INBERITA.COM, Bir tanpa alkohol, kudapan kacang, hingga layar lebar bertema olahraga kini menjadi pemandangan baru yang semakin lazim di Riyadh, Arab Saudi.
Nuansa ala pub—yang selama puluhan tahun nyaris tak terbayangkan muncul di jantung negeri konservatif itu—kini dihadirkan oleh sejumlah kafe yang menawarkan pengalaman “minum bir” tanpa risiko mabuk, baik bagi pelanggan pria berjubah putih maupun perempuan bercadar yang mulai mencari suasana berbeda.
“Idenya adalah menawarkan pengalaman orisinal kepada pelanggan yang dapat mereka bagikan di media sosial,” ujar Abdallah Islam, manajer kafe A12 di Riyadh, kepada AFP.
Di kafe tersebut, pengunjung perempuan Arab Saudi sesekali mengangkat cadarnya untuk menyesap bir dingin bebas alkohol.
Pemandangan itu memperlihatkan perubahan sosial yang berjalan perlahan namun nyata di bawah gelombang reformasi kerajaan.
“Apakah ada alkohol di sini?” tanya seorang pelanggan sambil menatap gelasnya dengan ragu.
Pertanyaan itu menggambarkan suasana ganjil namun menarik bagi kaum muda yang penasaran dengan pengalaman baru yang tetap berada dalam batas nilai agama dan sosial.
Perubahan kultur terlihat jelas di Kafe A12 yang berdiri di salah satu jalan tersibuk Riyadh. Jendela depan menampilkan gambar bir berbusa berukuran besar—ikon yang dulunya mustahil dipasang secara terang-terangan.
Sejak mulai menyajikan bir draft Warsteiner asal Jerman berkadar alkohol 0,0 persen pada April lalu, kafe tersebut hampir tak pernah sepi pengunjung.
Bir non-alkohol itu dituang langsung dari keran dan disajikan dalam gelas besar, dilengkapi kacang yang menjadi kudapan khas pub.
Para pengunjung muda mengenakan gamis putih mengabadikan momen tersebut dengan ponsel, sementara pelayan menarik bir dari balik meja bar hitam mengilap.
Di sudut ruangan, layar televisi menayangkan pertandingan sepak bola, menciptakan suasana pub modern ala Riyadh yang menjadi magnet baru bagi generasi muda.
Fenomena ini muncul seiring langkah reformasi besar yang dijalankan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam beberapa tahun terakhir.
Bioskop kembali dibuka, perempuan diizinkan mengemudi, turis asing mulai berdatangan, dan industri hiburan berkembang pesat.
Meski begitu, aturan soal alkohol tetap menjadi batasan paling sensitif yang dipertahankan kerajaan.
Arab Saudi telah melarang minuman keras sejak 1952, setelah putra Raja Abdulaziz saat itu mabuk dan secara tragis menembak mati seorang diplomat Inggris.
Sejak saat itu, larangan alkohol diberlakukan ketat dan menjadikan Arab Saudi serta Kuwait sebagai dua negara Teluk yang sama sekali tidak memperbolehkan konsumsi alkohol.
Selama bertahun-tahun, sebagian warga memilih membuat anggur ilegal secara sembunyi-sembunyi, sementara lainnya mengandalkan pasar gelap di mana harga sebotol wiski bisa mencapai ratusan dolar.
Kendati demikian, perubahan kecil mulai terlihat. Pada Januari 2024, kerajaan membuka toko minuman keras khusus diplomat non-Muslim di Riyadh.
Meski begitu, pemerintah menegaskan alkohol tidak akan disajikan selama Piala Dunia 2034.
“Kerajaan harus berhati-hati dengan potensi legalisasi alkohol, karena hal itu akan bertentangan dengan citranya sebagai pemimpin dunia Islam yang kredibel,” kata Sebastian Sons dari lembaga riset Jerman CARPO.
Di tengah perdebatan soal batas perubahan sosial itu, Kafe A12 justru menjadi pusat perhatian baru. Bir 0,0 persen yang mereka tawarkan menarik minat banyak anak muda Saudi yang ingin merasakan pengalaman berbeda—tanpa risiko melanggar aturan agama maupun hukum negara.
“Tampilannya menakutkan, seperti alkohol,” kata Sheikha (18), yang meminta hanya disebut nama depannya. “Kata ‘bir’ saja sudah menakutkan. Tapi saya berhasil mengatasi rasa takut saya, dan sejujurnya, rasanya menyegarkan,” ujarnya sambil tertawa.
Ia mengaku datang ke kafe setelah melihat video viral tentang tempat tersebut di TikTok, memperlihatkan bagaimana media sosial menjadi faktor pendorong kuat dalam perubahan gaya hidup generasi muda Saudi.
Bagi manajemen kafe, A12 dirancang bukan untuk menantang aturan, melainkan memberikan pengalaman baru yang tetap menghormati norma.
Ini menjadi tantangan tersendiri di negara dengan populasi muda yang besar, yang umumnya ingin mengeksplorasi hal-hal baru namun tetap terikat pada nilai-nilai sosial dan agama yang mengakar kuat.
“Di negara kami, tidak ada minuman beralkohol,” kata Ahmed Mohammed (18) sambil menunjukkan gelas kosongnya. “Dan kami tidak ingin ada minuman beralkohol,” tegasnya.
Meski demikian, kehadiran bir bebas alkohol ini telah membuka ruang baru bagi anak muda Saudi untuk berkumpul dan menikmati suasana yang selama ini hanya mereka lihat melalui layar atau saat bepergian ke luar negeri.
Kafe-kafe seperti A12 memperlihatkan bagaimana Arab Saudi kini mencoba menyeimbangkan antara modernisasi dan konservatisme—menghadirkan inovasi gaya hidup yang tetap berada dalam batas syariah, sembari menjawab rasa ingin tahu generasi mudanya. (mms)