Gempa Besar 7,5M di Jepang Lukai 30 Orang, KBRI Tokyo Pastikan WNI Aman

INBERITA.COM, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo memastikan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Jepang dalam kondisi aman setelah gempa bermagnitudo 7,5 mengguncang kawasan timur laut Jepang pada Senin waktu setempat.

Informasi disampaikan langsung oleh Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo, Muhammad Al Aula, melalui keterangan tertulis yang diterima pada Selasa, 9 Desember 2025.

Pernyataan resmi ini menjadi kabar baik bagi keluarga WNI di Tanah Air yang sempat dilanda kekhawatiran menyusul kuatnya guncangan dan laporan kerusakan di sejumlah wilayah Jepang.

Al Aula menegaskan bahwa KBRI Tokyo segera bergerak cepat begitu menerima laporan mengenai terjadinya gempa. Melalui komunikasi intensif dengan berbagai simpul komunitas Indonesia di Jepang, KBRI memperoleh data awal yang memastikan bahwa WNI di tiga wilayah paling terdampak—Hokkaido, Aomori, dan Iwate—dalam keadaan selamat.

“Dari proses komunikasi dan koordinasi dengan sejumlah simpul komunitas Indonesia di Jepang, KBRI Tokyo mendapat informasi bahwa WNI di wilayah Hokkaido, Aomori, dan Iwate dalam keadaan selamat.” kata Al Aula menerangkan.

Langkah cepat KBRI ini dilakukan hanya beberapa saat setelah gempa terjadi. Pegawai KBRI Tokyo langsung melakukan koordinasi dengan perwakilan WNI di Prefektur Aomori, Hokkaido, dan Iwate.

Tujuan komunikasi tersebut tidak hanya untuk memastikan kondisi fisik para WNI, tetapi juga memeriksa keamanan tempat tinggal mereka, mengetahui apakah akses evakuasi tersedia, serta memastikan kecukupan logistik seperti makanan dan kebutuhan pokok lainnya.

Koordinasi semacam ini menjadi bagian dari prosedur standar KBRI setiap kali terjadi bencana alam berskala besar di Jepang, negara yang dikenal memiliki tingkat aktivitas seismik tinggi. Dalam perkembangan terbaru, menurut Al Aula, aktivitas warga Indonesia di wilayah terdampak gempa sudah kembali berjalan normal.

Situasi yang cepat pulih ini menunjukkan bahwa sistem penanganan bencana di Jepang bekerja dengan baik, dan WNI mampu menyesuaikan diri dengan panduan evakuasi yang diberikan otoritas setempat.

“Saat ini WNI di wilayah terdampak dilaporkan sudah kembali melakukan aktivitas seperti biasa,” ujarnya dalam keterangan tersebut.

Ia menambahkan bahwa hingga saat ini, KBRI Tokyo belum menerima laporan permintaan evakuasi yang mendesak dari WNI mana pun, baik di Hokkaido, Aomori, maupun Iwate. KBRI Tokyo juga merinci jumlah WNI yang berada di wilayah-wilayah tersebut.

Tercatat sekitar 1.000 WNI tinggal di Aomori, 1.500 orang di Iwate, dan sekitar 8.000 WNI bermukim di Hokkaido. Jumlah ini menunjukkan bahwa terdapat komunitas Indonesia yang cukup besar di bagian utara Jepang, sehingga upaya perlindungan yang cepat dan terstruktur menjadi prioritas utama KBRI.

Keberadaan ribuan WNI ini membuat KBRI dan KJRI Osaka terus meningkatkan kerja sama untuk memastikan bahwa seluruh masyarakat Indonesia di Jepang mendapatkan akses informasi, bantuan, dan perlindungan yang memadai.

Lebih lanjut, Al Aula menegaskan bahwa KBRI Tokyo bersama KJRI Osaka terus mengupayakan pelindungan maksimal bagi seluruh WNI, terutama di daerah terdampak. Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan otoritas wilayah setempat dan mengikuti mekanisme mitigasi bencana yang telah dibangun dengan baik oleh Pemerintah Jepang.

Hal ini penting, mengingat Jepang memiliki sistem penanggulangan bencana yang sangat terstruktur, mulai dari sirene peringatan dini, jalur evakuasi, hingga pusat penampungan warga.

KBRI Tokyo juga menyampaikan imbauan kepada seluruh WNI agar tetap tenang namun tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi gempa susulan masih bisa terjadi.

Dalam imbauan tersebut, para WNI diminta untuk terus memantau informasi dari otoritas lokal serta mengikuti instruksi yang diberikan oleh pemerintah daerah setempat. KBRI mengingatkan pentingnya mempelajari jalur evakuasi, menyiapkan tas darurat, serta memastikan dokumen penting berada di tempat yang mudah dijangkau.

Selain itu, WNI juga dianjurkan untuk menyediakan uang tunai secukupnya guna berjaga-jaga apabila terjadi gangguan pada layanan perbankan atau jaringan elektronik. Dalam situasi darurat, KBRI menyediakan hotline yang dapat dihubungi kapan saja oleh WNI yang membutuhkan bantuan.

Nomor darurat KBRI Tokyo adalah +81-80-3506-8612 dan +81-80-4940-7419, sedangkan hotline KJRI Osaka dapat dihubungi melalui +81-80-3113-1003.

Ketersediaan nomor ini memastikan bahwa WNI memiliki jalur komunikasi langsung dengan perwakilan pemerintah Indonesia di Jepang, terutama dalam kondisi bencana yang tidak dapat diprediksi.

Di sisi lain, Pemerintah Jepang juga memberikan pembaruan mengenai situasi pasca-gempa. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada Selasa menyampaikan bahwa setidaknya 30 orang dilaporkan terluka akibat gempa bermagnitudo 7,5 tersebut.

Meski demikian, otoritas Jepang terus melakukan evaluasi lapangan untuk memastikan tidak ada korban tambahan serta menilai kerusakan infrastruktur di wilayah terdampak.

Informasi dari Pemerintah Jepang ini menjadi bagian penting dalam pembaruan kondisi keseluruhan yang turut dipantau oleh KBRI dan KJRI sebagai dasar pengambilan langkah lanjutan jika diperlukan.

Dengan kepastian bahwa ribuan WNI di Aomori, Iwate, dan Hokkaido dalam keadaan aman, KBRI Tokyo berkomitmen terus memantau perkembangan situasi dan memberikan dukungan penuh.

Pemerintah Indonesia melalui perwakilannya di Tokyo dan Osaka memastikan perlindungan WNI tetap menjadi prioritas utama dalam setiap peristiwa bencana alam di luar negeri.