INBERITA.COM, Indonesia akan menerima tambahan saham PT Freeport Indonesia (PTFI) sebesar 12 persen tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.
Kabar menggembirakan ini disampaikan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan P. Roeslani, usai melakukan pertemuan dengan jajaran pimpinan tertinggi Freeport McMoran di Amerika Serikat baru-baru ini.
Dalam pernyataan yang disampaikan di Kantor Kementerian Investasi, Jakarta, Selasa (30/9/2025), Rosan menegaskan bahwa pihak Freeport telah menyetujui pelepasan saham tambahan tersebut secara free of charge atau tanpa biaya.
“Mereka (Freeport) sudah menyetujui untuk 12 persen (pelepasan saham untuk Indonesia). Kemarin saya juga di Amerika Serikat bertemu dengan pimpinannya langsung, dengan CEO-nya langsung dan owner-nya,” ungkap Rosan.
Lebih lanjut, Rosan menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan datang begitu saja, melainkan merupakan hasil dari proses negosiasi intensif yang sebelumnya hanya menargetkan pelepasan saham sebesar 10 persen.
“Tapi alhamdulillah kena 12 persen sekarang kita,” tambah Rosan.
Persetujuan ini menandai babak baru dalam kepemilikan saham Indonesia di Freeport. Sebelumnya, pemerintah telah berhasil menguasai 51 persen saham Freeport, setelah sebelumnya hanya memegang 9 persen.
Penambahan saham ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di perusahaan tambang raksasa tersebut, tetapi juga menunjukkan hasil konkret dari diplomasi ekonomi yang dijalankan pemerintahan saat ini.
Presiden Prabowo Subianto juga sebelumnya telah memberikan lampu hijau atas rencana penambahan saham Freeport lebih dari 10 persen.
Kepala Negara bahkan telah meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, untuk mempercepat proses komunikasi dan negosiasi agar rencana akuisisi dapat segera terealisasi.
“Saya diminta untuk bisa melakukan komunikasi percepatan. Dan kalau itu sudah fix, Insha Allah Freeport akan kita pertimbangkan untuk melakukan kelanjutan daripada kontrak,” ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/9/2025).
Menurut Bahlil, proses negosiasi yang sedang berjalan menunjukkan tren yang sangat positif. Awalnya disepakati untuk akuisisi 10 persen, namun kini berkembang menjadi lebih dari itu.
“Saya dipanggil untuk ditanyakan tentang kesepakatan. Dan tadinya awalnya kita sepakat untuk penambahan saham 10 persen Freeport. Tapi tadi berkembang negosiasi yang Insha Allah katanya lebih dari itu,” jelasnya.
“Alhamdulillah, awalnya kan penambahan saham Freeport itu 10 persen. Perkembangan yang terjadi di atas 10 persen,” imbuh Bahlil.
Bahlil juga menyampaikan bahwa harga akuisisi saham sebesar 10 persen tersebut berada pada level yang sangat kompetitif. Ia menjelaskan bahwa valuasi aset yang dijadikan dasar penghitungan tergolong rendah, sehingga membuat akuisisi ini menguntungkan bagi Indonesia.
“Karena valuasi asetnya kan kita anggap itu sudah nilai bukunya sangat tipis sekali. Tetapi itu kan terjadi untuk sampai dengan 2041,” tandasnya.
Tak hanya dalam hal kepemilikan saham, Rosan juga mengungkapkan bahwa Freeport telah menunjukkan komitmen sosial yang lebih luas.
Salah satunya adalah rencana pembangunan dua sekolah dan dua universitas di Papua, yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di sektor kesehatan.
Langkah ini dianggap penting untuk memperkuat ketersediaan dokter dan tenaga medis lokal di kawasan operasi tambang, serta menjadi bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang berdampak jangka panjang.
Langkah Freeport McMoran melepas 12 persen saham kepada Indonesia tanpa biaya jelas menjadi tonggak penting dalam pengelolaan sumber daya alam nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemilik mayoritas di salah satu perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar di dunia.
Dengan penambahan 12 persen saham Freeport Indonesia secara cuma-cuma (free of charge), maka total kepemilikan Indonesia atas PT Freeport Indonesia (PTFI) akan menjadi 63 persen.
Sebelumnya, Indonesia telah memiliki 51 persen saham PTFI melalui holding BUMN pertambangan MIND ID. Dengan tambahan 12 persen saham dari Freeport McMoRan tanpa biaya, maka 51% (sebelumnya) + 12% (tambahan) = 63% Saham.
Artinya, Indonesia kini menjadi pemegang saham mayoritas mutlak, semakin memperkuat kontrol negara atas salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia.
Dengan asumsi valuasi saham Freeport McMoran yang mencapai miliaran dolar AS, pelepasan saham sebesar 12 persen secara cuma-cuma ini bisa dikonversi ke angka yang sangat signifikan.
Jika merujuk pada estimasi nilai pasar yang konservatif sebesar USD 20 miliar, maka 12 persen dari angka tersebut setara dengan USD 2,4 miliar atau sekitar Rp 38,4 triliun (asumsi kurs Rp 16.000 per USD).
Meski angka pastinya masih dalam tahap finalisasi, nilai strategis dari akuisisi ini jauh melampaui aspek finansial.
Ini mencerminkan peningkatan posisi tawar Indonesia dalam pengelolaan tambang yang selama ini menjadi perdebatan panjang antara kepentingan nasional dan kepentingan asing.
Kini, dengan kendali saham yang semakin dominan dan komitmen Freeport untuk berkontribusi dalam pembangunan pendidikan dan kesehatan di Papua, Indonesia berada dalam posisi yang lebih kuat untuk mengelola kekayaan tambang secara berdaulat dan berkelanjutan.
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa pemerintahan saat ini tidak hanya berfokus pada penguasaan aset strategis, tetapi juga mengarahkan keberhasilan negosiasi menjadi kemenangan bagi rakyat, khususnya masyarakat Papua yang berada di wilayah tambang.
Pemerintah menargetkan agar seluruh proses legal dan administratif dari penambahan saham ini bisa rampung pada Oktober 2025, sebagaimana ditegaskan oleh Bahlil dalam pernyataan terpisah.
Jika berjalan lancar, maka Indonesia akan memasuki era baru dalam pengelolaan Freeport—dengan kontrol mayoritas, partisipasi sosial yang meningkat, dan nilai tambah ekonomi yang lebih besar untuk negara. (xpr)







