INBERITA.COM, Kabut asap yang melintasi batas negara akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kini mulai mengancam kesehatan masyarakat Malaysia.
Dua wilayah di negeri jiran itu mencatat tingkat polusi udara yang membahayakan, menyusul tersebarnya asap tebal dari karhutla yang terjadi di Indonesia.
Menurut laporan awak media internasional, indeks polusi udara di distrik Serian, Sarawak, mencapai level 182 pada Senin (10/8).
Angka tersebut menempatkan kualitas udara di wilayah tersebut dalam kategori “sangat tidak sehat”, memaksa pemerintah setempat mengimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan.
Sementara itu, distrik Johan Setia di Selangor mencatat angka indeks polusi udara tertinggi di Semenanjung Malaysia, yakni 152 pada Senin siang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak kabut asap lintas batas tidak hanya dirasakan di wilayah tertentu, tetapi juga menyebar ke wilayah lain di Malaysia.
Wakil Menteri Perhubungan Sarawak, Henry Harry Jinep, mengakui bahwa masalah ini bukanlah insiden sekali waktu, melainkan terjadi hampir setiap tahun. Ia menegaskan bahwa sebagian besar sumber kabut asap berasal dari aktivitas di luar kendali Malaysia, khususnya dari Indonesia.
“Ini bukan masalah yang terjadi sekali waktu saja. Ini terjadi hampir setiap tahun, dan sebagian besar berasal dari seberang perbatasan karena aktivitas di luar kendali kami,” ujar Jinep.
Badan Meteorologi Malaysia memperingatkan bahwa cuaca panas dan curah hujan rendah akan berlangsung hingga Jumat (14/8) mendatang. Kondisi ini berpotensi memperburuk kualitas udara akibat kabut asap yang terus melintas dari Indonesia.
“Angin selatan dan banyaknya titik panas di negara tetangga berpotensi menyebabkan kabut asap lintas batas dan mengurangi jarak pandang, terutama di selatan Sarawak,” demikian pernyataan resmi badan tersebut.
Kabut asap lintas batas telah menjadi masalah rutin di kawasan Asia Tenggara, terutama di Malaysia dan Singapura, karena kedekatan geografis mereka dengan Indonesia. Masalah ini telah berlangsung sejak tahun 1970-an, dengan krisis terburuk terjadi pada 1997-1998 dan 2015.
Pada periode tersebut, puluhan orang meninggal dunia, sementara ribuan lainnya dirawat di rumah sakut akibat gangguan pernapasan dan jantung yang disebabkan oleh kabut asap karhutla.
Dampak kesehatan ini tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga meluas ke Malaysia dan Singapura.
Malaysia dan Singapura telah berulang kali menuding Indonesia lamban dalam menangani kasus karhutla. Meskipun demikian, Indonesia menegaskan bahwa petani bukanlah satu-satunya penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayahnya.
Karhutla yang terjadi di berbagai provinsi Indonesia, termasuk di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, telah menghanguskan 900 hektare lahan. Bencana ini bahkan memaksa penutupan akses wisata di kawasan tersebut untuk sementara waktu.
Sementara itu, aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan petani untuk mempersiapkan musim tanam sering kali menjadi sorotan.
Namun, pemerintah Indonesia berargumen bahwa karhutla juga disebabkan oleh faktor lain, seperti kondisi cuaca ekstrem dan aktivitas industri yang tidak bertanggung jawab.
Kabut asap lintas batas ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan pendidikan.
Di Malaysia, misalnya, beberapa sekolah terpaksa diliburkan sementara akibat tingkat polusi udara yang membahayakan.
Pemerintah Malaysia sendiri telah mengambil langkah-langkah preventif, seperti mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan dan menggunakan masker jika terpaksa berada di luar. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh kabut asap.
Sementara itu, Indonesia terus berupaya untuk menangani karhutla melalui berbagai program, termasuk patroli udara dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran ilegal. Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah mudah, mengingat luasnya wilayah yang terdampak.
Ketergantungan kawasan Asia Tenggara terhadap kondisi cuaca dan aktivitas manusia di Indonesia menjadikan kabut asap lintas batas sebagai masalah yang kompleks. Solusi jangka panjang diperlukan untuk mengatasi masalah ini secara efektif.