IMF Ungkap Sinyal Krisis Baru: Inflasi Naik, Ekonomi Dunia Melambat

INBERITA.COM, Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkapkan kekhawatiran atas kondisi perekonomian global yang mulai menunjukkan gejala perlambatan. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara IMF, Julie Kozack, dalam konferensi pers yang dikutip pada Jumat (3/10/2025).

Menurut Kozack, meski ekonomi global masih bertahan di tengah berbagai tantangan, tekanan dari tarif perdagangan dan penurunan permintaan ekspor telah memicu ketidakpastian dan mulai memengaruhi laju pertumbuhan.

“Kami melihat pertumbuhan global di paruh pertama tahun ini masih stabil. Tetapi, kini mulai terlihat tanda-tanda perlambatan,” ujar Kozack.

Ia menambahkan, beberapa indikator utama mengarah pada potensi perlambatan ekonomi di berbagai kawasan, termasuk Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia.

IMF mencermati bahwa salah satu pemicu utama dari situasi ini adalah kebijakan tarif impor yang belakangan diberlakukan di berbagai negara.

Di Amerika Serikat, tarif impor memang belum memberikan dampak signifikan terhadap inflasi secara keseluruhan, namun telah menyumbang pada kenaikan inflasi inti.

Beberapa perusahaan masih menyerap beban tarif tersebut untuk menjaga harga tetap stabil, namun Kozack mempertanyakan sejauh mana strategi itu dapat bertahan ke depan.

“Sejauh ini dampaknya pada inflasi AS relatif terbatas karena banyak perusahaan menyerap beban tarif. Pertanyaannya, sampai kapan itu bisa bertahan?” ucapnya.

Situasi inflasi yang dihadapi negara-negara besar pun beragam. Di Inggris, Australia, dan China, inflasi umum tercatat mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, negara-negara Asia lainnya, termasuk China, menghadapi tekanan inflasi yang lebih rendah. Menurut Kozack, hal ini disebabkan oleh penurunan permintaan ekspor yang melemahkan harga dan aktivitas industri, sekaligus meredam tekanan harga domestik.

Kondisi perdagangan internasional yang melambat juga turut memperburuk tekanan pada ekspor negara-negara berkembang, yang bergantung pada pasar global untuk mendukung pertumbuhan ekonomi mereka.

Ketidakpastian global, seperti tensi geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan perlambatan pertumbuhan di negara-negara mitra dagang utama, memperburuk kondisi tersebut.

Lebih lanjut, IMF akan merilis laporan terbaru World Economic Outlook pada 14 Oktober mendatang. Laporan ini akan mengulas lebih mendalam tentang dampak kebijakan tarif terhadap ekonomi Amerika Serikat serta tren inflasi global yang tengah berlangsung.

Di dalamnya juga akan disertakan proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi dunia, serta analisis atas risiko-risiko utama yang dihadapi perekonomian global.

IMF juga dijadwalkan untuk menerbitkan tinjauan tahunan terhadap kebijakan ekonomi Amerika Serikat melalui Article IV pada November 2025.

Dalam tinjauan tersebut, IMF akan mengevaluasi secara menyeluruh langkah-langkah fiskal, moneter, dan struktural yang diambil oleh Pemerintah AS untuk menghadapi tantangan ekonomi saat ini.

Kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat juga menjadi sorotan IMF. Kozack menilai bahwa pelemahan di sektor tenaga kerja menjadi alasan penting di balik keputusan Federal Reserve untuk memangkas suku bunga pada pertemuan bulan September lalu.

Langkah ini diambil sebagai bentuk respons terhadap perlambatan ekonomi domestik dan untuk memberikan stimulus tambahan guna mendorong konsumsi dan investasi.

Dalam konteks kebijakan moneter, keputusan The Fed tersebut mencerminkan perubahan sikap yang lebih akomodatif dalam menghadapi potensi resesi ringan dan melemahnya kekuatan beli masyarakat.

Melemahnya pasar tenaga kerja menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi domestik AS mulai kehilangan momentum, sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap daya beli dan konsumsi rumah tangga.

Di tengah situasi global yang kian menantang, IMF mengimbau negara-negara anggota untuk memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi, menjaga stabilitas fiskal, dan meningkatkan investasi produktif yang berkelanjutan.

Reformasi struktural dan penguatan institusi fiskal disebut sebagai kunci untuk menghadapi ketidakpastian jangka menengah hingga panjang.

IMF juga menyoroti pentingnya menjaga daya saing ekspor dan mendorong diversifikasi ekonomi, khususnya bagi negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada perdagangan internasional.

Dengan tekanan tarif dan melemahnya permintaan global, negara-negara ini diimbau untuk mencari pasar alternatif, meningkatkan efisiensi produksi, dan memperkuat konektivitas antarwilayah.

Sebagai penutup, IMF menekankan bahwa meski ketahanan ekonomi global masih terlihat di paruh pertama tahun 2025, sinyal perlambatan yang mulai muncul perlu direspons secara hati-hati dan cepat oleh seluruh pelaku kebijakan.

Fokus utama ke depan adalah menjaga kestabilan harga, memperkuat ketahanan fiskal, dan mendukung pertumbuhan inklusif melalui kebijakan yang adaptif dan berbasis data. (xpr)