INBERITA.COM, Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Federal Bureau of Investigation (FBI) kembali membuka perburuan terhadap Monica Witt, mantan spesialis kontraintelijen Angkatan Udara Amerika Serikat yang dituduh membelot ke Iran dan membocorkan rahasia pertahanan negara.
Kasus yang telah berlangsung lebih dari satu dekade itu kembali menjadi perhatian internasional setelah FBI secara resmi menawarkan hadiah sebesar 200 ribu dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp3,2 miliar bagi siapa pun yang memiliki informasi hingga mengarah pada penangkapan Monica Witt.
Pengumuman tersebut disampaikan FBI pada 14 Mei 2026 dan langsung memicu sorotan luas karena kasus Monica Witt dianggap sebagai salah satu pengkhianatan intelijen paling serius dalam sejarah modern Amerika Serikat.
Nama Monica Witt sendiri bukan sosok asing di lingkungan intelijen Amerika. Perempuan itu diketahui pernah bertugas di Angkatan Udara Amerika Serikat sebagai spesialis kontraintelijen sejak 1997 hingga 2008.
Setelah keluar dari militer, Witt masih melanjutkan pekerjaannya sebagai kontraktor pemerintah Amerika Serikat hingga tahun 2010.
Namun situasi berubah drastis ketika Monica Witt diduga membelot ke Iran pada 2013. Pemerintah Amerika Serikat menuduhnya menyerahkan berbagai informasi sensitif kepada Teheran, termasuk data pertahanan nasional yang bersifat rahasia dan strategis.
Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu penyelidikan besar FBI terkait spionase dan pengkhianatan terhadap negara.
Pada 2019, dewan juri federal di Washington secara resmi mendakwa Monica Witt atas tuduhan melakukan spionase dan mengirimkan informasi pertahanan nasional kepada pemerintah Iran.
FBI menilai tindakan yang dilakukan Monica Witt bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan ancaman serius terhadap keamanan nasional Amerika Serikat dan keselamatan personel militer yang bertugas di luar negeri.
“Monica Witt diduga mengkhianati sumpahnya kepada Konstitusi dengan membelot ke Iran dan memberikan informasi pertahanan nasional kepada rezim Iran,” kata Agen Khusus FBI Divisi Kontraintelijen dan Siber Washington, Daniel Wierzbicki.
Menurut FBI, data yang diberikan Monica Witt kepada Iran mencakup materi sensitif yang dapat dimanfaatkan untuk melacak hingga menargetkan personel militer Amerika Serikat beserta keluarganya.
Pihak berwenang Amerika juga menuding Iran memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman Monica Witt untuk memperkuat operasi intelijen mereka terhadap Amerika Serikat.
Dalam keterangannya, FBI mengungkap bahwa setelah berada di Iran, Witt disebut aktif membantu rezim Teheran melakukan penelitian terhadap mantan rekan kerjanya di pemerintahan Amerika Serikat.
“Dia melakukan penelitian atas nama rezim Iran untuk membantu mereka menargetkan mantan kolega di pemerintahan AS,” tulis FBI dalam keterangannya.
Aktivitas tersebut diduga menjadi bagian dari operasi intelijen Iran yang lebih luas, terutama melalui Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Organisasi militer elite tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan utama Iran dalam operasi intelijen, keamanan regional, dan aktivitas militer strategis di Timur Tengah.
FBI menyebut pembelotan Monica Witt memberikan keuntungan besar bagi Iran karena ia memiliki pengalaman dan akses terhadap informasi penting selama bertugas di lingkungan pertahanan Amerika Serikat.
Kasus ini kembali mencuat ketika konflik antara Washington dan Teheran memasuki fase yang semakin panas sejak perang terbuka pecah pada Februari 2026.
Ketegangan geopolitik yang meningkat membuat isu spionase dan perang intelijen kembali menjadi perhatian serius pemerintah Amerika Serikat.
Meski Monica Witt telah membelot lebih dari satu dekade lalu, FBI menegaskan pihaknya tidak pernah menghentikan pencarian terhadap mantan spesialis kontraintelijen tersebut.
Daniel Wierzbicki mengatakan FBI masih meyakini ada pihak yang mengetahui keberadaan Monica Witt dan dapat membantu proses hukum terhadapnya.
“Meskipun dia membelot bertahun-tahun lalu, kami belum melupakan kasus ini,” ujar Wierzbicki.
“FBI ingin mendengar informasi dari siapa pun yang mengetahui keberadaannya agar dia dapat dibawa ke pengadilan,” lanjutnya.
Sebagai bagian dari upaya pengejaran, FBI meminta masyarakat yang memiliki informasi terkait Monica Witt untuk segera menghubungi kantor FBI terdekat, kedutaan Amerika Serikat, maupun layanan pengaduan resmi yang telah disediakan pemerintah AS.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat atau DOJ sebelumnya juga mengungkap fakta lain terkait proses pembelotan Monica Witt.
Sebelum pindah ke Iran, Witt diketahui pernah menghadiri dua konferensi di negara tersebut dengan biaya perjalanan ditanggung penuh oleh penyelenggara.
Konferensi itu disebut membawa narasi propaganda anti-Barat dan secara terbuka mengkritik nilai-nilai moral Amerika Serikat. Aktivitas tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan aparat keamanan Amerika.
Bahkan sebelum keberangkatannya ke Iran, FBI disebut telah memperingatkan Monica Witt mengenai aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan agenda konferensi tersebut.
Saat itu, Witt dikabarkan menyatakan dirinya tidak akan memberikan informasi sensitif kepada Iran apabila kembali mengunjungi negara tersebut. Namun pernyataan itu kini justru menjadi sorotan setelah dirinya didakwa membantu rezim Teheran.
Kembalinya kasus Monica Witt ke permukaan terjadi di tengah situasi Timur Tengah yang semakin tidak stabil.
Amerika Serikat dan Iran diketahui telah terlibat perang terbuka sejak 28 Februari 2026, dengan eskalasi konflik yang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Iran juga dituduh melakukan sejumlah aksi militer di kawasan Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia yang menjadi perhatian utama negara-negara besar.
Sebuah badan maritim Inggris bahkan melaporkan adanya kapal dagang yang disita dan dibawa menuju wilayah Iran pada 14 Mei 2026.
Situasi itu semakin memperburuk ketegangan internasional dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jalur perdagangan global.
Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mulai menunjukkan sikap keras terhadap Teheran. Trump mengaku mulai kehilangan kesabaran terhadap pemerintah Iran di tengah konflik yang terus berkembang.
Trump bahkan mengklaim Presiden China Xi Jinping sepakat bahwa Iran perlu membuka kembali Selat Hormuz guna menjaga stabilitas pelayaran internasional dan keamanan perdagangan global.
Dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks tersebut, kasus Monica Witt kini dipandang bukan lagi sekadar perkara pembelotan individu.
Kasus ini telah berkembang menjadi simbol perang intelijen modern antara Amerika Serikat dan Iran di tengah perebutan pengaruh global yang semakin tajam.