Trump Ancam Akan Lakukan Gempuran Dahsyat Usai Iran Balas Serang Pangkalan AS di Timur Tengah

INBERITA.COM, Serangan balasan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania dan Uni Emirat Arab memicu ancaman Presiden Donald Trump untuk membalas dengan keras.

Pada Minggu malam, 30 Agustus 2026, AS melancarkan serangan terhadap Pulau Larak di Selat Hormuz, yang diklaim untuk mencegah pemasangan ranjau oleh Iran.

“Kami akan menghantam mereka dengan keras,” kata Trump kepada Fox News, sebagaimana dilaporkan CNA, menegaskan akan ada balasan atas serangan tersebut.

Ketegangan meningkat setelah Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke dua negara sekutu AS di kawasan itu. Teheran menyebut sasaran serangan adalah pasukan AS yang ditempatkan di Yordania dan Uni Emirat Arab.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim serangan balistik terhadap dua pangkalan udara AS di Yordania menimbulkan kerusakan besar. Militer Yordania menyatakan telah mencegat delapan rudal, meski tidak menyebut asal-usulnya.

Sementara itu, Uni Emirat Arab membantah klaim bahwa Pangkalan Udara Al Minhad menjadi sasaran serangan Iran. Abu Dhabi mengaku telah mencegat sebuah drone di atas perairan UEA, namun pemerintah setempat menyebut tuduhan tersebut tidak berdasar.

Di tengah saling tuding, AS bersikeras seluruh rudal yang ditembakkan ke arah pasukannya berhasil dijatuhkan, kecuali satu yang dinilai tidak berbahaya.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru menyerukan dialog dalam pertemuan tingkat tinggi di Kirgistan.

“Kami terus berupaya mencari jalan menuju kesepakatan dan saling pengertian,” ujar Pezeshkian.

Ia menegaskan bahwa melanjutkan perang bukanlah kepentingan Iran maupun kawasan, menekankan bahwa solusi persoalan hanya bisa dicapai melalui dialog dan kerja sama.

Serangan terbaru ini terjadi setelah beberapa pekan situasi relatif tenang, meski ketegangan tetap membayangi. Enam bulan sejak perang pecah, kedua pihak masih terlibat dalam kebuntuan strategis.

Iran tetap menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial, sementara AS mempertahankan blokade tandingan dengan kekuatan lautnya. Selat tersebut menjadi titik krusial karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewatinya sebelum perang.

AS mengklaim telah memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz, bahkan menyebut wilayah tersebut sebagai wilayah AS.

Pejabat AS menyatakan serangan terhadap Pulau Larak bertujuan mencegah Iran memasang ranjau di jalur strategis itu. Namun, Iran membantah klaim AS, dengan IRGC menyatakan sebuah kapal tanker terbakar akibat menghantam ranjau di dekat selat.

Militer AS menepis tuduhan Iran sebagai disinformasi, menegaskan tidak ada kapal yang menghantam ranjau di Selat Hormuz.

Konflik ini semakin rumit dengan tuduhan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Araghchi menulis di platform X bahwa Netanyahu telah memperdaya AS untuk terlibat perang demi kepentingan Israel.

Upaya diplomasi selama berbulan-bulan gagal mengakhiri perang, meski gencatan senjata dan nota kesepahaman sempat dicapai.

Serangan sporadis terus terjadi, meski intensitasnya menurun sebelum serangan terbaru. AS terakhir kali menyerang Iran pada 29 Juli 2026, setelah sebelumnya menggempur Iran selama 13 malam berturut-turut pada bulan yang sama.

Media pemerintah Iran melaporkan dua orang tewas akibat serangan AS di Pulau Larak, sementara beberapa lainnya terluka.

IRGC juga menyebut serangan rudal balistiknya menimbulkan kerusakan besar di pangkalan udara AS di Yordania. Di tengah saling klaim, situasi di lapangan menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih saling berupaya menguasai Selat Hormuz.

Pezeshkian menekankan bahwa Iran tidak ingin melanjutkan perang, namun tetap mempertahankan klaim atas Selat Hormuz. Sementara Trump mengancam akan membalas keras, menunjukkan bahwa konflik ini belum menemui titik akhir.