Bitcoin Alami Penurunan Harga Terbesar Sejak Juni 2025, Apa yang Menggerakkan Pasar dan Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

INBERITA.COM, Harga Bitcoin kembali mengalami penurunan yang signifikan pada awal November 2025. Pada Selasa (4/11), mata uang kripto pertama di dunia ini terpantau turun hingga 7,4 persen, bahkan sempat jatuh di bawah USD 100.000 untuk pertama kalinya sejak bulan Juni lalu.

Penurunan ini membawa nilai Bitcoin lebih dari 20 persen di bawah puncak tertinggi yang tercatat pada bulan sebelumnya.

Meski mengalami penurunan tajam, pada Rabu (5/11) pagi waktu New York, Bitcoin sempat mengalami sedikit pemulihan dengan kenaikan 1,7 persen.

Namun, sebagian trader dan analis mulai mencermati bahwa penurunan kali ini kemungkinan besar mencerminkan sebuah dinamika pasar yang lebih mendasar, yakni adanya penurunan keyakinan di kalangan para pemegang Bitcoin.

Menurut Markus Thielen, Kepala 10x Research, penurunan harga Bitcoin kali ini tidak terkait dengan tekanan leverage seperti yang terjadi pada aksi jual besar-besaran pada bulan Oktober 2025.

Sebaliknya, kali ini dipicu oleh keputusan para pemegang Bitcoin jangka panjang yang mulai melepas kepemilikan mereka.

Dalam sebulan terakhir, sekitar 400.000 Bitcoin yang senilai lebih dari USD 45 miliar (sekitar Rp 752 triliun) telah dijual, menyebabkan ketidakseimbangan pasar yang cukup signifikan.

“Lebih dari 319.000 Bitcoin kembali aktif dalam sebulan terakhir, sebagian besar berasal dari koin yang telah disimpan antara enam hingga dua belas bulan. Hal ini menunjukkan adanya aksi ambil untung besar-besaran sejak pertengahan Juli 2025,” ujar Vetle Lunde, Kepala Riset di K33, yang turut menganalisis tren pasar ini.

Meskipun sebagian aktivitas ini berasal dari transfer internal, sebagian besar mencerminkan penjualan nyata oleh para pemegang lama.

Berbeda dengan penurunan besar yang terjadi pada bulan Oktober 2025, yang disebabkan oleh likuidasi paksa di pasar berjangka, kali ini penurunan harga Bitcoin lebih didorong oleh tekanan jual yang berkelanjutan di pasar spot.

Ini menunjukkan adanya pergeseran pola di pasar kripto, di mana sebelumnya, lonjakan volatilitas sering terjadi karena adanya likuidasi besar-besaran, tetapi kali ini, pola tersebut cenderung lebih stabil dengan penurunan bertahap.

Menurut data dari CoinGlass, sekitar USD 2 miliar posisi kripto telah dilikuidasi dalam 24 jam terakhir. Meski demikian, angka ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan USD 19 miliar yang dilikuidasi selama crash besar pada bulan September 2025.

Meski demikian, minat terbuka pada kontrak berjangka Bitcoin terpantau tetap lemah. Beberapa trader opsi kini beralih untuk bertaruh pada penurunan lebih lanjut dengan memasang kontrak put yang menargetkan level USD 80.000.

Dalam hal ini, perhatian kini beralih pada pemegang lama yang mulai melepas kepemilikan Bitcoin mereka.

Markus Thielen mengungkapkan bahwa ketidakseimbangan yang semakin besar antara jumlah penjualan dari pemegang lama dan pembelian oleh investor baru mulai memengaruhi arah pasar.

Selain itu, banyaknya transaksi besar yang datang dari pemegang Bitcoin dengan jumlah besar (lebih dari 100 Bitcoin) menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas pasar saat ini lebih didorong oleh keputusan pemegang besar ketimbang trader baru.

Pada awal tahun 2025, beberapa entitas besar yang memegang antara 1.000 hingga 10.000 Bitcoin atau yang biasa disebut dengan mega whale, mulai melepaskan kepemilikan mereka. Hal ini terjadi meski beberapa investor institusional berusaha menyerap pasokan yang ada.

Fenomena ini turut menjelaskan mengapa pergerakan Bitcoin cenderung lebih datar sepanjang musim panas 2025. Namun, setelah kejatuhan harga pada 10 Oktober, permintaan dari pasar lebih luas mulai menghilang.

Markus mencatat bahwa beberapa indikator on-chain yang digunakan untuk memantau sentimen pasar telah ditembus, yang mengindikasikan bahwa banyak orang kini merugi dan terpaksa menutup posisi mereka.

Ini mengarah pada penurunan tajam dalam akumulasi Bitcoin, khususnya oleh mereka yang memegang antara 100 hingga 1.000 Bitcoin. Di sisi lain, para whale yang sebelumnya menjadi pendorong utama pembelian Bitcoin kini tidak lagi aktif membeli.

Kondisi ini berpotensi bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Markus Thielen memperingatkan bahwa fase pelepasan Bitcoin oleh pemegang besar bisa berlangsung hingga musim semi 2026.

Ia merujuk pada kondisi pasar bearish yang terjadi pada periode 2021 hingga 2022, di mana lebih dari satu juta Bitcoin terjual oleh pemegang besar dalam waktu hampir satu tahun, dan hal serupa bisa terulang.

“Jika laju pelepasan ini berlanjut, kita mungkin akan melihat kondisi pasar yang stagnan hingga enam bulan ke depan,” kata Markus.

Meskipun demikian, ia tidak memprediksi kejatuhan besar pada harga Bitcoin, melainkan fase konsolidasi yang bisa menyebabkan harga sedikit lebih turun lagi.

USD 85.000 merupakan level penurunan yang diperkirakan sebagai target maksimum dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, pasar Bitcoin saat ini sedang berada dalam fase yang penuh ketidakpastian, dengan penurunan yang didorong oleh faktor internal pasar, yakni penjualan oleh pemegang lama.

Para trader dan investor kini perlu berhati-hati dalam mengamati pergerakan pasar kripto, terutama dengan adanya sinyal-sinyal dari para mega whale yang mulai melepas Bitcoin mereka.

Pasar yang cenderung tidak seimbang ini membuka kemungkinan untuk penurunan harga lebih lanjut, meskipun belum dapat dipastikan apakah penurunan tersebut akan berlanjut dalam waktu dekat.