Zizi Kirana Artis asal Malaysia Diculik Tentara Israel, Sempat Minta Maaf dan Tinggalkan Pesan Seperti Wasiat

INBERITA.COM, Penyanyi dan artis asal Malaysia, Zizi Kirana, dilaporkan diculik oleh tentara Israel saat mengikuti misi kemanusiaan bersama Global Sumud Flotilla (GSF) pada Kamis (2/10/2025).

Kabar mengejutkan ini sontak mengguncang publik, khususnya para penggemarnya di Malaysia dan Indonesia.

Sebelum hilang kontak, Zizi sempat mengirimkan pesan suara terakhir kepada suaminya, aktor dan pendakwah Yusuf Bahrin.

Dalam rekaman suara yang dikirim pada pukul 01.40 dini hari waktu setempat, Zizi menyampaikan permintaan maaf yang kemudian menjadi pesan terakhir yang diterima keluarga.

Menurut Yusuf, sang istri sempat memberi kabar bahwa kapal yang ditumpanginya telah memasuki zona merah perairan Palestina, yang menandakan wilayah berbahaya di bawah pengawasan militer Israel.

Sebelum insiden tersebut, Zizi juga sempat membuat unggahan emosional di Instagram Story yang ditujukan untuk adiknya, Nurul Azielah. Unggahan itu kini viral dan dinilai netizen sebagai semacam wasiat terakhir.

“Ini adik perempuan saya nomor 2 setelah saya. Jika terjadi apa-apa pada saya, dialah yang akan menggantikan tempat saya sebagai kakak sulung,” tulis Zizi.

Ia melanjutkan pesan itu dengan ungkapan kasih sayang mendalam kepada adiknya yang akrab disapa Kakak Ela.

“Tak pernah gaduh, tak boleh berpisah, kalau berpisah sekejap mesti nangis. Aku tahu kamu wanita yang kuat, meskipun kadang emosional… Jadilah contoh yang baik untuk adik-adik kita, dan tolong jagalah mama,” tulisnya lebih lanjut.

Pesan tersebut ditutup dengan harapan agar sang adik selalu dilindungi oleh Allah dan penuh berkah dalam hidupnya.

Kabar penculikan Zizi Kirana semakin kuat setelah sebuah video pernyataan darurat yang direkam oleh Zizi sendiri beredar dan diunggah ke akun Instagram resmi Sumud Nusantara Official.

Dalam video itu, Zizi menyampaikan pernyataan yang mempertegas bahwa dirinya diculik secara paksa.

“Nama saya Zizi Kirana. Saya warga negara Malaysia. Jika Anda menonton video ini bermakna saya telah diculik dan itu bertentangan dengan kehendak saya oleh tentara Israel,” ujarnya dalam video tersebut.

Zizi menegaskan bahwa misi kemanusiaan yang ia ikuti berjalan secara damai, tanpa kekerasan, dan mematuhi seluruh hukum internasional.

Ia pun meminta bantuan langsung kepada pemerintah Malaysia, khususnya Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim, untuk segera turun tangan.

“Saya segera merayu kepada kerajaan Malaysia terutama Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim untuk menuntut pembebasan segera dan tanpa syarat,” kata Zizi.

Zizi Kirana, atau Nur Fazelah binti Mad Tahlil, lahir pada 23 Januari 1985 di Semporna, Sabah, Malaysia. Namanya mulai dikenal sejak menjadi peserta ajang Akademi Fantasia Musim 7 pada tahun 2009.

Kariernya terus menanjak setelah bergabung dengan grup musik hip hop The Fabulous Cats dan kemudian tampil sebagai solois dengan gaya rap yang khas.

Selain bernyanyi, Zizi juga pernah mengikuti kompetisi dangdut D’Academy Asia 2 di Indonesia dan berhasil menarik perhatian penonton di tanah air.

Beberapa lagu populernya antara lain “Boleh Jalan,” “Eh,” dan “Pijak”.

Selain dikenal sebagai penyanyi dan rapper, Zizi juga aktif di dunia seni peran, dengan keterlibatan dalam sejumlah film, drama, dan telefilm di Malaysia.

Popularitasnya yang kian meningkat membuat kabar penculikan ini semakin menyita perhatian publik luas.

Global Sumud Flotilla, organisasi yang misinya diikuti oleh Zizi, merupakan sebuah inisiatif kemanusiaan maritim internasional yang bertujuan mendobrak blokade Israel atas Jalur Gaza.

Gerakan ini disebut-sebut sebagai konvoi sipil maritim terbesar dalam sejarah, dengan lebih dari 40 kapal dan 500 partisipan dari 44 negara.

Peserta misi berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari aktivis, politisi, dokter, pengacara, hingga seniman. Salah satu nama besar yang terlibat adalah aktivis iklim dunia Greta Thunberg.

Konvoi ini digerakkan oleh aliansi berbagai organisasi kemanusiaan, termasuk Freedom Flotilla Coalition, Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, dan Sumud Nusantara, yang mewakili Malaysia dan negara-negara Asia Tenggara.

Meski mengusung misi damai, GSF tetap menjadi sasaran intervensi militer dari otoritas Israel.

Penangkapan dan penyitaan kapal oleh pasukan Israel bukanlah hal baru, namun penculikan terhadap figur publik seperti Zizi Kirana menjadi sorotan internasional yang memicu gelombang kecaman luas.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Israel mengenai keberadaan Zizi. Pihak keluarga dan masyarakat Malaysia terus menunggu kabar, seraya berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah diplomatik dan hukum internasional guna memastikan keselamatan dan pembebasan Zizi.

Di media sosial, tagar #FreeZiziKirana dan #SaveFlotillaGSF terus bergema, menjadi bentuk solidaritas warganet terhadap perjuangan kemanusiaan yang kini terancam oleh tindakan represif. (xpr)