INBERITA.COM, Potret citra satelit milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat mempublikasikan kondisi terkini wilayah Indonesia yang terselimut asap.
Unggahan yang dibagikan melalui akun resmi X @NASAEARTH tersebut memperlihatkan secara jelas Pulau Kalimantan yang tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Penampakan fenomena alam tersebut mendadak viral serta menjadi pusat perhatian warganet di platform media sosial X.
Hingga saat ini, unggahan citra satelit antariksa tersebut telah ditonton sebanyak 1,3 juta kali dan memicu beragam tanggapan dari publik.
Berdasarkan rekaman citra udara yang dibagikan, data visual tersebut menampilkan kondisi nyata wilayah Indonesia pada tanggal 1 September 2026. Dokumentasi ilmiah dari ruang angkasa ini dihasilkan berdasarkan hasil pengamatan langsung dari satelit Aqua milik NASA.
Pada gambar penginderaan jauh tersebut, terlihat jelas sejumlah titik merah yang tersebar di beberapa lokasi wilayah Indonesia. Titik merah tersebut menandai lokasi anomali panas yang terindikasi kuat sebagai titik aktivitas kebakaran darat.
Identifikasi titik panas tersebut mengandalkan instrumen canggih berupa Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer. Sensor yang dikenal secara luas dengan sebutan MODIS ini terpasang dan beroperasi secara aktif pada satelit Aqua milik NASA.
Pengamatan rinci dari sensor MODIS berhasil mendeteksi secara presisi adanya pemusatan titik api di wilayah Indonesia. Hasil pendeteksian instrumen antariksa tersebut menunjukkan adanya aktivitas kebakaran yang berlangsung di beberapa wilayah Pulau Kalimantan.
Menanggapi hasil pengamatan satelit tersebut, akun resmi X @NASAEARTH turut memberikan keterangan tertulis pada unggahan gambar udara tersebut. Penjelasan resmi tersebut memberikan gambaran umum mengenai situasi kekeringan parah yang sedang melanda tanah air.
Melalui pindaian data antariksa tersebut, pihak NASA menuliskan keterangan langsung dalam bahasa Inggris, “Fires are smoldering in Indonesia, which is in a severe and widespread drought. Some of these are tropical peatland fires, which burn slowly, release higher amounts of air pollution, and are notoriously difficult to extinguish”.
Keterangan tertulis tersebut menegaskan bahwa kebakaran masih terus terjadi dan membara di Indonesia yang tengah dilanda kekeringan parah serta meluas. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sebagian di antaranya merupakan peristiwa kebakaran lahan gambut tropis.
Pihak NASA menggarisbawahi bahwa kebakaran lahan gambut tropis memiliki sifat terbakar secara perlahan namun memicu dampak lingkungan yang serius.
Karakteristik pembakaran tersebut melepaskan polusi udara dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dan terkenal sangat sulit untuk dipadamkan.
Penjelasan mendalam mengenai krisis lingkungan ini juga ditayangkan secara resmi pada situs science.nasa.gov yang dikutip pada tanggal 04/08. Publikasi di laman resmi tersebut menyajikan analisis ilmiah terkait fenomena kebakaran yang melanda kawasan gambut di Indonesia.
Menurut penilaian komprehensif NASA, peristiwa kebakaran lahan gambut yang terjadi di Indonesia belakangan ini memiliki tingkat keparahan yang sangat tinggi.
Lembaga antariksa tersebut mengategorikan kebakaran lahan gambut tersebut termasuk yang paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir.
Analisis dari situs science.nasa.gov menerangkan bahwa kebakaran lahan gambut di Indonesia terjadi khusus pada kawasan lahan basah.
Area lahan basah yang seharusnya tergenang air tersebut mengalami penurunan drastis pasokan air akibat fenomena kekeringan parah.
Dampak dari kekeringan yang meluas menyebabkan kondisi tanah gambut di kawasan lahan basah tersebut mengering secara substansial. Perubahan kondisi fisik tanah inilah yang memicu rangkaian kesulitan besar dalam proses penanggulangan api di lapangan.
Kondisi tanah gambut yang mengering secara masif membuat peristiwa kebakaran menjadi jauh lebih sulit dikendalikan oleh petugas. Hal ini disebabkan oleh sifat alami material gambut yang memungkinkan api dapat terus hidup serta membara meskipun berada dalam suhu yang rendah.
Ancaman kebakaran lahan gambut tidak hanya berhenti pada bagian atas tanah atau permukaan vegetasi saja. Kobaran api bahkan memiliki kemampuan unik untuk merambat terus ke bawah permukaan tanah melalui lapisan gambut yang sangat luas.