Bukan Sekadar Meriah, Kembang Api Tahun Baru Berpotensi Tinggalkan Polusi dan Dampak Kesehatan Serius

INBERITA.COM, Perayaan Tahun Baru hampir selalu identik dengan pesta kembang api. Dentuman keras yang memecah malam dan cahaya warna-warni yang menghiasi langit menjadi simbol kemeriahan pergantian tahun di berbagai belahan dunia.

Namun, di balik keindahan visual tersebut, penggunaan kembang api ternyata menyimpan dampak serius terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Fakta ini kerap luput dari perhatian publik karena euforia perayaan yang hanya berlangsung sesaat.

Dilansir dari BBC Science Focus, pertunjukan kembang api sejatinya melepaskan campuran zat kimia berbahaya ke atmosfer.

Warna-warna cerah yang tampak indah di langit malam bukan berasal dari proses alami, melainkan hasil pembakaran senyawa logam tertentu.

Zat-zat ini kemudian mencemari udara, air, hingga tanah di sekitarnya, dan efeknya tidak berhenti tepat setelah pesta usai.

Dalam proses pembuatannya, kembang api menggunakan beragam bahan kimia sintetis. Salah satu yang paling umum adalah senyawa pengoksidasi seperti perklorat.

Zat ini berfungsi membantu proses pembakaran, tetapi dikenal berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan jika terlepas ke alam dalam jumlah besar.

Perklorat dapat mencemari sumber air dan bertahan cukup lama sebelum terurai secara alami.

Untuk menghasilkan warna yang beragam, produsen kembang api menambahkan berbagai logam ke dalam komponennya.

Forbes menjelaskan bahwa setiap warna yang terlihat di langit berasal dari jenis logam yang berbeda.

Warna merah muda dihasilkan dari garam lithium (Li), kuning atau jingga berasal dari natrium (Na), hijau dan biru dihasilkan oleh tembaga (Cu) dan barium (Ba), sedangkan warna merah berasal dari kalsium (Ca) atau strontium (Sr).

Selain logam-logam tersebut, bahan peledak kembang api umumnya merupakan kombinasi arang, belerang, dan kalium nitrat.

Ketika kembang api ditembakkan dan meledak di udara, terjadi serangkaian proses fisika dan kimia.

Forbes menjelaskan bahwa logam berat di dalam kembang api mengalami perubahan fisik, sementara garam logam dan bahan peledak bereaksi secara kimia akibat paparan oksigen selama pembakaran.

Reaksi ini melepaskan berbagai gas ke atmosfer, seperti karbon dioksida (CO₂), karbon monoksida (CO), dan nitrogen oksida (NOx).

Gas-gas tersebut termasuk dalam kategori gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global.

Menariknya, logam-logam yang berfungsi sebagai pemberi warna tidak ikut terbakar habis. Partikel-partikel tersebut berubah menjadi aerosol halus yang kemudian melayang di udara sebelum akhirnya mengendap di air atau tanah.

Partikel inilah yang berisiko terhirup oleh manusia dan hewan, serta menjadi sumber berbagai gangguan kesehatan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kembang api berdampak signifikan terhadap penurunan kualitas udara dalam waktu singkat.

Forbes mencatat bahwa skor Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) dapat melonjak hingga angka 500 setelah perayaan besar, level yang dikategorikan sebagai sangat berbahaya bagi kesehatan.

Salah satu contoh ekstrem terjadi pada perayaan Diwali di India pada 2019, ketika AQI mencapai tingkat tertinggi dan membahayakan kesehatan jutaan orang.

Studi lain juga menemukan bahwa pertunjukan kembang api meningkatkan konsentrasi oksida nitrat (NO), sulfur dioksida (SO₂), partikel halus PM2.5, serta logam berat seperti barium (Ba), strontium (Sr), magnesium (Mg), kalium (K), dan timbal (Pb).

Partikel-partikel tersebut dapat terbawa angin hingga jauh dari lokasi perayaan dan bertahan di udara selama berhari-hari, memperluas dampak polusi ke wilayah lain.

Dari sisi kesehatan, dampak kembang api tidak bisa dianggap sepele. Forbes menyebutkan sebuah studi pada 2010 yang menemukan bahwa paparan polusi akibat kembang api meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 125 persen, serta meningkatkan morbiditas kardiovaskular sebesar 175 persen.

Rumah sakit di berbagai negara juga mencatat lonjakan pasien dengan serangan asma dan gangguan pernapasan lainnya satu hari setelah pesta kembang api digelar.

Risiko cedera fisik juga cukup tinggi. Menurut Agensi Lingkungan Austria atau Umweltbundesamt, sekitar 200 orang mengalami luka parah setiap tahun akibat penggunaan bahan piroteknik yang tidak tepat.

Sebanyak 90 persen insiden tersebut terjadi pada malam Tahun Baru, dengan cedera paling banyak terjadi pada mata, telinga, dan tangan.

Selain itu, kebisingan dari ledakan kembang api dapat memicu stres pada anak-anak, lansia, serta hewan peliharaan dan satwa liar yang sensitif terhadap suara keras.

Dampak lingkungan dari kembang api pun bersifat jangka panjang. Pencemaran air dan tanah menjadi salah satu masalah terbesar.

Penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi perklorat dalam air dapat meningkat hingga 1.028 kali lipat hanya beberapa jam setelah pertunjukan kembang api dan membutuhkan waktu antara 20 hingga 80 hari untuk menghilang secara alami.

Logam berat dari debu kembang api dapat mengendap di tanah dan perairan, sementara sisa plastik dari selongsong kembang api berpotensi menjadi mikroplastik yang sulit terurai.

Hewan ternak dan satwa liar juga berisiko menelan residu beracun tersebut secara tidak sengaja.

Melihat besarnya dampak negatif yang ditimbulkan, sejumlah alternatif ramah lingkungan mulai dilirik sebagai pengganti pesta kembang api.

Pertunjukan lampu atau laser dinilai lebih aman, tidak bising, dan tidak menghasilkan polutan berbahaya.

Perayaan sederhana bersama keluarga atau komunitas kecil juga dapat mengurangi jejak karbon.

Sebagian orang memilih berwisata alam atau berkemah untuk menyambut Tahun Baru dengan suasana yang lebih tenang dan minim limbah, sementara yang lain menghabiskan malam pergantian tahun dengan kegiatan sosial atau menjadi sukarelawan.

Meski kembang api telah lama menjadi bagian dari tradisi perayaan Tahun Baru, fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan sangat besar.

Mulai dari polusi udara, pencemaran air dan tanah, hingga risiko cedera fisik, semuanya menjadi alasan kuat untuk mempertimbangkan cara merayakan Tahun Baru yang lebih aman dan berkelanjutan.

Mengubah kebiasaan mungkin tidak mudah, tetapi langkah kecil menuju perayaan yang ramah lingkungan dapat memberikan manfaat besar bagi bumi dan generasi mendatang.