INBERITA.COM, Perayaan Iduladha di Lebanon tahun ini berlangsung di bawah bayang-bayang perang. Saat warga berusaha menjalankan ibadah dan berkumpul bersama keluarga, serangan udara Israel kembali mengguncang sejumlah wilayah di negara tersebut, memicu gelombang pengungsian baru dan memperdalam kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.
Sejak Rabu, serangan udara dilaporkan menghantam berbagai titik di Lebanon selatan hingga kawasan Bekaa di bagian timur.
Kota pesisir Tyre dan wilayah Nabatieh menjadi dua daerah yang paling terdampak setelah militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga sebelum melancarkan operasi militer.
Otoritas Israel menyatakan serangan itu ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur dan pusat komando Hizbullah. Namun di lapangan, dampaknya juga dirasakan masyarakat sipil yang terpaksa meninggalkan rumah mereka di tengah suasana hari raya.
Laporan dari Lebanon menyebutkan banyak warga yang berusaha mencari perlindungan di area yang dianggap lebih aman.
Namun kapasitas tempat penampungan dilaporkan tidak lagi mampu menampung seluruh pengungsi sehingga sebagian warga diarahkan menuju Beirut dan wilayah lain yang lebih jauh dari zona konflik.
Di Tyre, sejumlah ledakan terdengar setelah jet tempur Israel menyerang pinggiran kota. Warga yang sebelumnya masih berusaha merayakan Iduladha terpaksa berlarian menyelamatkan diri ketika peringatan serangan dikeluarkan.
Situasi semakin memanas setelah Hizbullah mengumumkan bahwa pasukannya terlibat bentrokan langsung dengan tentara Israel di wilayah Zawtar al-Sharqiyah, Lebanon selatan.
Kelompok tersebut mengklaim pertempuran terjadi di luar zona yang sebelumnya ditetapkan Israel sebagai area operasi militernya.
Menurut pernyataan Hizbullah, bentrokan berlangsung dalam jarak dekat ketika pasukan Israel berupaya memasuki kawasan strategis yang berada tidak jauh dari Kota Nabatieh.
Daerah tersebut dinilai penting karena menjadi jalur penghubung menuju sejumlah wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis dukungan kelompok tersebut.
Ketegangan terbaru ini muncul setelah pemerintah Israel mengumumkan rencana memperluas operasi darat di Lebanon. Langkah itu dilakukan menjelang pertemuan militer antara delegasi Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat guna membahas upaya penghentian konflik.
Di tengah eskalasi tersebut, laporan kerusakan terhadap fasilitas sipil dan keagamaan terus bermunculan.
Pada Jumat, serangan rudal dilaporkan menghantam Gereja Ortodoks Yunani Santo George di Provinsi Nabatieh. Bangunan gereja mengalami kerusakan cukup signifikan, termasuk bagian struktur utama dan area sekitarnya.
Tidak jauh dari lokasi tersebut, Sekolah Kristen Suster-Hati Kudus juga dilaporkan terdampak serangan. Sebagian bangunan sekolah mengalami kerusakan akibat ledakan yang terjadi di sekitar kawasan itu.
Peristiwa tersebut memicu kecaman dari pemerintah Lebanon. Perdana Menteri Nawaf Salam menyebut serangan yang menghantam sejumlah kota di Tyre dan Nabatieh sebagai bentuk hukuman kolektif yang bertentangan dengan hukum internasional dan berbagai konvensi kemanusiaan.
Menurutnya, operasi militer yang terus berlangsung tidak hanya mengancam keselamatan warga sipil, tetapi juga merusak situs bersejarah, tempat ibadah, dan fasilitas publik yang seharusnya dilindungi dalam situasi konflik bersenjata.
Sementara itu, korban jiwa akibat gelombang serangan terbaru terus bertambah. Laporan otoritas setempat menyebut sedikitnya puluhan orang tewas dalam beberapa hari terakhir.
Salah satu serangan di kawasan Burj al-Shemali bahkan menyebabkan kerusakan luas pada bangunan permukiman.
Tim penyelamat terlihat bekerja di antara reruntuhan untuk mengevakuasi korban dan mencari warga yang masih terjebak. Di sejumlah lokasi, keluarga korban berkumpul menunggu kabar anggota keluarganya yang belum ditemukan.
Konflik yang kembali memanas juga meningkatkan kekhawatiran terhadap wilayah Bekaa Barat. Kawasan ini selama ini dianggap sebagai jalur strategis yang menghubungkan Lebanon selatan dengan wilayah utara yang menjadi basis penting Hizbullah.
Sejumlah analis militer menilai wilayah tersebut berpotensi menjadi fokus operasi berikutnya jika eskalasi konflik terus berlanjut. Selain Bekaa Barat, pinggiran selatan Beirut juga disebut sebagai area yang berisiko menghadapi peningkatan tekanan militer dalam waktu dekat.
Meski gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu masih secara formal berlaku, berbagai serangan dan bentrokan yang terus terjadi menunjukkan rapuhnya kesepakatan tersebut. Hingga kini belum ada tanda-tanda kuat bahwa kedua pihak akan segera mencapai penyelesaian permanen.
Bagi warga Lebanon, situasi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan normal masih sulit terwujud.
Ketika sebagian besar dunia merayakan hari raya dengan penuh sukacita, banyak keluarga di Lebanon justru menghabiskan waktu mereka di pengungsian, berlindung dari suara ledakan yang kembali menghantui langit negara itu.