Dinyatakan Hilang Sejak 28 Desember, Syafiq Ali Ditemukan Meninggal di Lereng Puncak Selatan Gunung Slamet

INBERITA.COM, Pencarian pendaki Gunung Slamet, Syafiq Ridhan Ali Razan (18), akhirnya membuahkan hasil setelah berhari-hari dilakukan oleh tim gabungan dan relawan. Pada Rabu (14/1/2026), Syafiq dilaporkan telah ditemukan, namun dalam kondisi meninggal dunia.

Kabar duka ini sekaligus mengakhiri upaya panjang pencarian pendaki asal Magelang yang sempat dinyatakan hilang saat melakukan pendakian di gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut. Informasi ditemukannya Syafiq Ali pertama kali disampaikan melalui akun resmi basecamp Bambangan Purbalingga di Instagram, yakni @slametviabambangan.

Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan menjadi perhatian publik, terutama para pendaki dan masyarakat yang selama ini mengikuti perkembangan pencarian Syafiq di Gunung Slamet.

Dalam unggahan itu dijelaskan bahwa Syafiq ditemukan di area yang cukup ekstrem, yakni di lereng puncak sebelah selatan Gunung Slamet, tepatnya di antara jalur Gunung Malang dan jalur Baturraden.

Kondisi medan yang berat membuat proses evakuasi tidak dapat dilakukan secara instan. Hingga kabar penemuan disampaikan ke publik, relawan masih melakukan proses evakuasi dengan mempertimbangkan faktor keselamatan personel serta kondisi cuaca di kawasan puncak Gunung Slamet yang dikenal cepat berubah dan ekstrem, terutama pada siang hingga sore hari.

Akun basecamp Bambangan menuliskan pernyataan resmi terkait penemuan tersebut.

“Alhamdulillah, survivor atas nama Syafiq Ridhan Ali Razan ditemukan, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia (MD) di daerah lereng puncak sebelah selatan antara jalur Gunung Malang dan Baturaden, saat ini masih dalam proses evakuasi,” tulisa akun tersebut.

Pernyataan ini menjadi konfirmasi resmi bagi keluarga, relawan, serta pihak-pihak yang terlibat dalam operasi pencarian.

Sebelumnya, Syafiq Ali dinyatakan hilang setelah melakukan pendakian Gunung Slamet bersama rekannya, Himawan Haidar Bahran. Keduanya memulai pendakian pada Sabtu (27/12/2025) malam melalui basecamp Dipajaya Pemalang. Dalam perjalanan, keduanya diduga terpisah, hingga akhirnya Syafiq tidak diketahui keberadaannya.

Sementara itu, Haidar berhasil ditemukan lebih dulu oleh tim pencari pada Senin (29/12/2025) di Pos 9 dalam kondisi selamat. Setelah Haidar ditemukan, operasi pencarian terhadap Syafiq langsung digencarkan dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas dan relawan.

Proses pencarian dilakukan selama sepekan, menyisir sejumlah titik rawan di jalur pendakian Gunung Slamet. Namun hingga Rabu (7/1/2026), operasi SAR resmi dihentikan karena belum membuahkan hasil sesuai dengan standar operasional yang berlaku.

Meski operasi SAR resmi ditutup, upaya pencarian terhadap Syafiq Ali tidak berhenti begitu saja. Sejumlah relawan dan pengelola jalur pendakian memilih untuk melanjutkan pencarian secara mandiri melalui jalur Bambangan Purbalingga dan Baturraden Banyumas.

Keputusan ini diambil sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral terhadap keselamatan pendaki, terutama karena Gunung Slamet merupakan wilayah yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Koordinator Basecamp Bambangan, Syaiful Amri, menjelaskan bahwa pencarian mandiri dilakukan murni atas dasar kemanusiaan.

Sebagai pengelola jalur pendakian sekaligus warga yang hidup di kawasan kaki Gunung Slamet, ia dan para relawan merasa memiliki kewajiban moral untuk terus berupaya menemukan Syafiq. Menurutnya, pencarian mandiri melalui jalur Bambangan telah dimulai sejak 9 Januari 2026.

Dalam pelaksanaannya, relawan menerjunkan tiga Search and Rescue Unit (SRU) yang difokuskan pada titik-titik pemetaan dan koordinat yang sebelumnya telah disusun oleh Basarnas. Area pencarian tidak hanya mengikuti jalur utama, tetapi juga meluas ke sejumlah area yang dianggap berpotensi menjadi lokasi tersesatnya pendaki.

“Tiga hari kemarin, kami kembali menelusuri area sesuai pemetaan dari Basarnas, bahkan kami maksimalkan lagi.” Namun upaya tersebut belum langsung membuahkan hasil.

“Tapi, sampai hari Minggu (11/1/2026) kemarin, belum ada tanda-tanda,” ujar Syaiful saat dikonfirmasi, Senin (12/1/2026).

Meski sempat menemui jalan buntu, Syaiful menegaskan bahwa pencarian tidak dihentikan. Upaya terus dilakukan dengan memperluas area penyisiran dan memperkuat koordinasi antarbasecamp.

“Semalam, kami sudah koordinasi dengan Basecamp Bambangan,” katanya.

Dari hasil koordinasi tersebut, relawan sepakat untuk memperluas pencarian ke jalur Baturraden. Menurut Syaiful, keputusan menyisir jalur Baturraden didasarkan pada pengalaman dan catatan sebelumnya.

“Dari situ, kami sepakat memperluas pencarian ke jalur Baturraden, karena secara histori, seringkali pendaki itu nyasar ke jalur ini,” jelasnya.

Jalur Baturraden memang dikenal memiliki banyak percabangan dan medan yang menantang, sehingga kerap menjadi jalur tersasar bagi pendaki yang kehilangan orientasi.

Dalam operasi pencarian mandiri ini, dua tim diterjunkan dengan total 57 personel. Seluruh personel merupakan gabungan relawan dari Basecamp Bambangan dan Basecamp Baturraden.

Penyisiran dilakukan secara sistematis sejak pagi hari dan dibatasi maksimal hingga pukul 15.00 WIB. Pembatasan waktu ini dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan, mengingat kondisi cuaca di Gunung Slamet kerap memburuk pada sore hari.

Hingga akhirnya, upaya panjang dan konsisten para relawan tersebut membuahkan hasil dengan ditemukannya Syafiq Ali di lereng puncak selatan Gunung Slamet. Meski ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, penemuan ini setidaknya memberikan kepastian bagi keluarga dan menjadi penutup dari proses pencarian yang penuh tantangan.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat akan risiko pendakian gunung serta pentingnya persiapan, kewaspadaan, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan saat menjelajahi alam bebas, khususnya di Gunung Slamet yang dikenal memiliki karakter medan dan cuaca yang ekstrem.