Cadangan Minyak Venezuela Adalah yang Terbesar di Dunia, Bagaimana Dampaknya bagi Industri Migas Dunia Jika Trump Ambil Alih?

INBERITA.COM, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan rencananya untuk mengendalikan penjualan minyak Venezuela setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Dalam pernyataannya, Trump secara terang-terangan mengaitkan langkah tersebut dengan persoalan cadangan minyak terbesar di dunia yang dimiliki oleh Venezuela. Ia berjanji akan memperbaiki infrastruktur industri minyak Venezuela yang telah rusak parah akibat krisis berkepanjangan dan ketidakstabilan politik.

“Kita akan memastikan itu dijalankan dengan benar. Kita akan membangun kembali infrastruktur minyak, yang akan menelan biaya miliaran dolar,” ujar Trump dalam konferensi pers yang dikutip dari ABC News, Minggu (4/1/2026).

Langkah ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak, namun tidak dapat dipungkiri bahwa Venezuela, dengan cadangan minyak terbukti sebesar 303,22 miliar barel, menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Mengapa Venezuela dengan cadangan minyak terbesar di dunia ini tidak mampu memenuhi kapasitas produksinya?

Venezuela menjadi negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, mengalahkan negara-negara besar penghasil minyak seperti Arab Saudi dan Iran. Berdasarkan data OPEC tahun 2023, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar dengan 303,22 miliar barel.

Angka ini menempatkannya di urutan pertama, jauh mengungguli Arab Saudi yang berada di posisi kedua dengan 267,19 miliar barel dan Iran di posisi ketiga dengan 208,6 miliar barel.

Sebagai informasi, Venezuela merupakan anggota pendiri OPEC bersama dengan Arab Saudi, Iran, Irak, dan negara-negara penghasil minyak lainnya.

Negara ini pernah memproduksi hingga 3,5 juta barel per hari pada tahun 1970-an, yang setara dengan 7% dari produksi minyak dunia. Namun, pada dekade terakhir, produksi minyak Venezuela mengalami penurunan drastis, terutama sejak tahun 2010-an.

Pada tahun 2025, produksi minyak Venezuela tercatat hanya sekitar 1,1 juta barel per hari, atau hanya sekitar 1% dari produksi minyak dunia.

Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk korupsi, lemahnya penegakan hukum, dan pencampuran urusan politik dengan pengelolaan industri migas negara.

Dengan cadangan minyak terbesar dunia, Venezuela seharusnya menjadi salah satu negara penghasil minyak terbesar. Namun, kenyataannya, negara ini justru menghadapi masalah besar terkait produksi minyak.

Penyebab utama dari penurunan produksi minyak Venezuela adalah kebijakan nasionalisasi industri minyak pada dekade 1970-an yang membentuk Petroleos de Venezuela SA (PDVSA).

Pada tahun 1990-an, Venezuela membuka kembali industri minyaknya untuk investasi asing.

Namun, setelah Hugo Chavez terpilih sebagai presiden pada tahun 1999, kebijakan nasionalisasi semakin ketat dengan mewajibkan PDVSA menguasai mayoritas proyek minyak. Ini menyebabkan kerugian besar dan berkurangnya kapasitas produksi.

Masalah korupsi, ketidakstabilan politik, serta ketergantungan pada sanksi internasional, terutama dari Amerika Serikat, turut memperburuk kondisi sektor migas Venezuela.

Sementara itu, negara yang dulu menjadi pembeli utama minyak Venezuela, yaitu Amerika Serikat, kini lebih memilih China sebagai pasar utama ekspor minyak negara tersebut.

Pada satu dekade terakhir, China menjadi pembeli utama minyak Venezuela, menggantikan posisi Amerika Serikat yang sebelumnya menjadi mitra utama Venezuela.

Menurut data yang dilansir dari S&P Global Report sepanjang tahun 2025, China mengimpor lebih dari 400 ribu barel per hari minyak mentah Venezuela, menjadikannya sebagai pembeli terbesar.

Tak hanya itu, Malaysia juga menjadi negara perantara yang penting dalam mengalihkan minyak Venezuela ke China, terutama melalui skema perdagangan yang lebih kompleks untuk menghindari pembatasan kuota impor.

Data dari Vortexa menunjukkan bahwa impor minyak Venezuela oleh China, yang diberi label sebagai minyak mentah Malaysia atau campuran bitumen, rata-rata mencapai sekitar 430.000 barel per hari pada tahun 2023.

Setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Presiden AS Donald Trump langsung menyatakan niatnya untuk mengambil alih pengelolaan cadangan minyak Venezuela.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan minyak terbesar di dunia asal AS siap untuk masuk ke Venezuela, dengan rencana untuk menghabiskan miliaran dolar dalam rangka memperbaiki infrastruktur yang rusak.

“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah,” ujar Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago.

Langkah ini tentu akan mempengaruhi banyak perusahaan energi global, baik yang telah bekerja sama dengan Venezuela seperti Chevron dan Rosneft, maupun perusahaan-perusahaan besar lainnya yang selama ini terhalang oleh sanksi internasional.

Venezuela dengan cadangan minyak terbesar dunia, 303 miliar barel, menjadi negara yang memiliki pengaruh besar dalam pasar energi dunia.

Jika infrastruktur minyak negara ini dapat dipulihkan dan produksinya ditingkatkan, Venezuela dapat kembali menjadi pemain besar di pasar minyak global.

Namun, tantangan besar yang dihadapi adalah stabilitas politik, korupsi, dan ketergantungan pada utang luar negeri, terutama utang kepada China yang diperkirakan mencapai 112,8 miliar USD pada tahun 2023.

Pengambilalihan pengelolaan cadangan minyak Venezuela oleh perusahaan-perusahaan AS tentu akan menambah ketegangan geopolitik, terutama dengan China yang selama ini berperan besar dalam mendukung ekonomi Venezuela melalui pinjaman berbasis minyak. (*)