Anwar Ibrahim Tegas: Harga RON95 Tidak Naik, Malaysia Abaikan Rekomendasi Bank Dunia

INBERITA.COM, Pemerintah Malaysia menegaskan tidak akan mengikuti rekomendasi Bank Dunia untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memastikan harga bensin RON95 tetap dipertahankan pada level 1,99 ringgit Malaysia atau setara Rp 8.078 per liter untuk warga negara Malaysia.

Keputusan ini sekaligus menandai sikap resmi pemerintah yang menolak tekanan lembaga internasional terkait reformasi subsidi energi.

Harga RON95 di Malaysia menjadi sorotan karena merupakan jenis BBM yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.

Di Indonesia, RON95 setara dengan Pertamax Green Pertamina, Shell V-Power, BP Ultimate, hingga Vivo Revvo 95.

Kebijakan Malaysia mempertahankan harga RON95 berpotensi menciptakan perbandingan baru dengan harga BBM di Indonesia, terutama di tengah tingginya sensitivitas publik terhadap isu kenaikan harga bahan bakar.

Pernyataan Anwar disampaikan dalam penyampaian Rancangan Undang-Undang Penyediaan (2026) di Dewan Negara.

Ia mengungkapkan bahwa Bank Dunia sebelumnya mengusulkan agar pemerintah menaikkan harga semua jenis bensin menjadi 2,65 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 10.757 per liter.

Rekomendasi tersebut dilandasi gagasan bahwa kenaikan harga dapat diimbangi dengan pemberian subsidi hanya kepada kelompok tertentu.

“Dan kemudian memberikan subsidi untuk kategori tertentu,” kata Anwar, sebagaimana dilaporkan Malay Mail pada Selasa (2/12/2025).

Namun, Anwar menegaskan bahwa dirinya bersama anggota kabinet telah sepakat menolak usulan tersebut.

Pemerintah justru memilih mempertahankan harga RON95 agar tetap terjangkau bagi sebagian besar masyarakat.

Keputusan itu, menurut Anwar, merupakan bentuk keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan publik, khususnya kelompok berpendapatan rendah yang paling rentan terhadap kenaikan harga energi.

Harga RON95 saat ini ditetapkan pada dua tingkatan, yakni 1,99 ringgit Malaysia (Rp 8.078) per liter untuk warga lokal dan 2,60 ringgit Malaysia (Rp 10.554) per liter untuk warga negara asing.

Skema dua harga ini menjadi salah satu cara pemerintah membatasi subsidi agar tidak dinikmati pihak yang tidak berhak.

Anwar menjelaskan bahwa pemerintah berkomitmen melanjutkan pendekatan subsidi tertarget untuk RON95 melalui program Budi Madani RON95 (Budi95).

Menurutnya, skema subsidi ini telah mendapatkan sambutan baik dari masyarakat karena dinilai lebih tepat sasaran.

“Ini menunjukkan bahwa pendekatan kami (pemerintah) bijaksana dan kami mengambil tindakan yang dapat bermanfaat bagi rakyat. Alhamdulillah, subsidi RON95 yang ditargetkan di seluruh Malaysia telah mendapat respons yang sangat baik dan positif,” ujarnya.

Sebagai Menteri Keuangan, Anwar menambahkan bahwa penargetan subsidi secara komprehensif memastikan mayoritas warga negara tetap menerima bantuan.

Di sisi lain, kebijakan ini juga menekan kebocoran subsidi kepada non-warga negara dan pelaku usaha yang sebelumnya kerap memanfaatkan harga BBM yang terlalu murah.

“Ketika pemerintah mengakhiri subsidi untuk ayam dan telur dan mempertahankan harganya, pemerintah memastikan harga tetap stabil, pasokan mencukupi, dan masyarakat tidak terdampak,” kata Anwar, mencontohkan keberhasilan kebijakan serupa di sektor pangan.

Di tengah dorongan untuk mereformasi anggaran, Anwar memastikan pemerintah tidak akan memberlakukan pajak baru dalam waktu dekat.

Ia menegaskan bahwa fokus utama adalah memperbaiki tata kelola, meningkatkan kepatuhan pajak, serta menerapkan subsidi yang lebih tepat sasaran.

Langkah ini, menurut Anwar, memungkinkan pemerintah meningkatkan alokasi anggaran tanpa menambah beban masyarakat.

Biasanya, ketika pemerintah mengumumkan pengeluaran tambahan, kebijakan tersebut dibarengi dengan penerapan pajak baru. Tetapi kali ini berbeda.

Anwar menyebut Malaysia dapat memperbesar anggaran secara signifikan karena program subsidi tertarget dan sejumlah langkah efisiensi, termasuk penghematan dan pencegahan kebocoran.

“Jika pemerintah federal dapat melakukan hal ini, saya ingin mendesak pemerintah negara bagian untuk melakukan hal yang sama dan berhati-hati agar langkah-langkah dan perpajakan baru tidak membebani masyarakat,” tuturnya.

Keputusan Malaysia mempertahankan harga BBM RON95 di level Rp 8.078 per liter semakin mengukuhkan posisi negara tersebut sebagai salah satu dengan harga bahan bakar termurah di kawasan.

Sebelumnya, Malaysia juga sempat menurunkan harga BBM RON95 menjadi Rp 7.864, menjadikannya lebih murah dari Pertalite di Indonesia.

Kebijakan ini menarik perhatian karena terjadi di tengah tren global kenaikan harga energi dan tekanan fiskal yang dihadapi banyak negara.

Di saat negara lain mempertimbangkan penyesuaian harga BBM atau pengurangan subsidi, Malaysia justru mengambil langkah berbeda dengan mempertahankan harga rendah dan mengoptimalkan penargetan subsidi.

Konsistensi Anwar dalam menjaga harga RON95 sekaligus menjadi pesan politik bahwa pemerintahannya ingin mempertahankan stabilitas ekonomi rumah tangga, mengurangi inflasi, dan menjaga daya beli publik.

Kebijakan BBM murah ini juga berpotensi memperkuat citra pemerintah sebagai rezim yang pro-rakyat menjelang dinamika politik nasional yang semakin menghangat.