INBERITA.COM, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS seusai perang melawan Iran.
Dalam pernyataan di New York, Jumat (14/8/2026), Trump menegaskan blokade AS terhadap selat strategis tersebut tetap berlaku tanpa toleransi.
Menurut Trump, tidak ada kapal yang boleh melintasi Selat Hormuz tanpa izin AS, karena kepemimpinan Iran telah hancur akibat perang. Ia bahkan menyebut tidak ada pihak yang layak bernegosiasi dengan pemerintah Iran saat ini.
“Ini adalah satu-satunya negara di dunia di mana tidak ada yang ingin menjadi presiden,” ujarnya.
Pernyataan Trump memicu reaksi keras dari Iran. Pejabat militer Teheran membantah klaim AS mengenai kendali atas Selat Hormuz, menyebutnya sebagai kebohongan tak berdasar.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan Teheran tidak akan gentar menghadapi ancaman maupun tekanan militer Washington.
Gharibabadi menegaskan, pembukaan maupun penutupan Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kewenangan Iran.
Data Kpler yang dikutip CNN menunjukkan lalu lintas kapal di selat tersebut anjlok hingga 80% sejak perang dimulai. Pada Rabu (12/8/2026), hanya 3.371 kapal yang melintas dalam 166 hari, jauh dari volume normal sebelum konflik.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz harus mendapat izin dan diawasi militer Iran. Ia menyebut klaim AS mengenai kendali atas selat tersebut tidak berdasar dan hanya propaganda.
Militer Iran terus memantau pergerakan pihak yang dianggap musuh AS dan Israel di kawasan tersebut.
Pernyataan Zolfaghari menjadi bantahan langsung terhadap klaim Trump pada Selasa (11/8/2026), yang menyebut AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.
Trump juga memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi besar jika kembali meningkatkan ketegangan. Konflik ini semakin memanas ketika Iran menolak membuka selat tersebut kecuali AS memenuhi sejumlah tuntutan.
Tuntutan Iran antara lain pembebasan aset yang dibekukan dan penghentian konflik di wilayah seperti Lebanon dan Gaza.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis bagi pengiriman energi dunia, sehingga ketidakpastian di kawasan ini berdampak luas terhadap pasokan global. Belum ada kesepakatan mengenai mekanisme pelayaran, menambah ketegangan yang sudah memanas.
Klaim kedua belah pihak menunjukkan tidak adanya titik temu mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang mengkhawatirkan bagi industri pelayaran dan stabilitas energi global.
Para pengamat menilai perang ini telah mengubah peta geopolitik di kawasan Timur Tengah secara drastis.
Jika Trump benar-benar mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS, hal itu bisa memicu eskalasi lebih lanjut.
Iran telah berulang kali menegaskan kedaulatan atas selat tersebut, dan setiap upaya untuk mengabaikan otoritas Teheran berisiko memicu konflik terbuka. Dunia kini menantikan langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.
Ketegangan di Selat Hormuz juga berdampak pada harga minyak global. Penurunan lalu lintas kapal telah menyebabkan gangguan pasokan, sementara ancaman konflik semakin meningkatkan volatilitas pasar. Para pemangku kepentingan di sektor energi kini berada dalam posisi yang sulit.
Pernyataan Trump dan respons Iran menunjukkan bahwa perang ini telah memasuki babak baru yang lebih berbahaya.
Selat Hormuz, yang selama ini menjadi simbol kedaulatan regional, kini menjadi medan pertempuran diplomasi dan militer. Masa depan kawasan ini bergantung pada kemampuan kedua belah pihak untuk menghindari konflik yang lebih luas.