INBERITA.COM, Perkembangan ekonomi dan keuangan digital di Indonesia kembali mencatatkan capaian signifikan. Pada Kuartal IV-2025, transaksi pembayaran digital nasional menembus angka 14,26 miliar transaksi, mencerminkan pertumbuhan yang sangat kuat di tengah meningkatnya adopsi teknologi keuangan oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Capaian ini memperlihatkan bahwa transformasi digital di sektor sistem pembayaran semakin mengakar dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa volume transaksi pembayaran digital tersebut tumbuh 39,21 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada Kuartal IV-2025. Kinerja impresif ini menegaskan peran strategis digitalisasi dalam menopang stabilitas dan efisiensi sistem keuangan nasional.
“Volume transaksi pembayaran digital mencapai 14,26 miliar transaksi atau tumbuh 39,21 persen (yoy) pada Kuartal IV-2025,” kata Perry dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Rabu (21/1).
Perry menjelaskan, pertumbuhan transaksi digital tersebut terutama didorong oleh meningkatnya penggunaan berbagai kanal pembayaran berbasis teknologi.
Aplikasi mobile banking dan internet banking masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan sehari-hari, baik untuk kebutuhan konsumsi, pembayaran tagihan, maupun transfer dana.
“Volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh 12,10 persen (yoy) dan 15,10 persen (yoy),” ujar Perry.
Selain mobile dan internet banking, akselerasi transaksi digital juga ditopang oleh lonjakan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Sistem pembayaran berbasis kode QR ini kembali mencatat pertumbuhan yang sangat tinggi dan menjadi salah satu pendorong utama peningkatan transaksi non-tunai di Indonesia.
Menurut Perry, transaksi QRIS pada Kuartal IV-2025 tumbuh hingga 139,99 persen (yoy), mencerminkan semakin luasnya penerimaan QRIS di berbagai sektor ekonomi.
Mulai dari ritel modern, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga layanan publik, QRIS semakin diandalkan sebagai metode pembayaran yang praktis, cepat, dan efisien.
Dia membeberkan bahwa kinerja positif transaksi QRIS sejalan dengan terus meningkatnya jumlah pengguna dan merchant yang tergabung dalam ekosistem pembayaran digital nasional.
Perluasan adopsi QRIS tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga merambah ke daerah-daerah, sehingga mendorong inklusi keuangan yang lebih merata.
Perry menegaskan bahwa penguatan dan perluasan ekosistem QRIS merupakan salah satu motor utama dalam akselerasi ekonomi digital Indonesia.
BI bersama para pemangku kepentingan terus mendorong optimalisasi QRIS agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Dari sisi infrastruktur sistem pembayaran, BI juga mencatat kinerja yang solid pada layanan transfer dana ritel.
Volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 1.358,65 juta transaksi pada Kuartal IV-2025. Angka ini tumbuh 30,44 persen (yoy), dengan nilai transaksi mencapai Rp3.442,26 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa BI-FAST semakin dipercaya sebagai sarana transfer dana yang cepat, aman, dan berbiaya rendah. Layanan ini kini menjadi tulang punggung transaksi ritel antarbank, baik untuk kebutuhan individu maupun pelaku usaha.
Sementara itu, transaksi bernilai besar yang diproses melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) juga menunjukkan pertumbuhan positif.
Pada Kuartal IV-2025, BI-RTGS mencatat sebanyak 2,88 juta transaksi atau tumbuh 3,82 persen (yoy), dengan total nilai transaksi mencapai Rp65.069,78 triliun.
Pertumbuhan transaksi melalui BI-RTGS mencerminkan masih kuatnya aktivitas ekonomi berskala besar, termasuk transaksi antarbank, korporasi, dan lembaga keuangan. Sistem ini tetap memainkan peran vital dalam menjaga kelancaran dan stabilitas sistem keuangan nasional.
Di tengah pesatnya pertumbuhan transaksi non-tunai, Bank Indonesia juga mencatat perkembangan dari sisi pengelolaan uang Rupiah. Perry menyampaikan bahwa Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid.
“Dari sisi pengelolaan uang Rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 12,90 persen (yoy) menjadi Rp1.359,94 triliun pada Kuartal IV-2025,” pungkas Perry.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun pembayaran digital terus berkembang pesat, kebutuhan terhadap uang tunai masih tetap ada, terutama untuk mendukung aktivitas ekonomi di berbagai lapisan masyarakat.
Bank Indonesia memastikan ketersediaan uang Rupiah yang cukup, layak edar, dan sesuai dengan kebutuhan nasional.
Secara keseluruhan, kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Kuartal IV-2025 menegaskan bahwa Indonesia berada pada jalur yang kuat dalam pengembangan ekonomi digital.
Kombinasi pertumbuhan pembayaran digital, ekspansi QRIS, optimalisasi BI-FAST, serta stabilitas sistem pembayaran bernilai besar menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan ke depan.