Domain Dibeli Seharga 500 Jutaan, Friendster Versi Baru Hadir dengan Konsep Tanpa Iklan dan Tanpa Algoritma

INBERITA.COM, Nama Friendster yang sempat berjaya di era awal internet kini kembali mencuri perhatian. Setelah lama tenggelam sejak penutupannya pada 2015, platform ini resmi bangkit kembali dengan wajah baru usai diakuisisi melalui kesepakatan bernilai sekitar USD 30.000 atau setara Rp 521 jutaan.

Kebangkitan Friendster tidak terjadi begitu saja. Seorang programmer sekaligus entrepreneur, Mike Carson, menjadi sosok di balik upaya menghidupkan kembali platform yang dulu populer di Indonesia dan berbagai negara lainnya.

Friendster pertama kali diluncurkan pada 2002 dan menjadi pionir media sosial sebelum era Facebook, Instagram, hingga TikTok. Di masanya, platform ini dikenal sebagai tempat membangun profil, berbagi testimoni, serta menjalin koneksi pertemanan.

Namun, perubahan arah bisnis pada 2011 yang menggeser fokus ke social gaming membuat popularitasnya merosot, hingga akhirnya benar-benar ditutup pada 2015.

Setelah bertahun-tahun domainnya tidak aktif, situs Friendster sempat muncul kembali pada Oktober 2023, meski saat itu hanya berisi iklan. Kondisi tersebut berubah ketika Mike Carson memutuskan untuk membeli domain tersebut dari pemilik sebelumnya.

Dalam prosesnya, Carson menemukan bahwa domain Friendster.com sebelumnya dibeli melalui platform lelang domain dengan harga USD 8.000.

Ia kemudian melakukan negosiasi dan berhasil mengamankan domain tersebut dengan nilai total sekitar USD 30.000, termasuk pembayaran menggunakan Bitcoin dan pertukaran domain lain.

Tidak berhenti di situ, Carson juga mengurus hak merek dagang Friendster yang akhirnya berhasil diperolehnya pada 13 Mei 2025, membuka jalan untuk menghidupkan kembali platform tersebut secara resmi.

Berbeda dari sekadar nostalgia, Friendster versi baru hadir dengan konsep yang cukup radikal dibandingkan media sosial modern.

Carson menegaskan bahwa ia tidak ingin meniru model platform yang ada saat ini, yang cenderung berbasis algoritma dan monetisasi data pengguna.

“Saya merasa media sosial saat ini telah mempromosikan aspek negatif di era modern, tetapi saya mengingat Friendster sebagai pengalaman yang benar-benar positif dan menyenangkan, meski sangat membuat frustrasi ketika situsnya tidak bisa dimuat,” kata Carson.

“Saya ingin membuat sesuatu yang positif, sesuatu yang bisa dinikmati orang dan mereka anggap berguna,” katanya.

Pada tahap awal, Carson mengembangkan jejaring sosial sederhana dengan konsep tanpa iklan, tanpa algoritma, dan tanpa penjualan data pengguna. Namun, pendekatan ini belum cukup menarik minat publik secara luas.

Ia kemudian melakukan inovasi yang menjadi pembeda utama Friendster versi baru. Salah satu fitur unik yang diperkenalkan adalah sistem pertemanan berbasis kedekatan fisik. Pengguna tidak bisa sembarangan menambahkan teman secara online.

Untuk terhubung, dua pengguna harus berada dalam jarak dekat di dunia nyata dan secara bersamaan mendekatkan atau mengetuk ponsel mereka. Pendekatan ini dinilai mampu memastikan bahwa koneksi yang terjalin benar-benar autentik.

Selain itu, Friendster juga memperkenalkan konsep “friend of a friend” yang memungkinkan pengguna melihat jaringan pertemanan tidak langsung, serta fitur “weakening of connections”.

Fitur ini akan melemahkan hubungan pertemanan jika dua pengguna tidak berinteraksi secara langsung dalam jangka waktu satu tahun.

“Ini bukan hukuman. Ini adalah sinyal lembut bahwa persahabatan sejati harus dirawat secara langsung, bukan online,” kata Carson.

Dengan konsep tersebut, Friendster mencoba menawarkan pendekatan yang lebih humanis di tengah dominasi media sosial berbasis algoritma yang sering mendorong interaksi instan namun dangkal.

Menariknya, Carson mengaku belum menjadikan monetisasi sebagai prioritas utama. Fokus saat ini adalah memastikan platform dapat berjalan stabil dan menutup biaya operasional.

Ke depan, tidak menutup kemungkinan Friendster akan menghadirkan layanan berbayar dengan fitur premium, meski hingga kini belum ada keputusan final terkait model bisnisnya.

Kebangkitan Friendster menjadi fenomena tersendiri di tengah kejenuhan sebagian pengguna terhadap media sosial modern. Dengan mengusung konsep yang menekankan koneksi nyata dan interaksi berkualitas, platform ini mencoba menempuh jalur berbeda.

Meski masih dalam tahap awal, langkah ini membuka peluang bagi Friendster untuk kembali menemukan tempatnya di ekosistem digital, bukan sekadar sebagai nostalgia, tetapi sebagai alternatif baru dalam membangun hubungan sosial di era internet yang semakin kompleks.