INBERITA.COM, Kinerja keuangan Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025 mencatatkan penurunan laba secara tahunan (year on year / YoY).
Namun, meskipun mengalami penurunan laba secara keseluruhan, bank yang dikenal dengan kode saham BBNI ini menunjukkan adanya pemulihan di kuartal III dengan pencapaian laba yang lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan BNI kuartal III yang dirilis pada Jumat, 24 Oktober 2025, laba bersih yang tercatat sepanjang periode Januari-September 2025 mencapai Rp 15,11 triliun.
Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 7,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Namun, pada kuartal III saja, laba bersih BNI tercatat mencapai Rp 5,02 triliun, yang menunjukkan kenaikan 6,5% dibandingkan dengan laba yang tercatat pada kuartal II 2025, yang sebesar Rp 4,71 triliun.
Penurunan laba secara tahunan disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga bersih yang turun 0,6% menjadi Rp 29,25 triliun. Hal ini disebabkan oleh peningkatan beban bunga yang naik sebesar 13% secara tahunan menjadi Rp 21,19 triliun.
Meski demikian, pendapatan bunga BNI masih menunjukkan kenaikan 4,8% secara tahunan, tercatat sebesar Rp 51,1 triliun.
Pada kuartal III 2025, pendapatan bunga bersih mencapai Rp 9,73 triliun, yang tumbuh 0,6% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Selain itu, biaya provisi BNI juga tercatat meningkat sebesar 13,6%, menjadi Rp 6,12 triliun. Kendati demikian, pendapatan nonbunga BNI mengalami kenaikan sebesar 2,5% secara tahunan, dengan total pendapatan nonbunga mencapai Rp 17,2 triliun.
Meski ada penurunan di beberapa sektor, kinerja intermediasi BNI menunjukkan perbaikan yang signifikan, terutama dalam hal pertumbuhan kredit.
Dari sisi fungsi intermediasi, kinerja kredit BNI terus membaik, dengan outstanding kredit yang tercatat mencapai Rp 812,2 triliun pada akhir September 2025.
Angka ini menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 10,5%, yang mencerminkan kemampuan BNI dalam meningkatkan penyaluran kredit.
Pertumbuhan kredit ini juga disertai dengan kualitas aset yang tetap terjaga, tercatat dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan / NPL) yang stabil di level 2%.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) BNI mengalami lonjakan yang signifikan, tercatat naik 21,4% secara tahunan, mencapai Rp 934,3 triliun. Kenaikan ini didorong oleh penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sebesar Rp 55 triliun di BNI.
Deposito BNI meningkat 40,4% menjadi Rp 320,9 triliun, sementara dana murah atau dana yang berasal dari simpanan giro dan tabungan juga tumbuh 13,3% menjadi Rp 613,3 triliun.
Namun, di tengah pertumbuhan dana yang signifikan, biaya dana atau cost of fund BNI juga mengalami sedikit peningkatan, tercatat naik menjadi 2,8% pada sembilan bulan pertama 2025, dibandingkan dengan 2,7% pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan biaya dana ini memberikan tekanan terhadap margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM), yang turun menjadi 3,8% dibandingkan dengan 3,9% pada sembilan bulan pertama 2024.
Menanggapi kondisi ini, BNI memutuskan untuk menurunkan target NIM sepanjang tahun 2025 menjadi 3,7% dari semula 3,8%. Penurunan target ini diperkirakan sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian kondisi pasar dan biaya dana yang lebih tinggi.
Meski demikian, target kredit BNI tetap dipertahankan di kisaran 8%-10% untuk tahun ini, meskipun capaian kredit per September 2025 sudah melampaui target tersebut.
Selain itu, rasio biaya kredit (cost of credit) yang menjadi salah satu indikator penting dalam pengelolaan risiko kredit juga ditargetkan untuk tetap berada pada level 1%.
Secara keseluruhan, meskipun kinerja keuangan BNI sepanjang sembilan bulan pertama 2025 mengalami penurunan laba tahunan, namun perusahaan berhasil menunjukkan adanya pemulihan yang signifikan pada kuartal III, dengan laba yang lebih tinggi dibandingkan kuartal II.
BNI juga berhasil menjaga kualitas aset dan memperkuat posisi likuiditas dengan pertumbuhan kredit yang solid dan dana pihak ketiga yang meningkat pesat.
Meski ada tantangan terkait biaya dana dan margin bunga bersih yang menurun, BNI tetap optimis dengan target-target yang telah ditetapkan dan berkomitmen untuk terus menjaga kinerja positif hingga akhir tahun. (xpr)