INBERITA.COM, Sebuah spanduk berisi kritik sosial yang dipasang di kawasan Jembatan Bendung Surokarsan, Kota Yogyakarta, menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa pekan terakhir.
Tulisan yang berbunyi “Galak Sama Rakyat, Jinak Sama Koruptor” terbentang di sisi jembatan yang melintasi Sungai Code dan mudah terlihat oleh setiap orang yang melintas di kawasan tersebut.
Keberadaan spanduk itu tidak hanya memancing rasa penasaran mengenai siapa pihak yang memasangnya, tetapi juga memunculkan beragam tanggapan dari warga.
Bagi sebagian masyarakat, kalimat singkat tersebut dianggap mewakili kegelisahan terhadap isu penegakan hukum yang selama ini menjadi perbincangan publik.
Berdasarkan pantauan awak media di lokasi, spanduk berukuran kurang lebih 30 meter itu masih terpasang membentang di sisi jembatan hingga Rabu (29/7/2026) sore.
Lokasi tersebut merupakan salah satu akses penghubung antara Kampung Surokarsan dan Kampung Prawirodirjan yang setiap hari dilintasi pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor.
Karena berada di jalur yang cukup ramai, pesan dalam spanduk itu dengan cepat menarik perhatian pengguna jalan. Tidak sedikit pengendara yang memperlambat laju kendaraan mereka untuk membaca isi tulisan yang terpampang dengan ukuran huruf besar tersebut.
Hingga kini belum diketahui siapa pihak yang bertanggung jawab memasang spanduk bernada satir tersebut. Tidak ada pula keterangan atau identitas kelompok tertentu yang dicantumkan pada spanduk, sehingga asal-usul pemasangannya masih menjadi tanda tanya.
Sejumlah warga sekitar mengaku spanduk itu bukan dipasang dalam waktu dekat. Mereka menyebut tulisan tersebut sudah menghiasi kawasan jembatan selama beberapa pekan tanpa mengalami perubahan maupun pencopotan.
Salah seorang pedagang angkringan di sekitar lokasi, Tejo, mengaku tidak mengetahui siapa yang memasang spanduk tersebut. Saat dirinya mulai berjualan pada awal Juli, spanduk itu sudah lebih dulu terpasang.
“Kurang tahu siapa yang masang. Sebelum saya buka angkringan, spanduk itu sudah ada. Sudah sekitar tiga mingguan,” ujarnya saat ditemui wartawan.
Menurut Tejo, isi pesan yang tertulis dalam spanduk tersebut mencerminkan keresahan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat. Ia menilai kritik mengenai ketimpangan dalam penegakan hukum masih menjadi isu yang sering diperbincangkan warga.
“Bagus ini. Ya memang seperti itu yang dirasakan,” katanya.
Pandangan serupa juga disampaikan Yudi, seorang pengendara sepeda motor yang hampir setiap hari melewati jalur tersebut. Ia mengatakan spanduk itu sudah cukup lama berada di lokasi sehingga sudah menjadi pemandangan yang dikenalnya saat melintas.
“Kalau dua minggu mungkin sudah lebih ya. Saya hari-hari memang sering lewat sini,” ucapnya kepada wartawan.
Menurut Yudi, kekuatan utama spanduk itu justru terletak pada kalimatnya yang sederhana tetapi mudah dipahami.
“Kalimatnya to the point. Langsung mengena kalau dibaca. Memang begitu sekarang kelihatannya,” imbuhnya.
Fenomena munculnya spanduk kritik di ruang publik bukanlah hal baru.
Dalam berbagai kesempatan, ruang-ruang terbuka seperti jembatan, pagar, hingga fasilitas umum kerap dimanfaatkan sebagai media untuk menyampaikan aspirasi, kritik, maupun sindiran terhadap berbagai persoalan yang sedang menjadi perhatian masyarakat.
Cara penyampaian pesan melalui media visual seperti spanduk dinilai mampu menjangkau lebih banyak orang karena dapat dibaca langsung oleh pengguna jalan.
Kalimat yang singkat, lugas, dan mudah diingat juga membuat pesan lebih cepat menyebar melalui percakapan warga maupun media sosial.
Di sisi lain, isi kritik mengenai penegakan hukum terhadap korupsi memang masih menjadi topik yang kerap memunculkan diskusi di ruang publik.
Berbagai survei dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan isu pemberantasan korupsi masih menjadi salah satu perhatian utama masyarakat Indonesia, sehingga setiap bentuk ekspresi yang menyinggung persoalan tersebut sering memperoleh perhatian luas.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada informasi mengenai pihak yang memasang spanduk maupun alasan di balik kemunculannya. Tidak diketahui pula apakah pemasangan tersebut merupakan aksi individu atau bagian dari gerakan tertentu.
Sampai berita ini ditulis, spanduk bertuliskan “Galak Sama Rakyat, Jinak Sama Koruptor” masih terlihat membentang di Jembatan Bendung Surokarsan.
Keberadaannya terus menjadi perhatian warga dan pengguna jalan yang melintas, sekaligus memicu beragam interpretasi mengenai pesan yang ingin disampaikan melalui kritik tersebut.