkait pengerahan armada.

“Ya benar, kita sudah terjunkan tiga mobil pemadam untuk bantu memadamkan api,” katanya pada Sabtu (5/9/2026).

Pengerahan tiga unit mobil pemadam kebakaran darat ternyata belum sepenuhnya menyelesaikan masalah di lapangan. Hambatan teknis lanjutan kembali ditemukan oleh petugas yang beroperasi di sekitar dermaga.

Pihak pemadam kebakaran terus berupaya keras melumpuhkan titik api meskipun terkendala jarak jangkauan alat.

“Lokasinya beradi di PT LED saat ini sedangkan kita berusaha untuk melakukan pemadaman,” terangnya.

Dampak kerugian akibat peristiwa nahas ini difokuskan pada kerusakan barang muatan di atas kapal. Sebagian besar kerugian bersifat finansial karena rusaknya komoditas energi yang diangkut.

Meskipun kerugian material tidak dapat dihindari, aspek keselamatan jiwa manusia berhasil diselamatkan secara keseluruhan.

“Tidak ada korban jiwa, tapi batubara ikut terbakar,” tutupnya.

Evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan muatan batubara dalam pelayaran jarak jauh kini menjadi sorotan utama. Faktor cuaca ekstrem dan gelombang buruk terbukti memicu potensi bahaya spontan pada komoditas tambang.

Kerjasama antara nakhoda, manajemen perusahaan, dan petugas pemadam darat mencegah bencana yang lebih besar. Seluruh rangkaian penanganan darurat ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kecelakaan maritim.