Trump Mendesak China, Jepang dan Negara Lain Kirimkan Kapal Perang ke Selat Hormuz

INBERITA.COM, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengemukakan pendapatnya mengenai pentingnya menjaga stabilitas di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar global, terutama di Asia dan Eropa.

Pada Senin, 16 Maret 2026, Trump mendesak negara-negara lain, termasuk China dan Jepang, untuk segera mengirimkan kapal perang guna memastikan jalur pelayaran tersebut tetap terbuka dan aman.

Trump menegaskan bahwa negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari Selat Hormuz seharusnya ikut serta dalam menjaga keamanan jalur tersebut.

“Saya pikir China juga harus membantu karena China mendapatkan 90% minyaknya dari Selat tersebut. Ini benar-benar ada untuk China dan banyak negara lainnya,” ujar Trump dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh Financial Times.

Menurut Trump, kehadiran militer AS di sana lebih banyak memberikan keuntungan bagi China daripada bagi AS, sehingga keterlibatan Beijing dalam menjaga stabilitas di Selat Hormuz menjadi sangat logis.

Selain itu, Trump juga menambahkan bahwa pemerintah AS siap memberikan bantuan dan koordinasi dengan negara-negara terkait untuk memastikan jalur pelayaran internasional tersebut tetap aman.

Dalam unggahan media sosialnya, Trump menekankan pentingnya keterlibatan negara-negara yang bergantung pada minyak dari Selat Hormuz untuk tidak hanya mengandalkan Amerika Serikat dalam menjaga kawasan tersebut.

“Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, saya pikir itu akan menjadi hal yang sangat buruk bagi masa depan NATO,” kata Trump, melontarkan peringatan keras kepada anggota NATO yang dianggap tidak memberikan kontribusi seimbang terhadap situasi di Selat Hormuz.

Diskusi dengan China dan Jepang Pada saat yang sama, Menteri Energi AS, Chris Wright, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan beberapa negara, termasuk China, untuk membahas kemungkinan pengiriman pasukan militer ke wilayah tersebut.

Wright mengungkapkan harapan agar China dapat menjadi mitra yang konstruktif dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal tanker minyak.

Namun, hingga saat ini, negara-negara yang diminta untuk terlibat belum memberikan janji atau komitmen resmi. Jepang, misalnya, masih mempertimbangkan dengan hati-hati keputusan tersebut.

Penasihat kebijakan senior Jepang, Takayuki Kobayashi, menjelaskan bahwa pengerahan Pasukan Bela Diri Jepang ke luar negeri merupakan isu politik sensitif yang membutuhkan persetujuan pemerintah dan parlemen Jepang, dengan ambang batas yang sangat tinggi.

China Ambil Posisi Tegas Dalam perkembangan yang terkait, China mulai menunjukkan posisi yang lebih tegas terkait keamanan Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa Beijing mengutuk segala serangan terhadap negara-negara di Teluk, serta serangan terhadap kapal-kapal komersial yang beroperasi di kawasan tersebut.

Meskipun tidak menyebut Iran secara langsung, pernyataan ini menunjukkan bahwa China mulai memperlihatkan keprihatinan atas eskalasi ketegangan yang mengancam jalur pelayaran vital tersebut.

“China tidak setuju dengan serangan terhadap negara-negara Teluk dan mengutuk semua serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil dan target non-militer,” ujar Guo Jiakun dalam konferensi pers pada 13 Maret 2026.

Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran global tentang ancaman terhadap 25% pasokan minyak dunia yang melewati Selat Hormuz.

Ancaman Trump kepada NATO Di sisi lain, Trump juga menyampaikan kekesalannya kepada sekutu-sekutu AS di NATO, yang menurutnya tidak memberikan dukungan yang cukup dalam menghadapi ketegangan di Selat Hormuz.

Ia mengkritik negara-negara anggota NATO yang dianggap tidak memberikan kontribusi yang sepadan, meskipun Amerika Serikat telah menunjukkan solidaritas besar dengan mereka, terutama dalam konflik Ukraina.

“Kami telah bersikap sangat manis. Kami tidak harus membantu mereka dengan Ukraina. Ukraina berjarak ribuan mil dari kami. Tapi kami membantu mereka. Sekarang kita akan lihat apakah mereka membantu kita. Karena saya sudah lama mengatakan bahwa kami akan ada untuk mereka, tetapi mereka tidak akan ada untuk kami,” ungkap Trump dengan nada tegas.

Keamanan Energi Global Terancam Ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz telah menarik perhatian global mengingat peranannya yang sangat penting dalam distribusi energi dunia.

Selat ini merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak mentah yang menghubungkan Timur Tengah dengan pasar internasional, khususnya di Asia dan Eropa.

Ketegangan yang terus meningkat, terutama dengan adanya blokade Iran terhadap jalur tersebut, bisa berpotensi menyebabkan gangguan besar dalam pasokan energi global.

Dalam situasi ini, peran negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari Selat Hormuz, seperti China dan Jepang, menjadi sangat krusial.

Jika negara-negara besar ini tidak berpartisipasi dalam menjaga stabilitas kawasan, maka keamanan jalur pelayaran internasional yang vital ini bisa semakin terancam.

Pernyataan keras dari Trump dan dorongan untuk keterlibatan lebih banyak negara dalam pengamanan Selat Hormuz mencerminkan betapa pentingnya stabilitas di kawasan tersebut.

Jika negara-negara pengimpor energi besar seperti China tidak berkomitmen untuk turut serta dalam menjaga jalur ini, maka akan semakin sulit untuk menjaga kelancaran distribusi energi global yang sangat bergantung pada Selat Hormuz.

Dengan situasi yang semakin mencekam, dunia kini menanti langkah konkret dari negara-negara besar untuk bekerja sama dalam mengamankan Selat Hormuz dan memastikan kelangsungan pasokan energi global.