INBERITA.COM, Doa Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam peringatan HUT RI ke-81 di Istana Negara menuai sorotan tajam. Pasalnya, doa tersebut tak hanya berisi permohonan kepada Tuhan, tetapi juga memuat statistik pencapaian pemerintah, mulai dari kerukunan sosial hingga program strategis yang dirasakan masyarakat.
Pegiat media sosial Arif Zulfikar mengecam isi doa tersebut. Ia menyoroti ketidakseimbangan antara pujian terhadap pemerintah dengan kelalaian menyebutkan korban bencana di Nusa Tenggara Timur.
“Doa untuk korban bencana mana? Doa untuk menjaga lisan mana?” tulisnya di platform X, memicu perdebatan publik.
Doa Menag yang disampaikan di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu memang sarat dengan pencapaian.
Menteri Umar menyebutkan pencapaian kerukunan sosial keagamaan tertinggi sepanjang sejarah, yakni 77,85 persen.
Ia juga memuji berbagai program strategis pemerintah yang dinilai telah membawa manfaat bagi masyarakat. Namun, di balik pujian tersebut, banyak pihak mempertanyakan kelengkapan doa tersebut.
Kritik muncul karena doa tersebut tak menyebutkan belasungkawa kepada korban bencana alam yang melanda NTT beberapa waktu lalu. Padahal, bencana tersebut menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan kerugian material yang besar.
Doa Menag yang panjang itu juga memuat harapan agar bangsa Indonesia senantiasa diberi petunjuk oleh Tuhan.
Ia berdoa agar negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang makmur dan diberkahi. Namun, harapan tersebut seakan terhambat oleh ketidakpekaan terhadap kondisi sosial yang tengah memprihatinkan.
Publik pun bertanya-tanya, mengapa doa yang seharusnya bersifat universal dan inklusif justru terkesan partisan.
Doa tersebut seolah menjadi ajang pencitraan pemerintah di hadapan publik, alih-alih menjadi sarana refleksi nasional. Kritik semakin keras karena doa tersebut disampaikan di momen yang seharusnya menjadi ajang persatuan dan kesatuan bangsa.
Tak hanya itu, doa tersebut juga memuat harapan agar bangsa Indonesia senantiasa dijauhkan dari fitnah, bencana, dan perpecahan.
Namun, harapan tersebut terasa hambar ketika doa tersebut tak menyertakan permohonan khusus untuk korban bencana yang tengah menderita. Publik pun mempertanyakan kesungguhan pemerintah dalam menangani bencana tersebut.
Doa Menag tersebut juga memuat harapan agar bangsa Indonesia senantiasa diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Namun, harapan tersebut terasa sulit dicerna ketika banyak masyarakat yang tengah kesulitan memenuhi kebutuhan pokok akibat dampak bencana. Publik pun mempertanyakan makna doa tersebut dalam konteks realitas yang tengah dihadapi.
Kritik terhadap doa tersebut juga menyoroti penggunaan statistik dalam konteks yang tidak tepat. Statistik kerukunan sosial dan pencapaian pemerintah memang patut diapresiasi.
Namun, penggunaan statistik tersebut dalam doa seolah menjadi alat pembenaran atas kinerja pemerintah, alih-alih menjadi sarana refleksi dan permohonan kepada Tuhan.
Publik pun mempertanyakan tujuan sebenarnya dari doa tersebut.
Apakah doa tersebut benar-benar ditujukan untuk memohon berkah dan petunjuk bagi bangsa Indonesia, ataukah sekadar menjadi ajang pencitraan pemerintah di hadapan publik.
Pertanyaan tersebut semakin mengemuka ketika doa tersebut tak menyertakan permohonan khusus untuk korban bencana.
Doa Menag tersebut juga memuat harapan agar bangsa Indonesia senantiasa menjadi contoh negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.
Namun, harapan tersebut terasa sulit dicapai ketika banyak masyarakat yang tengah menderita akibat dampak bencana dan ketidakmerataan pembangunan. Publik pun mempertanyakan makna harapan tersebut dalam konteks realitas yang tengah dihadapi.
Kritik terhadap doa tersebut juga menyoroti ketidakpekaan pemerintah terhadap kondisi sosial yang tengah memprihatinkan.
Doa tersebut seolah menjadi simbol ketidakpedulian pemerintah terhadap penderitaan masyarakat yang tengah mengalami musibah. Publik pun mempertanyakan komitmen pemerintah dalam menangani berbagai persoalan bangsa.
Doa Menag tersebut juga memuat harapan agar bangsa Indonesia senantiasa diberi ketakwaan dan keluhuran niat.
Namun, harapan tersebut terasa sulit dicerna ketika banyak pejabat pemerintah yang justru terlibat dalam berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
Publik pun mempertanyakan makna harapan tersebut dalam konteks realitas yang tengah dihadapi.
Kritik terhadap doa tersebut semakin keras karena doa tersebut disampaikan di momen yang seharusnya menjadi ajang persatuan dan kesatuan bangsa.
Doa tersebut seolah menjadi simbol ketidakpekaan pemerintah terhadap berbagai persoalan bangsa yang tengah dihadapi masyarakat. Publik pun mempertanyakan tujuan sebenarnya dari doa tersebut.
Doa Menag tersebut juga memuat harapan agar bangsa Indonesia senantiasa dijauhkan dari berbagai fitnah dan perpecahan.
Namun, harapan tersebut terasa hambar ketika banyak pihak yang justru memanfaatkan isu SARA untuk kepentingan politik. Publik pun mempertanyakan makna harapan tersebut dalam konteks realitas yang tengah dihadapi.
Kritik terhadap doa tersebut semakin keras karena doa tersebut tak menyertakan permohonan khusus untuk korban bencana yang tengah menderita.
Doa tersebut seolah menjadi simbol ketidakpedulian pemerintah terhadap penderitaan masyarakat yang tengah mengalami musibah. Publik pun mempertanyakan komitmen pemerintah dalam menangani berbagai persoalan bangsa.