Dikenal Selalu Bugar dan Ceria, Nada Tarina Putri Corbuzier Ternyata Idap Skoliosis Parah, Begini Kondisinya!

INBERITA.COM, Anak angkat dari Deddy Corbuzier, Nada Tarina Putri, membagikan kisah perjuangannya usai menjalani operasi skoliosis yang dijalaninya sebulan lalu.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Nada memperlihatkan kondisi punggungnya yang penuh jahitan pasca operasi besar yang ia jalani untuk memperbaiki tulang belakangnya.

Prosedur tersebut bukanlah keputusan ringan bagi Nada. Dengan kondisi skoliosis yang cukup parah, ia akhirnya memutuskan untuk menjalani tindakan medis demi masa depan kesehatan yang lebih baik.

Dalam keterangannya, Nada mengungkapkan bahwa ini adalah pengalaman pertamanya menjalani operasi, bahkan pertamakalinya pula ia dirawat di rumah sakit.

“Tiba-tiba saya harus menjalani operasi skoliosis yang merupakan operasi besar, dan saya dirawat di rumah sakit selama 12 hari. Ini hal yang besar bagi saya,” tulis Nada dalam keterangan unggahannya, dikutip Selasa (22/9/2025).

Nada tidak menutupi bahwa proses tersebut menjadi perjalanan yang sangat berat secara fisik maupun emosional.

Ia menggambarkan betapa sulitnya melakukan hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak pernah menjadi masalah, seperti duduk atau berdiri.

Tidak hanya itu, ia juga harus merelakan beberapa hal yang sangat ia cintai, seperti balet dan menari, yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Meski begitu, Nada mencoba tetap berpikir positif. Setelah melewati masa-masa kritis di awal pemulihan, kini ia mengaku kondisi tubuhnya perlahan membaik.

Rasa sakit yang dulu mendominasi hari-harinya kini sudah jauh berkurang. Bahkan ia sudah mulai kembali menjalani sebagian besar aktivitas sehari-hari, termasuk beberapa hobi yang sempat terhenti akibat operasi.

“Saya juga akan punya bekas luka keren di punggung serta sebuah cerita untuk diceritakan,” ujarnya dengan nada optimistis.

Nada menyampaikan bahwa proses pemulihan ini bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi perlu dijalani demi tubuh yang lebih sehat dan kuat di masa depan.

Ia mengaku belajar banyak dari pengalaman ini, terutama dalam menerima perubahan dan beradaptasi dengan keadaan yang baru.

Usai operasi, Nada harus memulai kembali banyak hal dari awal. Ia harus belajar berjalan dan duduk secara bertahap, sesuatu yang biasanya dianggap remeh oleh banyak orang.

Namun semangatnya untuk pulih dan menjalani hidup dengan penuh harapan tetap terjaga.

Cerita Nada menjadi gambaran nyata bahwa proses pemulihan dari kondisi skoliosis bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang kekuatan mental dan dukungan dari orang-orang terdekat.

Kisahnya pun menjadi inspirasi bagi banyak pengikutnya yang mengalami kondisi serupa atau sedang menghadapi tantangan kesehatan lainnya.

Apa Itu Skoliosis?

Skoliosis adalah kondisi kelainan bentuk tulang belakang yang menyebabkan tulang belakang melengkung ke samping secara tidak normal.

Alih-alih lurus, tulang belakang penderita skoliosis membentuk huruf “C” atau “S” saat dilihat dari belakang.

Kondisi ini bisa muncul sejak masa kanak-kanak atau remaja, dan dalam beberapa kasus, bisa berkembang semakin parah seiring waktu.

Ada berbagai penyebab skoliosis, namun sebagian besar kasus (sekitar 80%) tergolong idiopatik, artinya penyebab pastinya tidak diketahui.

Skoliosis juga bisa disebabkan oleh kelainan kongenital, gangguan neuromuskular, atau trauma.

Gejala skoliosis bisa ringan hingga parah, termasuk:

  • Bahu tidak sejajar
  • Pinggang terlihat tidak simetris
  • Punggung menonjol di satu sisi saat membungkuk
  • Nyeri punggung, terutama pada kasus skoliosis yang berat

Pengobatan skoliosis bergantung pada tingkat keparahan kelengkungan tulang belakang dan usia penderita. Untuk kasus ringan, observasi rutin dan terapi fisik bisa cukup.

Namun untuk kelengkungan yang lebih parah, dokter biasanya merekomendasikan penggunaan brace (penyangga tulang belakang) atau operasi, seperti yang dijalani Nada Tarina Putri.

Tujuan operasi skoliosis adalah untuk meluruskan tulang belakang, mencegah perburukan, dan memperbaiki kualitas hidup pasien.

Meski pemulihan bisa memakan waktu cukup lama dan penuh tantangan, sebagian besar pasien mengalami perbaikan signifikan dalam jangka panjang. (xpr)