Bitcoin Cetak Rekor Tertinggi Baru, Sentuh Angka 2,07 Miliar di Tengah Euforia ETF dan Sinyal Pemangkasan Suku Bunga

INBERITA.COM, Harga Bitcoin kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (All-Time High) pada awal Oktober 2025.

Kenaikan ini terjadi di tengah kombinasi sejumlah faktor, mulai dari menguatnya kinerja ETF Bitcoin milik BlackRock hingga ekspektasi kuat pasar terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).

Pada Minggu, 5 Oktober 2025, harga Bitcoin melonjak 2,7 persen dan diperdagangkan di level 125.245,57 dolar AS, atau sekitar Rp2,07 miliar (dengan asumsi kurs Rp16.583 per dolar AS) pada pukul 05.12 GMT.

Angka ini sekaligus memecahkan rekor sebelumnya yang tercatat pada pertengahan Agustus 2025, saat Bitcoin menyentuh 124.480 dolar AS atau setara Rp2,06 miliar.

Lonjakan harga terbaru ini menunjukkan semakin menguatnya sentimen positif terhadap aset kripto, terutama di kalangan investor institusional.

Dukungan kebijakan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai lebih ramah terhadap kripto menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga sejak kuartal ketiga 2025.

Menurut laporan dari Reuters, peningkatan harga juga didorong oleh tren positif indeks saham Amerika Serikat, serta arus dana yang semakin deras ke produk-produk investasi berbasis kripto, terutama exchange-traded fund (ETF) Bitcoin.

Salah satu faktor pendorong paling signifikan adalah performa impresif dari iShares Bitcoin Trust (IBIT), ETF milik raksasa keuangan BlackRock.

Menurut Yahoo Finance, IBIT baru saja menembus jajaran 20 ETF terbesar di Amerika Serikat berdasarkan total nilai aset kelolaan.

Saat ini, IBIT telah mengelola dana lebih dari 90 miliar dolar AS, atau sekitar Rp1.492 triliun, menjadikannya ETF yang paling cepat masuk daftar tersebut sepanjang sejarah pasar modal AS.

Kinerja spektakuler IBIT mempertegas meningkatnya minat dari investor besar terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai.

Dengan likuiditas tinggi dan struktur investasi yang terjamin regulasinya, ETF menjadi pintu masuk utama bagi dana institusional yang selama ini masih ragu-ragu terhadap aset kripto.

Tak hanya itu, momentum penguatan Bitcoin juga diperkuat oleh kebijakan moneter Amerika Serikat.

Bulan lalu, Federal Reserve resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 persen, menjadi pemotongan pertama sejak Desember 2024. Pasar menanggapi langkah ini dengan ekspektasi pemangkasan lanjutan.

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa para pelaku pasar memperkirakan peluang 96 persen akan ada penurunan suku bunga tambahan sebesar 0,25 persen pada Oktober ini.

Selain itu, probabilitas pemotongan suku bunga kembali pada Desember 2025 juga diperkirakan mencapai 86 persen.

Prospek kebijakan moneter yang lebih longgar ini membuat aset non-yielding seperti Bitcoin dan emas semakin diminati sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang.

Di sisi lain, nilai tukar dolar AS mengalami tekanan terhadap beberapa mata uang utama dunia.

Ketidakpastian yang disebabkan oleh potensi penghentian operasional pemerintahan AS (government shutdown) turut menekan performa greenback. Akibatnya, beberapa data ekonomi penting, termasuk laporan ketenagakerjaan bulanan, tertunda perilisannya.

Analis dari JPMorgan turut memberikan proyeksi optimistis terhadap masa depan Bitcoin. Dalam catatan analis yang dipublikasikan akhir pekan lalu, JPMorgan memperkirakan harga Bitcoin dapat menembus level 165.000 dolar AS atau sekitar Rp2,74 miliar pada akhir tahun 2025.

Proyeksi ini mengacu pada pola investasi yang mereka sebut sebagai “debasement trade”, di mana investor cenderung keluar dari dolar AS dan beralih ke aset lindung nilai seperti emas dan kripto dalam menghadapi potensi depresiasi nilai mata uang fiat.

Menurut para analis tersebut, Bitcoin kini tidak lagi dipandang semata sebagai aset spekulatif, melainkan sebagai bagian dari portofolio diversifikasi jangka panjang, terutama dalam menghadapi gejolak ekonomi global.

Lonjakan harga ini sekaligus menegaskan pergeseran narasi terhadap Bitcoin di pasar global.

Jika sebelumnya dianggap sebagai aset volatil dan tidak stabil, kini Bitcoin mulai dianggap sebagai instrumen investasi yang kredibel, apalagi dengan dukungan regulasi dan partisipasi aktif dari institusi keuangan besar.

Dengan peluncuran ETF yang semakin luas, potensi kebijakan moneter yang longgar, serta minat investor global yang terus meningkat, Bitcoin tampaknya memasuki era baru sebagai aset utama dalam strategi lindung nilai modern.

Namun, para pelaku pasar tetap disarankan untuk mencermati dinamika pasar secara berkala, termasuk perkembangan makroekonomi dan kebijakan regulator, yang bisa memberikan dampak signifikan terhadap harga kripto di masa mendatang.

Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Bitcoin akan terus menorehkan rekor demi rekor, dan semakin memperkuat posisinya sebagai “emas digital” di era keuangan baru. (xpr)