Bandung Kehilangan 800 Ribu Wisatawan Mancanegara Setiap Tahun karena Bandara Husein Sastranegara Ditutup

INBERITA.COM, Pemerintah Kota Bandung kembali menyuarakan keprihatinan atas dampak penutupan penerbangan internasional di Bandara Husein Sastranegara yang dinilai memukul sektor pariwisata kota.

Sejak seluruh penerbangan dialihkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka pada Oktober 2023, Kota Bandung disebut kehilangan ratusan ribu wisatawan mancanegara (wisman) setiap tahunnya.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa dampak kebijakan tersebut sangat signifikan terhadap ekonomi lokal. Ia menyebut angka kehilangan wisatawan asing mencapai 800 ribu orang per tahun sejak penerbangan internasional dihentikan di Bandara Husein.

“Itu opportunity cost yang besar sekali. Saya akan terus memperjuangkan agar (Bandara) Husein dibuka kembali,” kata Farhan dalam keterangan tertulis, Kamis (18/9/2025).

Menurut Farhan, aksesibilitas menjadi faktor krusial dalam menarik kunjungan wisatawan. Posisi Bandara Husein Sastranegara yang berada di dalam kota memberikan kenyamanan bagi turis, terutama mereka yang memiliki waktu singkat atau datang dalam rangka bisnis dan liburan singkat.

“Kalau harus ke Kertajati, itu memakan waktu dan biaya lebih. Maka Husein punya nilai strategis,” tegasnya.

Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Bandung terus berupaya menjaga kunjungan wisatawan melalui penyelenggaraan berbagai event sepanjang tahun.

Farhan mencontohkan, pada triwulan II 2025, sejumlah acara besar yang digelar setelah Lebaran terbukti mampu menarik ribuan pengunjung ke Bandung.

“Dari data, setiap event bisa mendatangkan ribuan wisatawan. Sekitar 70 persen di antaranya dari luar Bandung, dan 40 persen pasti menginap. Itu artinya perputaran ekonomi besar,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa penyelenggaraan event bukan sekadar hiburan, tetapi juga instrumen penggerak ekonomi yang melibatkan berbagai sektor sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM lokal.

“Orang sering tanya kenapa saya gencar dukung event seperti Pocari Run. Jawabannya jelas, event mendatangkan wisatawan, menciptakan lapangan kerja, dan menghidupkan ekonomi,” tambah Farhan.

Namun, upaya menjaga vitalitas pariwisata ini dinilai belum cukup tanpa dukungan infrastruktur transportasi yang memadai, khususnya keberadaan bandara internasional di dekat kota.

Farhan pun kembali menyerukan kepada pemerintah pusat untuk segera mengaktifkan kembali Bandara Husein Sastranegara guna menunjang pemulihan sektor pariwisata dan perekonomian lokal.

“Kalau Husein dibuka, pariwisata Bandung akan bergerak lagi. Dan dampaknya bukan cuma buat Bandung, tapi juga untuk Jawa Barat,” ujar Farhan.

Ia juga menyoroti beban keuangan yang ditanggung Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) akibat operasional Bandara Kertajati yang hingga kini belum menunjukkan performa optimal.

Farhan menyebut, saat ini Pemprov Jabar harus menanggung kerugian hingga lebih dari Rp60 miliar per tahun untuk menopang bandara tersebut, sementara dampaknya terhadap perekonomian belum sepadan.

“Saya sangat menghargai upaya Pak Gubernur yang sejak Februari sudah berdiskusi serius dengan kami. Tapi sepertinya situasi sudah mulai kepepet,” ujarnya lagi.

Desakan untuk mengembalikan fungsi Bandara Husein sebagai pintu gerbang internasional dinilai semakin mendesak, seiring perlambatan sektor pariwisata yang sebelumnya menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Kota Bandung.

Dengan potensi wisata yang besar, keberadaan bandara internasional dalam kota dinilai akan memulihkan arus kunjungan wisatawan dan memperkuat daya saing Bandung sebagai destinasi unggulan nasional.

Wali Kota Bandung pun menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa kebijakan reaktivasi Bandara Husein akan menjadi langkah strategis yang tidak hanya memulihkan ekonomi lokal, tetapi juga memperkuat konektivitas Jawa Barat secara keseluruhan. (xpr)