Hotman Paris Bantah Kabar Baru Tantang Gelar Perkara Chromebook di Istana, Sekarang Sudah Bukan Kuasa Hukum Nadiem

Nadiem makarim saat masih didampingi hotman parisNadiem makarim saat masih didampingi hotman paris
Klarifikasi Hotman Paris soal Nadiem Makarim: Saya Sudah Bukan Kuasa Hukumnya

INBERITA.COM, Hotman Paris memberikan klarifikasi terkait statusnya dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook. Nadiem Makarim kembali menjadi sorotan setelah muncul klarifikasi terbaru dari Hotman Paris. Pernyataan Hotman Paris mengenai status kuasa hukum Nadiem ramai diperbincangkan publik.

Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea akhirnya buka suara terkait kabar yang menyebut dirinya masih menjadi kuasa hukum mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook.

Hotman menegaskan informasi tersebut tidak benar karena dirinya sudah tidak lagi mendampingi Nadiem secara hukum.

Klarifikasi itu muncul setelah pernyataan lama Hotman kembali beredar luas di media sosial dan memicu berbagai spekulasi publik.

Dalam video yang ramai dibagikan ulang, Hotman sebelumnya sempat meminta Presiden RI Prabowo Subianto memanggil Kejaksaan Agung dan dirinya untuk menggelar perkara secara terbuka di Istana Merdeka.

Pernyataan tersebut membuat banyak pihak mengira Hotman masih aktif menjadi pengacara Nadiem dalam proses hukum yang tengah berjalan. Namun, Hotman kini menegaskan status tersebut sudah berakhir.

Ia menyebut dirinya tidak lagi berada dalam tim kuasa hukum mantan menteri tersebut sehingga berbagai pernyataan yang kembali viral perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Meski demikian, Hotman tidak membantah bahwa dirinya pernah memberikan pandangan hukum terkait perkara tersebut.

Dalam pernyataan yang sebelumnya beredar, ia bahkan sempat mengklaim bisa membuktikan dalam waktu singkat bahwa tidak ada unsur korupsi yang dilakukan Nadiem Makarim.

“Bapak Prabowo, Presiden Republik Indonesia. Kalau memang Bapak benar-benar mau menegakkan keadilan, tolong panggil kejaksaan dan panggil saya sebagai kuasa hukum dari Nadiem Makarim. Gelar perkaranya di istana,” kata Hotman dalam video lama yang kembali viral.

Dalam pernyataan itu, ia mengemukakan tiga poin utama yang menurutnya menjadi dasar pembelaan terhadap Nadiem.

Hotman menyebut tidak ada aliran uang kepada mantan Mendikbudristek tersebut, tidak terdapat praktik mark up dalam proyek pengadaan laptop, dan tidak ada pihak yang diperkaya secara melawan hukum.

“Saya akan buktikan satu, Nadiem Makarim tidak menerima uang satu sen pun. Dua, tidak ada mark up dalam pengadaan laptop. Tiga, tidak ada yang diperkaya,” ujarnya kala itu.

Namun seiring berkembangnya kasus dan perubahan susunan tim hukum, Hotman memastikan dirinya kini sudah tidak memiliki keterlibatan langsung dalam pendampingan perkara tersebut.

Klarifikasi itu dinilai penting mengingat namanya terus dikaitkan dengan strategi pembelaan Nadiem di ruang publik.

Kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook sendiri masih menjadi perhatian luas masyarakat. Program digitalisasi pendidikan yang dijalankan pada masa pandemi Covid-19 itu sejak awal memang memicu pro dan kontra.

Pemerintah kala itu melakukan pengadaan perangkat teknologi dalam jumlah besar untuk mendukung pembelajaran jarak jauh di berbagai daerah.

Di satu sisi, kebijakan tersebut dianggap sebagai langkah percepatan transformasi pendidikan berbasis digital. Namun di sisi lain, sejumlah pihak mengkritik efektivitas penggunaan Chromebook, terutama di wilayah yang belum memiliki infrastruktur internet memadai.

Situasi semakin memanas setelah proses hukum bergulir dan menyeret sejumlah nama penting. Nadiem Makarim pun sempat menyampaikan kekecewaannya atas tuntutan yang diterimanya dalam perkara tersebut.

“Ini adalah hari yang sangat, sangat mengecewakan. Mungkin tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan perasaan saya,” kata Nadiem dalam keterangannya.

Ia juga menyinggung upaya modernisasi pendidikan yang menurutnya justru berujung pada persoalan hukum. Menurut Nadiem, banyak pihak yang sebelumnya ingin mendorong transparansi dan perubahan sistem kini merasa terpukul.

“Kita melihat hasil daripada kerja keras orang-orang jujur, anak-anak muda yang ingin mengubah pola-pola lama, yang ingin maju terhadap transparansi menggunakan teknologi. Nah, ini adalah balasannya,” ujarnya.

Di tengah polemik tersebut, munculnya kembali video lama Hotman Paris membuat publik kembali memperbincangkan posisi hukum Nadiem Makarim.

Sebagian netizen bahkan mengira pengacara kondang itu masih aktif menjadi pembela utama dalam kasus tersebut.

Karena itu, klarifikasi Hotman dianggap penting untuk meluruskan persepsi publik sekaligus menegaskan bahwa dirinya tidak lagi terlibat secara resmi dalam proses pendampingan hukum mantan menteri tersebut.

Hingga kini, proses hukum kasus pengadaan Chromebook masih terus berjalan dan menjadi salah satu perkara yang paling disorot publik.

Selain menyangkut anggaran besar negara, kasus ini juga berkaitan dengan kebijakan digitalisasi pendidikan yang sempat menjadi program unggulan pemerintah pada masa pandemi.