INBERITA.COM, Sekelompok warga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak atau ARIB mendatangi kediaman resmi Presiden ke-7 Joko Widodo di Solo pada hari Kamis tanggal 10 September.
Aksi unjuk rasa tersebut diwarnai dengan pembentangan berbagai spanduk serta poster bernada protes keras terhadap sang mantan kepala negara.
Kedatangan massa ARIB ini membawa misi khusus untuk menyampaikan peringatan serius terkait dinamika politik nasional mutakhir. Pemicu utama aksi demonstrasi ini adalah pertemuan antara Joko Widodo dengan Ketua Umum Projo yaitu Budi Arie beberapa saat lalu.
Berbagai spanduk yang dibentangkan oleh para pengunjuk rasa memuat tulisan yang sangat tajam dan menarik perhatian publik.
Di antaranya bertuliskan Kami datang untuk kedamaian, Jokowi dan Dinasti Haus Kuasa, Jokowi Haus Kekuasaan, Jokowi Raja Ngibul, Jokowi Pengkhianat NKRI, serta Proyek Jokowi Ajang Korupsi.
Selain spanduk bernada protes keras, para pendemo juga membawa plakat khusus yang berisi empat nasihat berlatar belakang filosofi Jawa.
Nasihat tersebut meliputi Lamun siro sekti ojo kemaki, Lamun siro sekti tansah eling pati, Sopo nandur bakal ngunduh ngunduh wohing pakarti, dan Sopo salah bakal seleh.
Koordinator aksi lapangan bernama Bangun Satoto menjelaskan bahwa demonstrasi ini bertujuan untuk memberikan peringatan kepada Jokowi. Peringatan itu merujuk pada pertemuan dengan Budi Arie yang dinilai terindikasi adanya rencana makar terhadap negara.
Massa aksi merasa terpanggil sebagai bagian dari anak bangsa yang mewakili seluruh rakyat Indonesia untuk tidak tinggal diam menghadapi situasi tersebut. Kepedulian terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia mendorong mereka untuk menyerahkan surat dan plakat filosofi Jawa.
Pernyataan lengkap disampaikan langsung oleh sang koordinator aksi di lokasi kejadian kepada awak media.
“Kami ingin menyampaikan sepucuk surat dan satu buah plakat untuk bapak Joko Widodo. Karena bapak Jokowi belum lama ini duduk di sebelah Budi Arie Setiadi yang menyampaikan indikasi adanya makar. Karena itu kami sebagai anak bangsa mewakili seluruh rakyat Indonesia tidak bisa tinggal diam. Karena itu kepada bapak Joko Widodo, kerana beliau sebagai manusia sama seperti kami. Maka kami mengingatkan sebagai bentuk kepedulian kemi kepada NKRI. Karena itu kami berikan surat dan plakat yang berisi filosofi jawa,” ungkapnya.
Bangun Sutoto yang juga merupakan alumni Universitas Gadjah Mada pernah tercatat menggugat ijazah Jokowi di Pengadilan Negeri Surakarta. Kini ia kembali muncul untuk menyoroti pernyataan kontroversial dari Budi Arie yang sempat viral di tengah masyarakat luas.
Pernyataan Budi Arie tersebut dinilai oleh rekan-rekan dari pendukung Presiden Prabowo Subianto sebagai sebuah tindakan inkonstitusional. Penilaian serupa juga disuarakan secara tegas oleh kelompok aliansi warga dalam aksi unjuk rasa di Solo ini.
Keterangan lebih mendalam disampaikan kembali oleh sang koordinator aksi terkait penilaian hukum atas situasi politik tersebut.
“Artinya apa yang disampaikan oleh Budi Arie, di mana Pak Jokowi mendengar, melihat ya, itu bisa diperjelas dan faktanya oleh rekan-rekan dari pendukung Bapak Prabowo Subianto itu dinilai sebagai sebuah tindakan makar. Karena itu kami juga demikian menilai bahwa apa yang dikatakan oleh Budi Arie adalah indikasi adanya tindakan makar,” tandasnya.
Langkah politik yang diambil oleh kelompok ARIB ini diklaim sejalan dengan gagasan yang tertuang dalam buku karya Presiden Prabowo Subianto. Buku berjudul Paradoks Of Indonesia tersebut menyebutkan bahwa rakyat tidak boleh tinggal diam dan harus bersuara aktif.
Aksi turun ke jalan ini dipandang sebagai bentuk pelaksanaan amanat konstitusi dalam kerangka bela negara yang sah secara hukum. Bendera Merah Putih turut dikibarkan sebagai simbol nasionalisme di tengah barisan para pengunjuk rasa.
Landasan konstitusional tersebut dipertegas melalui pernyataan penutup dari sang pemimpin aksi di depan para wartawan.
“Karena itu apa yang kami lakukan adalah menjalankan amanat konstitusi ya, sebagai bentuk bela negara. Karena itu di sini bisa anda saksikan yang kami bawa adalah bendera merah putih. Karena bagaimanapun makar adalah tindakan inkonstitusional dan itu tidak boleh terjadi siapa pun presidennya,” pungkasnya.
Situasi di sekitar kediaman Joko Widodo sempat memanas ketika belasan pendemo mencoba memasuki area Jalan Kutai Utara. Di lokasi tersebut, mereka berhadap-hadapan dan bersitegang dengan puluhan relawan pendukung Jokowi yang sudah berjaga sejak pagi hari.
Teriakan yel-yel dukungan dari kedua kubu yang saling berlawanan terdengar bersahut-sahutan di sepanjang jalan. Ketegangan antar massa pendukung dan pengunjuk rasa ini tidak berlangsung lama berkat penurunan tensi di lapangan.
Suasana kembali berangsur kondusif setelah para peserta aksi unjuk rasa membubarkan diri secara tertib dari lokasi. Bangun Satoto bersama beberapa perwakilan sempat berupaya mendekati pihak Paspampres untuk menyerahkan surat dan plakat secara langsung kepada Jokowi.
Namun niat tersebut belum dapat terwujud karena prosedur pengamanan ketat yang berlaku di kediaman mantan presiden. Pihak pengamanan meminta perwakilan massa untuk mendaftar secara resmi melalui jalur administratif jika ingin menyampaikan surat.
Alternatif lain diberikan oleh aparat pengamanan bagi warga yang hanya ingin mengabadikan momen di lokasi tersebut. Mereka dipersilakan mengikuti antrean umum bersama warga masyarakat lainnya jika sekadar ingin berfoto di sekitar area.