INBERITA.COM, Sejumlah negara Eropa telah menolak ajakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk terlibat dalam operasi militer di Iran, termasuk pengiriman kapal perang ke Selat Hormuz.
Penolakan ini semakin memperlihatkan keretakan yang terjadi dalam hubungan trans-Atlantik, yang semakin mendalam, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters pada Rabu (18/3/2026).
Konflik Timur Tengah yang kini berlangsung di Iran bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap negara tersebut pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan besar-besaran dan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menyumbang sekitar seperlima dari pasokan minyak dunia.
Hingga saat ini, perang tersebut telah memasuki minggu ketiga dan menyebabkan guncangan besar dalam perekonomian global, dengan mempengaruhi harga energi dan pasar saham internasional.
Namun, pemimpin negara-negara Eropa menunjukkan ketidakinginan untuk terlibat lebih jauh dalam konflik ini, meskipun ada tekanan dari AS.
Sikap ini mencerminkan perbedaan signifikan dalam kebijakan luar negeri antara Washington dan Eropa.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, yang dikenal sebagai sosok yang pro-trans-Atlantik, menyampaikan kritik tajam terhadap strategi AS dalam konflik tersebut.
Dalam pidatonya di hadapan parlemen Jerman pada Rabu, Merz meragukan dasar pemikiran perang yang melibatkan AS dan Israel itu.
“Hingga hari ini, tidak ada rencana meyakinkan tentang bagaimana operasi ini bisa berhasil. Washington tidak berkonsultasi dengan kami dan tidak menyatakan bahwa bantuan Eropa diperlukan,” ujar Merz dengan nada kecewa.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Jerman, meskipun merupakan salah satu sekutu terdekat AS dalam NATO, tidak merasa perlu terlibat dalam konflik yang dianggapnya tidak relevan dengan kepentingan langsung negara tersebut.
Merz menambahkan bahwa Jerman tidak diberi kesempatan untuk memberi kontribusi terhadap keputusan yang telah diambil oleh AS dan Israel.
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, juga menegaskan posisi negara tersebut dengan tegas.
“Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya,” kata Pistorius, merujuk pada ketidakberpihakan Jerman dalam konflik ini.
Sikap serupa juga diungkapkan oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang menegaskan bahwa Prancis tidak terlibat dalam konflik tersebut dan tidak berniat mengirimkan pasukan untuk mendukung operasi militer di Iran.
Penolakan dari Eropa terhadap ajakan Trump ini muncul di tengah kekhawatiran akan reaksi balasan yang mungkin datang dari pihak AS.
Presiden Trump sebelumnya sudah beberapa kali melontarkan kritik tajam terhadap sekutu-sekutunya di Eropa, dan bahkan meragukan eksistensi NATO sebagai aliansi militer.
Pada awal tahun 2026, Trump juga mengejutkan sekutunya dengan rencananya untuk mengambil alih Greenland dari Denmark, yang menambah ketegangan dalam hubungan trans-Atlantik.
Trump juga diketahui tidak segan-segan untuk mengejek sekutu-sekutu AS di Eropa, termasuk Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, yang mendapat sindiran dari Trump karena dianggap tidak memenuhi standar kepemimpinan yang sama dengan Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris yang memimpin negara tersebut selama Perang Dunia II.
Namun, meskipun Trump sering menyerang sekutunya, Keir Starmer masih mendapatkan dukungan kuat dari publik Inggris.
Jajak pendapat yang dilakukan oleh YouGov menunjukkan bahwa 49 persen warga Inggris menentang keterlibatan negara mereka dalam serangan militer terhadap Iran, sementara hanya 28 persen yang mendukungnya.
Penolakan ini semakin menunjukkan bahwa tidak semua negara sekutu AS siap untuk terlibat dalam konflik yang dianggapnya tidak langsung mempengaruhi kepentingan nasional mereka.
Hal ini juga mencerminkan ketidakpastian mengenai kebijakan luar negeri AS yang semakin tidak sejalan dengan kebijakan negara-negara Eropa.
Penolakan dari Eropa juga menambah ketidakpastian mengenai masa depan konflik Iran yang semakin berlarut-larut.
Sebelumnya, penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah membuat harga minyak dunia melonjak tajam, mempengaruhi perekonomian global, dan menciptakan ketegangan di pasar energi.
Selain itu, kekhawatiran bahwa konflik ini dapat meluas ke wilayah lain, termasuk negara-negara Teluk Persia, semakin mengkhawatirkan dunia internasional.
Dengan ketegangan yang terus meningkat, dunia kini menanti apakah Trump akan terus mendesak sekutu-sekutunya untuk terlibat lebih dalam, atau apakah Eropa akan tetap mempertahankan kebijakan non-intervensi dan berusaha mencari solusi diplomatik untuk menyelesaikan krisis ini.