USS Abraham Lincoln Berlabuh di Thailand dengan Kondisi Kusam dan Lambung Penuh Karat Setelah 286 Hari Beroperasi

INBERITA.COM, Kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln tiba di Pelabuhan Laem Chabang, Provinsi Chonburi, Thailand pada Rabu 2 September 2026 dengan kondisi lambung yang dipenuhi karat dan cat kusam.

Durasi 286 hari tanpa kunjungan pelabuhan penuh menciptakan jejak keausan yang terlihat jelas di bagian bawah kapal.

Dari kejauhan, ukuran dan dek penerbangan USS Abraham Lincoln tetap mengesankan dengan berbagai pesawat tempur F-35 dan helikopter yang masih berjajar.

Permukaan logam di lambung kapal menunjukkan perubahan warna akibat paparan air laut selama berbulan-bulan. Bagian garis air kehilangan tampilan mulusnya dengan warna cat yang tidak seragam dan berbintik.

Kondisi tersebut mencerminkan panjangnya masa operasi kapal induk ini di kawasan Timur Tengah sejak November 2025.

USS Abraham Lincoln terlibat dalam blokade di sekitar Selat Hormuz, jauh melampaui durasi normal enam hingga sembilan bulan. Masa penugasan yang diperpanjang ini berdampak pada tingkat keausan fisik kapal.

Karat dan cat yang memburuk tidak serta merta menunjukkan kerusakan struktural. Visual ini menunjukkan betapa lama kapal terpapar lingkungan laut sebelum akhirnya bersandar di Thailand.

Kontras terlihat antara bagian atas dek penerbangan yang tetap terawat dengan lambung yang menunjukkan tanda keausan.

Kapal perusak USS Frank E Petersen Jr dan kapal penjelajah USS Robert Smalls yang tiba bersama menunjukkan kondisi serupa.

Ketiganya menjalani masa operasi panjang di kawasan konflik sebelum bersandar di Thailand. Kondisi lambung ketiga kapal ini menjadi bukti nyata dampak lingkungan laut terhadap armada AS.

Kondisi fisik USS Abraham Lincoln menjadi sorotan karena bersamaan dengan laporan mengenai masalah yang dihadapi awak kapal.

Keluarga pelaut melaporkan kekurangan makanan kepada Task & Purpose, meskipun juru bicara Angkatan Laut AS menyatakan tidak ada makanan yang terlewatkan. Pemberitaan internasional diduga mempengaruhi perubahan dalam distribusi logistik.

Laporan lain menyebutkan kekurangan kebutuhan kebersihan dasar, gangguan sistem surat, jamur di kamar mandi, toilet rusak, dan kurangnya air panas.

Tekanan terhadap awak kapal memicu kekhawatiran lebih serius dengan tiga insiden upaya bunuh diri dilaporkan. Vice Admiral Joseph Cahill menggelar pertemuan virtual dengan keluarga personel untuk mendengarkan dampak yang ditimbulkan.

Pada awal Agustus 2024, Military Times melaporkan satu pelaut melompat dari USS Abraham Lincoln sementara dua lainnya berhasil dicegah.

Kondisi ini mendorong perhatian terhadap kesehatan mental dan fisik awak kapal setelah bertugas selama hampir satu tahun.

Rear Admiral Robert E. Loughran menekankan pentingnya masa istirahat ini bagi pemulihan personel.

Kedatangan di Laem Chabang memberikan kesempatan bagi 5.000 pelaut dan marinir untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke San Diego.

Bus dan truk pikap berjajar di pelabuhan untuk mengangkut personel yang terlihat mengenakan pakaian sipil. Kapal induk ini dijadwalkan berada di Thailand selama lima hari sebelum memulai perjalanan pulang.

USS Abraham Lincoln dijadwalkan tiba di San Diego setelah menyelesaikan masa penugasan terpanjangnya sejak era modern.

Kondisi kapal yang menunjukkan keausan fisik menjadi bukti nyata tantangan operasional di kawasan konflik. Masa istirahat di Thailand menjadi momen penting untuk pemulihan sebelum kembali ke pangkalan utama.