INBERITA.COM, Diduga dipicu persoalan rumah tangga, sebuah bangunan joglo megah di RT 001/RW 007, Dusun Begajah, Kelurahan Popongan, Kecamatan Karanganyar, rata dengan tanah setelah dihancurkan oleh pemiliknya sendiri pada Senin (25/11/2025).
Aksi pembongkaran yang berlangsung cepat dan menarik perhatian warga ini dilakukan oleh AG (50), yang disebut-sebut nekat merobohkan bangunan bernilai tinggi tersebut lantaran diduga kesal akibat diselingkuhi.
Peristiwa ini sontak memicu kehebohan di lingkungan setempat, apalagi bangunan joglo tersebut dikenal sebagai salah satu joglo paling mencolok di kawasan Popongan karena ukurannya yang besar dan konstruksinya yang tampak kokoh.
Namun, tanpa tanda-tanda akan dijual atau direnovasi, joglo itu justru dihancurkan total oleh pemiliknya dalam satu hari menggunakan alat berat.
Ketua RT setempat, Edi Mulyono, membenarkan bahwa pembongkaran dilakukan atas permintaan langsung dari AG. Ia menyaksikan sendiri proses perobohan bangunan tersebut.
“Betul, Pak. Saya dimintai izin, lalu Pak AG merobohkan bangunan joglo,” ujarnya saat ditemui.
Edi menjelaskan bahwa AG sebelumnya meminta izin melalui pesan WhatsApp. Awalnya, Edi sedang berada di luar kota, namun ia memutuskan kembali ke rumah untuk memastikan proses pembongkaran berjalan aman dan tidak menimbulkan keributan di kalangan warga.
“Izinnya lewat WA. Kebetulan pas Senin (24/11/2025) saya di rumah. Saya diminta hadir untuk mengamankan warga kalau ada yang bertanya,” katanya.
Joglo tersebut diketahui telah berdiri sekitar delapan tahun. Meski megah, bangunan itu tidak ditempati setiap hari oleh AG maupun istrinya.
Edi mengungkapkan bahwa AG dikenal sebagai seorang bos properti di Solo, sementara istrinya merupakan seorang ASN di Karanganyar.
Joglo itu selama ini lebih berfungsi sebagai tempat singgah jika pemiliknya sedang berada di Karanganyar.
“Itu cuma tempat persinggahan, tidak setiap hari ditempati,” jelas Edi.
Ia juga menegaskan bahwa baik AG maupun istrinya bukan warga asli lingkungan tersebut, melainkan pendatang.
Karena itu, interaksi dengan warga sekitar pun tidak terlalu intens, meski bangunan joglo mereka cukup mencuri perhatian.
Saat dimintai penjelasan mengenai alasan pemilik menghancurkan bangunan yang masih tampak kokoh dan bernilai tinggi itu, Edi mengatakan bahwa AG hanya menyebut adanya masalah rumah tangga.
“Katanya ada perselisihan keluarga. Soal orang ketiga atau apa, saya tidak tahu persis. Pak AG bilang joglo ini yang bangun saya. Mau diapakan terserah saya,” tutur Ketua RT tersebut.
Dalam proses pembongkaran, warga sempat dikejutkan oleh keberadaan lembaran-lembaran kertas yang ditempel di beberapa titik sekitar lokasi joglo.
Lembaran itu berisi screenshot percakapan yang diduga terkait persoalan keluarga. Namun, Edi mengaku tidak sempat membaca secara detail isi tangkapan layar tersebut.
“Ya itu katanya chat-chat-an biasa. Orang-orang bilang ada geger soal itu. Intinya kisruh rumah tangga,” ujarnya.
Pembongkaran joglo dilakukan dengan dua unit alat berat dan melibatkan sekitar delapan hingga sepuluh pekerja.
Para pekerja tersebut disebut berasal dari pihak pemilik. Sebelum proses perobohan dimulai, isi joglo seperti perabotan dan barang-barang lain diangkut terlebih dahulu menggunakan sebuah truk.
Selama pembongkaran berlangsung, tidak ada pihak lain yang datang untuk menolak, memprotes, atau menghentikan proses tersebut.
Bahkan, menurut Edi, pihak yang disebut sebagai “pihak kedua”—yang diduga berkaitan dengan masalah rumah tangga—sama sekali tidak muncul di lokasi meski telah ditunggu.
“Pihak kedua tidak datang. Ditunggu juga tidak ada. Pembongkaran berjalan lancar, tidak ada yang menghalangi,” katanya.
Dalam hitungan jam, bangunan joglo yang selama bertahun-tahun berdiri kokoh itu berubah menjadi tumpukan puing. Sementara warga sekitar hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
Meski tidak ada konflik atau penolakan, sejumlah warga mengaku kaget karena joglo tersebut sebelumnya terlihat masih sangat bagus dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan dibongkar.
Tak lama setelah kejadian, video pembongkaran joglo tersebut beredar luas di media sosial. Dalam video itu terlihat bagaimana alat berat meruntuhkan struktur bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu besar berkualitas tinggi. Aksi itu menuai banyak komentar dari netizen.
Banyak yang merasa sayang melihat bangunan megah dan bernilai estetika tinggi dihancurkan begitu saja, sementara sebagian lain menyoroti dugaan masalah rumah tangga sebagai pemicu keputusan ekstrem tersebut.
Peristiwa pembongkaran joglo di Popongan ini tidak hanya menyisakan pertanyaan tentang persoalan pribadi sang pemilik, tetapi juga menarik perhatian publik karena nilai ekonominya yang besar serta keunikan arsitektur tradisional Jawa yang kini tinggal puing.
Namun, bagi AG, keputusan tersebut tampaknya menjadi bentuk pelampiasan kekecewaan yang tidak bisa ia bendung lagi.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pemilik atau pihak terkait mengenai kelanjutan kasus rumah tangga yang diduga menjadi latar belakang pembongkaran joglo itu.
Namun, video dan cerita seputar kejadian tersebut terus menyebar di dunia maya, mengundang rasa penasaran publik terhadap apa yang sebenarnya terjadi di balik robohnya joglo megah tersebut. (mms)