Daftar Status Gunung Api di Indonesia: Semeru Level Awas, Sangeangapi Naik ke Waspada

INBERITA.COM, Indonesia kembali memasuki periode peningkatan aktivitas vulkanik yang menuntut kewaspadaan tinggi. Hingga Minggu, 23 November 2025, sejumlah gunung api menunjukkan aktivitas di atas normal.

Sorotan utama mengarah pada Gunung Semeru yang kini berada pada Level IV (Awas), sementara Gunung Sangeangapi mengalami kenaikan status dari Normal ke Waspada setelah adanya peningkatan aktivitas signifikan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat satu gunung pada status tertinggi, dua gunung berada pada level Siaga, dan lebih dari 20 gunung lainnya berstatus Waspada.

Data ini menjadi sinyal bahwa dinamika vulkanik di Nusantara sedang bergerak cepat dan memerlukan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan rawan bencana.

Situasi paling krusial saat ini berada di Gunung Semeru, Jawa Timur. Erupsi yang terekam pada Rabu, 19 November 2025 pukul 14.13 WIB memunculkan awan panas yang meluncur ke wilayah Besuk Kobokan.

PVMBG menegaskan bahwa kejadian tersebut bukan erupsi tunggal, melainkan rangkaian awan panas yang berlangsung beruntun.

Setelah mengevaluasi aktivitas vulkanik dan peningkatan signifikan pada kegempaan, status Semeru akhirnya dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas) mulai pukul 17.00 WIB pada hari yang sama.

Rekomendasi resmi untuk Gunung Semeru diperketat. Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara, termasuk jalur Besuk Kobokan, dalam radius 20 kilometer dari puncak.

Selain itu, warga diimbau tidak mendekati sempadan sungai Besuk Kobokan hingga radius 500 meter. Aktivitas manusia juga dilarang dalam radius 8 kilometer dari kawah atau puncak mengingat potensi lontaran batu pijar yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Di sisi lain, peningkatan aktivitas juga terpantau pada Gunung Sangeangapi di Pulau Sangeang, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Pada Sabtu, 22 November 2025, PVMBG mencatat perubahan signifikan dari sisi visual maupun kegempaan. Asap putih terpantau keluar dari kawah utama dan menandakan adanya proses magmatik atau hidrotermal yang memerlukan pengawasan lebih intensif.

Setelah dilakukan analisis menyeluruh, status Gunung Sangeangapi resmi dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) mulai pukul 06.00 WITA pada 22 November 2025.

Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi PVMBG, antara lain tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah utama dan menjauhi sektor Timur–Tenggara hingga jarak 6,5 kilometer menuju garis pantai.

Langkah ini dinilai penting untuk mengantisipasi potensi erupsi yang dapat meningkat sewaktu-waktu.

Sementara itu, dua gunung berada pada Level III (Siaga), yakni Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Gunung Merapi.

Kedua gunung tersebut menunjukkan aktivitas yang perlu dipantau secara berkala oleh otoritas terkait maupun masyarakat sekitar.

Meski tidak berada pada level tertinggi, posisi Siaga menandakan adanya potensi erupsi yang bisa meningkat apabila dinamika magma dalam tubuh gunung menunjukkan perubahan signifikan.

PVMBG juga melaporkan bahwa lebih dari 20 gunung saat ini berstatus Level II (Waspada).

Daftar gunung tersebut mencakup Anak Krakatau, Awu, Banda Api, Bromo, Dempo, Dieng, Dukono, Gamalama, Ibu, Ili Lewotolok, Karangetang, Kerinci, Lokon, Marapi, Raung, Rinjani, Ruang, Sangeangapi, Sinabung, Slamet, Soputan, serta Iya.

Sebagian besar gunung tersebut memang dikenal aktif dan kerap menunjukkan gejala vulkanik berulang, seperti lontaran abu, hembusan asap, atau gempa vulkanik dangkal dan dalam.

Beberapa di antaranya, seperti Dukono di Maluku Utara, Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu yang berada dalam periode erupsi eksplosif berintensitas rendah dalam beberapa bulan terakhir, tetap dikategorikan stabil pada level Waspada.

Kendati demikian, status stabil tersebut tidak berarti aman sepenuhnya karena karakter vulkanik gunung-gunung tersebut cenderung berubah secara cepat.

Fenomena meningkatnya aktivitas gunung api pada November 2025 bukan hal yang asing bagi Indonesia, negara yang berada di zona Cincin Api Pasifik.

Namun, konsentrasi peningkatan pada bulan ini menunjukkan adanya dinamika regional dalam sistem vulkanik yang perlu dicermati lebih dalam.

Dalam situasi seperti ini, informasi dari PVMBG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi acuan utama bagi publik untuk menentukan aktivitas harian, terutama bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas dekat lereng gunung.

Dengan puluhan gunung yang saat ini menunjukkan aktivitas, kewaspadaan publik harus terus ditingkatkan.

Mobilitas warga yang tinggal, bekerja, atau berwisata di kawasan rawan bencana perlu disesuaikan dengan kondisi terkini di lapangan.

Zona bahaya yang ditetapkan otoritas tidak boleh dilanggar, terutama di gunung dengan dinamika erupsi cepat seperti Semeru dan Sangeangapi.

Indonesia yang dikenal memiliki deretan gunung aktif harus selalu siap menghadapi perubahan aktivitas vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Pemantauan intensif, penyebaran informasi cepat, serta kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi resmi menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana.

Dengan kondisi yang terus bergerak dinamis, situasi ini menjadi pengingat bahwa mitigasi dan kesiapsiagaan adalah bagian penting dalam kehidupan di negara yang dibentuk oleh kekuatan geologi besar di bawah permukaan bumi. (mms)