INBERITA.COM, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mendesak Iran untuk segera menyerah, mengekspresikan keyakinan bahwa Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, telah tewas dalam serangan yang diluncurkan oleh AS dan Israel.
Dalam sebuah wawancara telepon dengan media, seperti yang dilansir oleh NDTV pada 17 Maret 2026, Trump mengungkapkan keraguan mengenai apakah Mojtaba masih hidup, mengingat dia belum pernah terlihat di publik.
“Saya tidak tahu apakah dia masih hidup. Sejauh ini, tidak ada yang bisa menunjukkannya,” katanya.
Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi mengenai kesehatan Mojtaba Khamenei, yang dilaporkan mengalami kondisi kritis akibat serangan tersebut.
Trump menegaskan bahwa Iran berkeinginan untuk bernegosiasi, tetapi menyatakan bahwa ia belum siap untuk membuat kesepakatan.
Di sisi lain, terdapat informasi yang menyebutkan bahwa Mojtaba Khamenei mungkin telah dikirim ke Rusia untuk mendapatkan perawatan, meski informasi tersebut belum terkonfirmasi secara resmi.
Trump menunjukkan ketidakpercayaan terhadap klaim-klaim yang disampaikan oleh pihak Iran mengenai kondisi pemimpin baru mereka.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menghancurkan Iran baik dari segi militer maupun ekonomi.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, ia mengajak negara-negara yang bergantung pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz untuk bersama-sama menjaga jalur air vital tersebut.
Trump menyebut bahwa upaya ini harus menjadi koalisi global untuk melindungi pelayaran dan menstabilkan kawasan tersebut.
Kondisi Mojtaba Khamenei sendiri menjadi sorotan publik setelah ia diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi Iran ke-3 pada 8 Maret 2026.
Meski mengalami luka parah akibat serangan rudal AS-Israel, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Latar belakang Mojtaba Khamenei menunjukkan bahwa ia lahir di Mashhad pada 8 September 1969 dan merupakan tokoh berpengaruh dalam politik dan kebijakan luar negeri Iran.
Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat pada 28 Februari 2026, di tengah konflik dengan AS dan Israel.
Dalam pengangkatan ini, ia memegang kendali penuh atas militer, kebijakan luar negeri, dan program nuklir Iran.
Menurut berita yang beredar, Mojtaba mengalami luka di kaki dan tidak dapat tampil di depan publik sejak pengangkatannya, hal ini memicu berbagai spekulasi mengenai kondisi kesehatannya.
Duta Besar Iran untuk Siprus, Alireza Salarian, mengonfirmasi bahwa Mojtaba Khamenei mengalami luka parah setelah serangan Israel, menjelaskan bahwa ia berada dekat ayahnya saat insiden tersebut terjadi.
Ia mengalami patah kaki, luka robek di wajah, dan memar hebat di area mata kirinya.
“Kondisinya saat ini membuatnya tidak memungkinkan untuk berpidato atau tampil di hadapan publik,” ungkap Salarian.
Spekulasi mengenai kondisi Mojtaba semakin meningkat dengan ketidakhadirannya di hadapan publik. Putra Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan bahwa ia telah mendengar laporan mengenai luka tersebut, tetapi memastikan bahwa pemimpin tertinggi yang baru tetap aman.
Meski demikian, hingga kini, Mojtaba Khamenei belum muncul di hadapan publik, yang menimbulkan lebih banyak pertanyaan tentang kesehatan dan kekuatannya sebagai pemimpin.
Mojtaba Khamenei dikenal sebagai sosok garis keras yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Meskipun bukan ulama berpangkat tinggi, ia telah menjadi arsitek di balik jaringan pengaruh ayahnya dan pengangkatannya di tengah konflik dianggap sebagai isyarat penolakan Iran terhadap tekanan militer Barat.
Rekam jejaknya yang kontroversial di dalam negeri, termasuk protes yang menargetkannya pada demonstrasi 2009, di mana rakyat meneriakkan slogan “Mojtaba bemiri Rahbari ro Nabini”, menunjukkan ketidakpuasan publik terhadapnya.
Selain itu, ia sudah masuk dalam daftar sanksi Departemen Keuangan AS sejak 2019 karena perannya dalam destabilisasi regional.
Pengangkatan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi telah dinilai oleh banyak pengamat sebagai sinyal bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan militer dari Barat.
Maha Yahya, Direktur Carnegie Middle East Center, mengatakan bahwa pengangkatan ini mengirim pesan tegas bahwa tekanan militer tidak akan mengubah sikap Iran.
Dalam konteks ini, Donald Trump menegaskan bahwa pemilihannya adalah sesuatu yang “tidak dapat diterima”.
Dengan kondisi fisik Mojtaba yang dianggap ‘cacat’ akibat serangan, AS dan sekutunya terus meningkatkan tekanan melalui Operation Epic Fury untuk memastikan rezim di Teheran tidak memiliki ruang untuk konsolidasi kekuatan kembali.
Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu serangkaian serangan udara dan ancaman terhadap jalur energi global di kawasan Timur Tengah.
Para analis memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi memperluas eskalasi regional, terutama jika serangan mulai menargetkan infrastruktur energi dan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.