INBERITA.COM, Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan bersama Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia di Istana Negara, Jumat (31/7/2026), menjadi perhatian publik setelah muncul perbedaan antara siaran langsung dan video yang kemudian diunggah ulang melalui kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden.
Perbedaan tersebut memicu berbagai tanggapan di media sosial. Warganet menyoroti hilangnya bagian pidato ketika Presiden Prabowo membahas perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah, khususnya terkait isu kepemilikan senjata nuklir oleh sejumlah negara di kawasan tersebut.
Dalam siaran langsung yang sempat ditayangkan, Prabowo mengawali pembahasannya dengan menyinggung meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia mengaitkan situasi tersebut dengan konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Menurut Presiden, dinamika kawasan tersebut berpotensi memicu perlombaan persenjataan apabila semakin banyak negara merasa perlu memiliki kemampuan pertahanan berbasis nuklir.
“Jadi saudara-saudara, ini saya dengan panjang lebar saya tekankan kembali ke saudara-saudara, karena apa yang kita bahas sedang terjadi di depan mata kita. Tiap sore tiap malam kita lihat dalam berita-berita,” ujar Prabowo.
Ia kemudian melanjutkan bahwa di berbagai pemberitaan internasional muncul klaim mengenai kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.
“Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir.” katanya.
Prabowo lalu menggambarkan kemungkinan munculnya efek berantai apabila negara-negara lain di kawasan mengambil langkah serupa.
“Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirat juga mau punya senjata nuklir. Qatar juga mau punya senjata nuklir. Mesir juga mau punya senjata nuklir.” lanjutnya.
Tak lama setelah pernyataan tersebut, tayangan siaran langsung sempat terhenti. Audio tidak terdengar dan layar berganti menampilkan potongan video kegiatan Presiden pada kesempatan lain sebelum siaran kembali berlanjut.
Belakangan, video kegiatan yang diunggah kembali di kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden tidak lagi memuat bagian pidato yang membahas isu kepemilikan senjata nuklir tersebut.
Perbedaan inilah yang kemudian menjadi bahan diskusi di media sosial dan memunculkan berbagai spekulasi dari warganet.
Hingga artikel ini disusun, belum ada penjelasan resmi dari Sekretariat Presiden mengenai alasan terputusnya siaran langsung maupun perbedaan isi antara tayangan langsung dan video yang diunggah ulang. Karena itu, penyebab perubahan tersebut belum dapat dipastikan.
Dalam pidato yang sama, Presiden Prabowo juga menyinggung faktor-faktor yang menurutnya menjadi pemicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Ia menilai kawasan tersebut memiliki sumber daya alam strategis yang menjadi perhatian banyak pihak.
“Kenapa ribut di Timur Tengah? Timur Tengah banyak gas, banyak minyak, dan banyak mineral-mineral lain. Berkecamuklah perang sudah ratusan tahun di situ,” katanya.
Selain itu, Prabowo kembali menyinggung konsep divide et impera atau politik pecah belah yang menurutnya masih relevan dalam dinamika geopolitik saat ini.
“Saudara-saudara, jadi, Divide Et Impera itu bukan tulisan di buku-buku sejarah. Itu nyata. Nyata. Divide Et Impera nyata,” ujarnya.
Perbedaan antara siaran langsung dan video yang dipublikasikan kembali membuat publik mempertanyakan proses penyuntingan tayangan resmi.
Namun, hingga ada keterangan dari pihak berwenang, alasan di balik perubahan tersebut masih belum dapat dipastikan sehingga berbagai dugaan yang beredar di media sosial belum dapat dinyatakan sebagai fakta.